Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kalbar Masuki Fase Jeda Hujan, BMKG Peringatkan Potensi Karhutla Tinggi

Ashri Isnaini • Rabu, 21 Januari 2026 | 11:39 WIB
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno.

PONTIANAK POST – Wilayah Kalimantan Barat diperkirakan masih akan mengalami kondisi tanpa potensi hujan hingga sepekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio menilai situasi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut seperti di Kabupaten Kubu Raya.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda terbentuknya hujan di sebagian besar wilayah Kalbar.

“Dalam satu minggu terakhir hingga hari ini, titik panas tercatat paling tinggi berada di Kabupaten Kubu Raya. Selain itu, hotspot juga terpantau di Bengkayang, Landak, Ketapang, dan Mempawah. Secara umum, kondisi ini merata di Kalimantan Barat karena memang belum ada potensi curah hujan hingga sekitar tanggal 27,” kata Sutikno kepada wartawan, Selasa (20/1) di Sungai Raya.

Dia menjelaskan, berdasarkan analisis BMKG, dalam tujuh hari ke depan belum terdapat indikasi hujan yang signifikan. Kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor meteorologis, di antaranya kecepatan angin yang berada di atas rata-rata, rendahnya kandungan uap air di atmosfer, serta adanya sistem tekanan rendah di wilayah utara dan selatan Indonesia.

“Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan di Kalbar menjadi sulit. Akibatnya, cuaca menjadi lebih kering dan sangat rawan memicu kebakaran lahan,” jelasnya.

Sutikno menegaskan, kondisi atmosfer saat ini tergolong berbahaya karena lahan menjadi sangat mudah terbakar. Dengan hembusan angin yang cukup kencang dan kelembapan udara yang rendah, api dapat dengan cepat menyebar apabila terjadi pembakaran.

“Dalam satu minggu ke depan peta potensi itu terlihat merah. Artinya, kewaspadaan harus ditingkatkan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran dalam bentuk apa pun. Sedikit saja api tersulut, dampaknya bisa fatal, apalagi jika merembet ke wilayah gambut,” katanya.

Selain potensi karhutla, BMKG Supadio lanjut Sutikno juga mencatat adanya penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten Kubu Raya. Berdasarkan alat pemantau kualitas udara yang terpasang di sekitar Jalan Adi Sucipto, kualitas udara pada malam hingga dini hari tercatat berada pada kategori kurang sehat.

“Pada malam hari dan dini hari, sekitar pukul 20.00 WIB hingga menjelang pagi, kualitas udara mulai masuk kategori kurang sehat. Sementara pada siang hari, kondisinya relatif lebih baik karena adanya proses penguapan,” ungkap Sutikno.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.

“Jika masyarakat mencium bau asap atau merasa udara kurang nyaman, sebaiknya menggunakan masker. Indikasi penurunan kualitas udara ini memang sudah mulai terdeteksi,” ujarnya.

Sutikno menyebutkan, berdasarkan data satelit terbaru, jumlah titik panas di Kabupaten Kubu Raya mencapai sekitar 42 titik, menjadikannya wilayah dengan hotspot terbanyak di Kalbar saat ini. Data tersebut diperoleh dari pantauan satelit hingga dini hari dan akan kembali dievaluasi pada pembaruan data berikutnya.

“Titik panas itu terpantau hingga dini hari tadi. Nantinya akan kami perbarui lagi berdasarkan data satelit sore hari,”  jelasnya.

Ditanya mengenai musim, Sutikno menegaskan Kalbar saat ini belum memasuki musim kemarau. Kondisi yang terjadi saat ini, katanya dikategorikan sebagai jeda hujan, yakni periode berkurangnya atau berhentinya hujan sementara waktu.

“Ini belum masuk musim kemarau. Kami menyebutnya jeda hujan. Di Kalbar, karakteristik cuacanya memang seperti itu, ada periode jeda hujan,” jelasnya.

Dia menambahkan, secara klimatologis, musim kemarau baru dapat ditetapkan apabila suatu wilayah mengalami 30 hari berturut-turut tanpa hujan. Sementara saat ini, Kalbar baru mencatat sekitar 11 hari tanpa hujan.

“Bahasa masyarakat sering menyebut panas sedikit sudah kemarau. Padahal, kemarau itu terkait musim. Jadi saat ini belum kemarau, melainkan jedah hujan dengan intensitas hujan yang menurun,” tutup Sutikno. (ash)

Editor : Hanif
#kebakaran #kalbar #bmkg #karhutla #hutan