Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dinkes Kubu Raya Antisipasi Lonjakan ISPA Akibat Karhutla, Imbau Warga Gunakan Masker

Ashri Isnaini • Kamis, 22 Januari 2026 | 12:37 WIB

 

Wan Iwansyah
Wan Iwansyah

PONTIANAK POST — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Kubu Raya beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada penurunan kualitas udara, terutama pada malam hingga dini hari. Kondisi ini terdeteksi dari hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan berdasarkan alat pemantau kualitas udara yang terpasang di sekitar Jalan Adi Sucipto, kualitas udara di wilayah Kubu Raya pada malam hari tercatat berada pada kategori kurang sehat.

“Pada malam hingga dini hari, sekitar pukul 20.00 WIB sampai menjelang pagi, kualitas udara mulai masuk kategori kurang sehat. Sedangkan pada siang hari relatif lebih baik karena adanya proses penguapan,” ujar Sutikno kepada wartawan, Rabu (21/1), di Sungai Raya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan pada malam hari.

“Jika masyarakat mulai mencium bau asap atau merasa udara tidak nyaman, sebaiknya menggunakan masker. Indikasi penurunan kualitas udara ini memang sudah mulai terdeteksi,” imbaunya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi turunnya kualitas udara akibat Karhutla, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kubu Raya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kesehatan, terutama meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan paparan asap Karhutla berisiko memicu gangguan pernapasan, khususnya pada kelompok rentan. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan tiga strategi utama guna mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus ISPA di masyarakat.

“Penurunan kualitas udara memang berdampak langsung terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan. Karena itu, kami menyiapkan langkah-langkah antisipatif agar dampaknya bisa diminimalisir,” ujar Wan Iwansyah kepada Pontianak Post, Rabu (21/1), di Sungai Raya.

Strategi pertama yang dilakukan yaitu, upaya preventif melalui penyuluhan kepada masyarakat. Dinkes katanya, mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kabut asap dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta membatasi kegiatan luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.

Strategi kedua adalah penerapan sistem peringatan dini (early warning system) melalui pemantauan rutin terhadap potensi peningkatan kasus ISPA. Pemantauan dilakukan dengan mengolah dan menganalisis data kesehatan yang dilaporkan seluruh Puskesmas di Kubu Raya.

“Data dari Puskesmas kami pantau secara berkala untuk mendeteksi sejak dini apabila ada kecenderungan peningkatan kasus ISPA,” jelasnya.

Strategi ketiga yakni penguatan layanan kesehatan. Dinkes memastikan ketersediaan obat-obatan, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) seperti oksigen, serta kesiapsiagaan tenaga kesehatan di seluruh Puskesmas untuk menangani pasien terdampak kabut asap.

Meski demikian, Wan Iwansyah menyebut hingga saat ini peningkatan kasus ISPA masih belum signifikan. Namun, pengawasan tetap diperketat, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, serta masyarakat dengan penyakit penyerta seperti asma dan tuberkulosis (TBC) paru.

“Kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan karena dampak Karhutla bisa berkembang sewaktu-waktu, terutama jika kualitas udara terus mengalami penurunan,” pungkasnya. (ash)

Editor : Hanif
#ispa #kurang sehat #langkah preventif #karhutla #kualitas udara #kubu raya