Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Karhutla Kembali Melanda Kubu Raya, Bupati Sujiwo Pastikan Anggaran Penanggulangan Penuh

Ashri Isnaini • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:23 WIB
PADAMKAN: Petugas gabungan memadamkan kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya saat jeda hujan memicu lonjakan titik api dan penurunan kualitas udara di Kalimantan Barat.
PADAMKAN: Petugas gabungan memadamkan kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya saat jeda hujan memicu lonjakan titik api dan penurunan kualitas udara di Kalimantan Barat.

PONTIANAK POST – Jeda hujan yang berlangsung lebih dari sepekan membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Kalimantan Barat. Lonjakan titik api, penurunan kualitas udara, serta ancaman dampak kesehatan memaksa pemerintah daerah hingga aparat keamanan meningkatkan status siaga, dengan Kabupaten Kubu Raya muncul sebagai wilayah paling terdampak.

Dalam beberapa hari terakhir, laporan masyarakat terkait kebakaran lahan meningkat tajam, seiring bertambahnya jumlah hotspot di sejumlah kecamatan. Data pemantauan menunjukkan, titik api di Kubu Raya melonjak signifikan, menjadikan daerah penyangga Ibu Kota Provinsi Kalbar itu sebagai episentrum karhutla saat ini.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, mengakui kondisi tersebut tidak bisa dipandang ringan. Sejak 14 Januari lalu, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah menetapkan status siaga darurat karhutla sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman kebakaran yang sulit dihindari di tengah cuaca kering.

“Karhutla memang tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Tapi sejak 14 Januari kita sudah menetapkan siaga darurat, dilanjutkan apel kesiapsiagaan. Ini ikhtiar kita, mulai dari pencegahan sampai penanggulangan,” ujar Sujiwo kepada Pontianak Post, Kamis (22/1), di Sungai Raya.

Pemantauan terakhir menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Jika sebelumnya jumlah titik api di Kubu Raya berada di kisaran 20 titik, hingga Kamis (22/1) angka tersebut melonjak menjadi 58 titik api. Peningkatan ini terjadi hampir bersamaan dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah kawasan, terutama pada malam hingga dini hari.

Situasi di lapangan mendorong Sujiwo menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya untuk bertindak sebagai komandan lapangan yang solid dan mampu mengoordinasikan seluruh unsur secara terpadu. Kolaborasi lintas sektor, menurutnya, menjadi kunci menahan laju karhutla agar tidak meluas.

“Saya minta kolaborasi betul-betul dijalankan. TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga damkar swasta harus berbagi tugas dan bekerja bersama,” tegasnya.

Di tingkat provinsi, BPBD Kalimantan Barat juga meningkatkan kewaspadaan. Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan pengawasan diperketat di wilayah-wilayah dengan riwayat karhutla berulang, terutama Kubu Raya dan sekitarnya.

“Dari sisi personel dan peralatan kami tetap siaga. Menghadapi 11 jenis bencana yang kerap terjadi di Kalbar, BPBD tetap siap,” kata Daniel di Pontianak, Kamis (22/1).

Ia menjelaskan, potensi karhutla terdeteksi melalui patroli rutin di lapangan, pemantauan informasi, serta laporan masyarakat, termasuk dari media sosial. Deteksi dini dan respons cepat menjadi prioritas utama setiap kali ditemukan titik api, khususnya di kawasan rawan berulang dan lahan gambut.

BPBD Kalbar juga memperkuat koordinasi lintas sektor setiap kali menerima peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut segera diteruskan ke BPBD kabupaten/kota untuk mempercepat langkah antisipasi dan penanganan di lapangan.

“Begitu ada peringatan dini dari BMKG, kami langsung berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, dan instansi terkait agar penanganan bisa cepat,” ujarnya.

Lonjakan karhutla di Kubu Raya turut berdampak langsung pada kualitas udara. Data BMKG mencatat peningkatan konsentrasi partikulat halus (PM2,5) hingga level yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Pada Kamis (22/1) pagi, kualitas udara di sejumlah titik di Kubu Raya terpantau memburuk, seiring aktivitas kebakaran lahan yang meluas.

