PONTIANAK POST – Kemunculan seekor buaya berukuran besar di sekitar permukiman warga Desa Sungai Besar, Kecamatan Batu Ampar, kembali membuat masyarakat resah.
Camat Batu Ampar, Alfian, memastikan pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan mengerahkan tim gabungan untuk melakukan peninjauan dan upaya penangkapan terhadap buaya yang diperkirakan memiliki panjang sekitar tiga meter tersebut.
“Kemarin kami menerima laporan dari masyarakat mengenai keberadaan buaya di Desa Sungai Besar. Buaya ini sudah berada di wilayah pemukiman dan mulai meresahkan warga,” ujar Alfian kepada Pontianak Post, Rabu (3/12) di Sungai Raya.
Setelah menerima laporan, pihak Kecamatan Batu Ampar segera mengirimkan surat resmi kepada Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya, serta tim relawan. Informasi tersebut juga telah disampaikan kepada Bupati dan Wakil Bupati Kubu Raya. “Bapak Bupati langsung menginstruksikan BPBD untuk segera meninjau lokasi,” kata Alfian.
Menindaklanjuti instruksi tersebut, pada Selasa (2/12) sore tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kubu Raya, BPSPL, pihak kecamatan, Posko Koramil, serta Relawan Padang Tikar langsung turun ke lokasi. Mereka memastikan bahwa buaya tersebut benar berada di sekitar permukiman warga.
Namun, upaya penangkapan belum berhasil. Buaya terlihat berada cukup jauh di area pantai sehingga sulit dijangkau.
“Sore kemarin posisinya jauh di pantai, sehingga belum berhasil ditangkap. Malam harinya sekitar jam delapan, tim mencoba turun lagi, tetapi karena bulan purnama dan kondisi remang-remang, buaya tersebut kabur,” jelas Alfian.
Pencarian kembali dilakukan pada Rabu (3/12) dini hari. Akan tetapi, buaya tersebut kembali luput karena bersembunyi di bawah rimbunan pohon bakau.
“Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ke depan bisa ditemukan. Keberadaan buaya ini sudah meresahkan masyarakat,” ujarnya.
Alfian menambahkan, laporan keberadaan buaya tidak hanya datang dari Desa Sungai Besar. Warga di beberapa lokasi lain di Kecamatan Batu Ampar juga mengaku melihat kemunculan satwa liar tersebut.
“Di Padang Tikar 1 dan Medan Mas juga ada laporan. Bahkan di Padang Tikar 1, beberapa bulan lalu sudah terjadi insiden yang mengakibatkan adanya korban,” ungkapnya.
Alfian menduga meningkatnya kemunculan buaya di sekitar permukiman berkaitan dengan terganggunya habitat alami satwa tersebut. “Sepertinya habitat buaya mulai terganggu, mungkin karena kondisi hutan atau perubahan iklim,” kata Alfian.
Di tengah pencarian yang masih berlangsung, Alfian mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di tepi sungai pada malam hari. Ia juga meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri, terlebih memburu atau membunuh buaya tersebut.
Dia memperkirakan buaya tersebut sudah bertahun-tahun berada di kawasan tersebut. Jika sebelumnya tidak banyak menimbulkan gangguan, kini satwa itu mulai sering masuk ke permukiman dan menimbulkan kecemasan bagi warga.
“Buaya adalah satwa dilindungi. Tim gabungan datang untuk menangkapnya hidup-hidup dan akan dibawa ke Pontianak untuk diamankan,” tegasnya, seraya mengatakan pihak pemerintah kecamatan memastikan proses pencarian akan terus dilakukan hingga buaya berhasil diamankan demi menjaga keselamatan masyarakat Batu Ampar. (ash)
Editor : Miftahul Khair