PONTIANAK POST – Senyum bahagia nampak menghiasi wajah masyarakat Desa Sungai Enau, Kecamatan Kuala Mandor B, Kubu Raya. Setelah penantian panjang, Jembatan Gantung Munggu Emas akhirnya diresmikan, Minggu (21/9. Jembatan yang menjadi impian masyarakat itu kini resmi bisa dilintasi pejalan kaki, sepeda motor, hingga ambulans.
Peresmian dilakukan langsung Bupati Kubu Raya Sujiwo, bersama Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie. Kehadiran jembatan ini bukan hanya soal infrastruktur semata, melainkan juga simbol keterhubungan antarwilayah dan terbukanya akses baru bagi warga.
“Setelah diserahterimakan dan diresmikan, jembatan ini sudah bisa dipergunakan. Tolong dijaga dan dirawat, jangan sampai baut-baut atau komponen jembatan lainnya ada yang mengambil karena dapat membahayakan,” pesan Sujiwo usai peresemian jembatan.
Meski lega dengan selesainya pembangunan jembatan, Sujiwo mengingatkan pekerjaan rumah belum tuntas. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan memprioritaskan perbaikan jalan akses sepanjang 500 meter di ujung Desa Sungai Enau. Pengerjaan ditargetkan dimulai pada Oktober 2025.
“Saya berharap masyarakat terus mendukung pemerintah daerah dalam upaya percepatan pembangunan, terutama mewujudkan jalan poros dari Kuala Mandor B menuju Sungai Enau,” tegasnya.
Sujiwo juga menyampaikan terima kasih kepada Syarif Abdullah Alkadrie yang konsisten mendorong pembangunan infrastruktur di Kubu Raya. Dia menegaskan, sinergi pemerintah daerah dengan DPR RI maupun pusat sangat penting. Bahkan, saat ini dirinya tengah mengawal Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan estimasi bantuan mencapai Rp40 miliar untuk Kubu Raya pada tahun depan.
“Mohon doa dan dukungan masyarakat Kabupaten Kubu Raya, mudah-mudahan sinyal positif ini bisa terealisasi. Masih banyak program yang nantinya akan kita sinergikan bersama beliau demi kepentingan masyarakat,” ucap Sujiwo.
Hal senada diutarakan Syarif Abdullah Alkadrie yang mengingatkan masyarakat agar tidak menyalahgunakan fungsi jembatan. Jembatan gantung ini, kata dia, hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, motor, dan ambulans, bukan untuk angkutan berat hasil perkebunan.
“Jangan sampai mengangkut hasil sawit melalui jembatan ini. Yang sudah dibangun tolong dijaga dan dirawat,” pesan Syarif Abdullah Alqadrie.
Dia juga berterima kasih kepada masyarakat setempat yang dengan sukarela menghibahkan tanah demi terwujudnya pembangunan. Syarif Abdullah pun menekankan pentingnya kekompakan masyarakat.
“Dalam pembangunan infrastruktur, yang terpenting adalah berkeadilan. Saya bersama anggota dewan lain di Komisi V terus memperjuangkan pembangunan di Kubu Raya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Pembangunan Jalan Nasional Kalimantan Barat Chandra Syah Permance, yang turut hadir menjelaskan detail teknis pembangunan. Jembatan Munggu Emas dibangun menggunakan skema multiyears dengan kontrak dua tahun sejak November 2024.
“Waktu efektif pengerjaannya sekitar delapan bulan, lebih lama dari normalnya yakni enam bulan, karena pondasi harus sedalam 30 meter,” jelas Chandra.
Proyek ini sepenuhnya dibiayai APBN. Dengan bentang 120 meter dan lebar 1,8 meter, jembatan didesain tipe rigid yang lebih stabil dan nyaman dibandingkan tipe sebelumnya. Tinggi lantai jembatan dari permukaan air banjir mencapai 4,5 meter, sehingga kapal pengangkut sawit bisa melintas dengan aman. “Hal ini sudah dikoordinasikan dengan semua pihak terkait, termasuk para pemilik kapal,” ucap Chandra. (ash)
Editor : Hanif