Merespons kondisi tersebut, aparat kepolisian memperketat patroli dan operasi pemadaman. Kapolres Kubu Raya AKBP Kadek Ary Mahardika melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade menyampaikan bahwa Tim Siaga Karhutla bekerja tanpa henti untuk menjinakkan api di berbagai lokasi.

“Pemadaman dan pendinginan masih berlangsung di Kecamatan Sungai Raya, Kuala Mandor B, Rasau Jaya, hingga Sungai Kakap,” kata Ade.

Ia menambahkan, titik api juga terpantau di Sungai Ambawang, Kubu, Batu Ampar, hingga Teluk Pakedai. Tantangan utama di lapangan adalah medan yang sulit dijangkau serta kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan sumber daya besar.

Meski demikian, aparat menegaskan upaya pemadaman akan terus dilakukan demi mencegah api merembet ke permukiman dan menekan dampak kesehatan akibat asap. Kepolisian juga mengingatkan bahwa pembakaran hutan dan lahan merupakan tindak pidana serius.

“Membakar hutan dan lahan adalah pelanggaran hukum. Kami tidak akan mentoleransi perbuatan yang merugikan kepentingan publik dan kesehatan masyarakat,” tegas Ade.

Dari sisi meteorologi, BMKG Supadio memberikan peringatan bahwa Kalimantan Barat diperkirakan masih berada dalam kondisi tanpa potensi hujan signifikan hingga sekitar sepekan ke depan. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, menyebut Kabupaten Kubu Raya menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak dalam sepekan terakhir.

“Hotspot paling banyak berada di Kubu Raya. Selain itu terpantau di Bengkayang, Landak, Ketapang, dan Mempawah,” ujarnya.

Menurut Sutikno, kondisi atmosfer saat ini tidak mendukung pembentukan awan hujan. Kecepatan angin di atas rata-rata, rendahnya kandungan uap air, serta pengaruh sistem tekanan rendah di utara dan selatan Indonesia membuat cuaca tetap kering dan sangat rawan kebakaran.

“Dalam satu minggu ke depan peta potensi terlihat merah. Artinya kewaspadaan harus ditingkatkan. Sedikit saja api tersulut, dampaknya bisa fatal, apalagi di wilayah gambut,” katanya.

BMKG juga mencatat penurunan kualitas udara, terutama pada malam hingga dini hari di kawasan sekitar Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya, yang masuk kategori kurang sehat. Masyarakat diimbau menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan jika udara terasa tidak nyaman.

Sutikno menegaskan kondisi ini belum masuk musim kemarau, melainkan masih fase jeda hujan. Secara klimatologis, musim kemarau baru ditetapkan jika tidak terjadi hujan selama 30 hari berturut-turut, sementara Kalbar baru mencatat sekitar 11 hari tanpa hujan.

Baca Juga: Kapolres Sambas Ingatkan Jajaran Siapkan Penanganan Karhutla, Maksimalkan Aplikasi Lancang Kuning

Di tengah tekanan kondisi tersebut, Sujiwo menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung penanggulangan karhutla, termasuk dari sisi anggaran. Ia memastikan seluruh kebutuhan di lapangan akan diback up sepenuhnya, bahkan siap menanggung konsekuensi kedinasan maupun pribadi demi kelancaran penanganan.

“Saya tidak ingin melihat para patriot kita yang memadamkan api sampai subuh lalu terlantar. Makan, minum, BBM, semuanya akan kita tanggung 100 persen. Saya juga sedang memikirkan skema honor dan akan dibahas dengan Sekda serta kepala BPKAD,” ujarnya.

Selain penanganan teknis, Pemkab Kubu Raya juga mengeluarkan imbauan kesehatan. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari, serta menggunakan masker untuk meminimalisir dampak buruk asap.

BPBD Kalbar kembali menegaskan penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi semua elemen, termasuk masyarakat, menjadi faktor penentu keberhasilan pencegahan dan penanganan di tengah kondisi cuaca yang masih belum bersahabat.

“BPBD tidak bisa bekerja sendiri. Perlu keterlibatan semua pihak agar karhutla bisa dikendalikan,” pungkas Daniel. (ash)

Editor : Hanif
#Siaga #kalbar #titik api #Hotspot #karhutla #kualitas udara #kubu raya #anggaran