Rudi Hartono, pemuda Sungai Kupah, berhasil mengubah pesisir yang dulu hampir hilang karena abrasi, menjadi ekowisata mangrove yang berdaya dan lestari. Lewat inovasi digital dan pelibatan masyarakat, ia menanam harapan baru bagi lingkungan dan ekonomi desa.
ARISTONO, Sungai Kupah
DI tepian muara Sungai Kapuas, yang menghadap Selat Karimata, suara desir ombak berpadu dengan rimbun bakau yang melambai. Di sinilah letak kawasan ekowisata Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Di antara akar-akar yang menancap kuat di lumpur, tampal seorang pria berkaus lusuh menunduk menanam bibit mangrove. Ia adalah Rudi Hartono (30 tahun), lebih dikenal warga setempat dengan nama Rudi Baco’.
“Karena banyak nama Rudi di sini, jadi untuk membedakan dengan yang lain, saya dikasih nama Rudi Baco'. Baco' itu panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Bugis, karena saya keturunan Bugis” ujarnya kepada Pontianak Post.
Lahir di Sungai Kupah pada 6 Februari 1995, Rudi tumbuh bersama alam pesisir. Di usianya yang masih muda, kepedulian terhadap sumber daya alam di tanah kelahirannya sudah tertanam kuat.
“Kami punya potensi besar di sini. Kalau dijaga dengan baik, bisa jadi sumber kehidupan,” ujarnya.
Kini, Rudi menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Kupah. Sejak 2012, ia juga aktif sebagai pemuda pelopor.
Pada 2017, ia tersadar pantai tempatnya bermain mulai terkikis oleh abrasi laut. Hal itu membuat Rudi tergugah, karena jika dibiarkan, abrasi akan menghilangkan sumber daya alam dan mata pencaharian nelayan di desanya.
Ia kemudian mulai merintis pengembangan hutan bakau di sana. Belakangan, agar lebih bernilai jual dan menarik perhatian pemerintah dan pihak lainnya, ia dan timnya sekalian membangun kawasan wisata, yang kemudian diberi nama Desa Wisata Mangrove Telok Berdiri.
Bersama masyarakat, ia memberdayakan ibu-ibu untuk membuat wadah tanam dari daun nipah sebagai pengganti polibag, sekaligus mengolah hasil laut seperti abon ikan dan kue stik udang.
Inovasi Rudi tak berhenti di situ. Ia menciptakan sistem penanaman mangrove digital. Wisatawan yang menanam diberi kartu digital untuk memantau pertumbuhan bibit mereka dari jauh.
“Kami ingin setiap pengunjung merasa punya tanggung jawab terhadap pohon yang mereka tanam. Ini bukan sekadar wisata, tapi juga pendidikan lingkungan,” katanya.
Ketekunan dan cintanya terhadap alam berbuah manis. Pada 2022, Rudi meraih Penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
“Saya tidak pernah menyangka akan mendapat Kalpataru. Semua ini berkat kerja keras bersama warga dan pemuda Sungai Kupah,” ujar Rudi dengan nada rendah hati.
Ia mengenang, perjalanan itu tidak mudah. “Saya pernah diolok, dibully. Orang bilang, siapa yang mau datang ke sini? Jalannya saja jelek, jauh dari kota. Tapi kami tetap jalan,” tuturnya.
Ia sempat sakit hati, dan ingin berhenti lantaran usahanya malah tidak mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.
“Tapi saya pikir, ini lah justru tantangannya. Bagaimana orang luar mau mendukung, kalau kita tidak kompak. Saya harus menyadarkan orang-orang terdekat dulu, agar kompak. Jadi saya dan beberapa teman jalan saja dulu,” ungkapnya.
Semangat dan kerja kerasnya akhirnya membuat warga lainnya terkesan dan mau mendukung. Kini, kawasan yang dulu diremehkan itu menjadi Ekowisata Mangrove Telok Berdiri seluas 15 hektare.
Kawasan ini menjadi tempat belajar ekologi, konservasi, sekaligus ekonomi kreatif. Bahkan Sandiaga Uno, saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dua tahun silam, bertandang langsung ke sini.
Di sini, setiap akhir pekan, ratusan wisatawan datang menyusuri jembatan kayu selebar satu meter, mengamati bekantan, elang laut, dan burung raja udang, sambil menikmati udara laut sambil berfoto. Desa Sungai Kupah kini dikenal sebagai contoh sukses pengembangan wisata hijau berbasis masyarakat.
Kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga
Perjalanan Rudi dan para pemuda Sungai Kupah menarik perhatian berbagai pihak. Salah satunya PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Supadio.
Melalui program CSR bertajuk Destana Patra Berdikari, Pertamina menghadirkan pendampingan teknis dan pemberdayaan berbasis inovasi digital untuk memperkuat upaya konservasi mangrove yang telah dimulai Rudi.
Desa Sungai Kupah pun menjadi lokasi binaan Destana Patra Berdikari. Program ini berfokus pada dua hal: pelestarian lingkungan dan pengelolaan limbah desa. “Kami berupaya mengubah limbah menjadi berkah,” tutur Rudi.
Bersama timnya, ia mengembangkan teknologi pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat dan paving block ramah lingkungan. Produk-produk ini tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem restorasi mangrove.
Pertamina, melalui AFT Supadio, memfasilitasi pengembangan ide ini agar lebih berdampak luas. Salah satu hasil kolaborasi yang paling inovatif adalah lahirnya platform digital “Mangrove Digital” (mangrovedigital.org). Sebuah terobosan yang menghubungkan individu, komunitas, dan perusahaan dalam aksi nyata konservasi mangrove secara daring.
Melalui platform tersebut, masyarakat dapat “mengadopsi” bibit mangrove dengan biaya mulai Rp5.000 per pohon, serta memantau pertumbuhannya secara transparan.
Menanam Harapan Lewat Teknologi
Platform Mangrove Digital yang diinisiasi Rudi kini menjadi ruang gotong royong modern: antara pegiat lokal, masyarakat, dan dunia usaha. Dengan sistem data terbuka, lokasi penanaman, jumlah bibit, hingga tingkat kelangsungan hidup mangrove dapat diakses secara real time.
“Inilah cara baru menjaga bumi dengan keterlibatan semua pihak,” kata Rudi.
Pertamina Patra Niaga melihat potensi ini bukan sekadar proyek lingkungan, tapi juga fondasi pembangunan berkelanjutan. “Kami sangat mendukung inovasi seperti Mangrove Digital karena sejalan dengan visi kami berkontribusi aktif pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Edi Mangun, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mempercepat restorasi ekosistem sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga pesisir,” lanjutnya.
Program Destana Patra Berdikari dan kolaborasi Mangrove Digital menjadi bagian dari kontribusi Pertamina terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 13 (Action on Climate Change) dan SDG 14 (Life Below Water). Dengan dukungan teknologi dan keterlibatan warga, Pertamina berharap mampu menghadirkan model konservasi yang replikatif di berbagai daerah pesisir Indonesia. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro