PONTIANAK POST - Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berusia 13 tahun berinisial C ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (22/1).
Di balik peristiwa memilukan itu, polisi menemukan sepucuk surat yang ditulis korban, berisi ungkapan ketakutan, rasa malu, dan permohonan maaf kepada sang ibu.
Dalam surat tersebut, korban mengawali tulisannya dengan permintaan maaf kepada ibunya karena merasa telah mengecewakan keluarga.
Ia mengaku diliputi rasa takut menghadapi hari esok dan enggan kembali ke sekolah lantaran merasa nama baiknya sudah tercoreng.
“Ma maaf ye udah bikin mama kecewe, kite takut ma. C takut besok, C takut ke sekolah karne name C udah jelek kemaren kite di panggil guru same kakak kelas.”
Baca Juga: Siswi MTs di Pontianak Ditemukan Gantung Diri di Rumah, Diduga Karena Depresi Persoalan di Sekolah
Korban menuliskan bahwa dirinya dipanggil guru dan kakak kelas, yang membuatnya semakin tertekan dan merasa malu untuk kembali ke lingkungan sekolah.
Dalam surat itu, ia juga menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan mengakui bahwa cara yang dipilihnya untuk menghadapi masalah tersebut juga keliru.
“Makenye C takut dan malu buat datang ke sekolah lagi. C tau perbuatan itu salah besar dan C tau cara nyelesain masalah ini juga salah besar tapi C nda kuat ngadepinnya,” tulisnya.
Di bagian lain, korban menyampaikan rasa terima kasih kepada sang ibu yang selama ini dinilainya selalu bersikap baik dan mau mendengarkan ceritanya tanpa emosi. Ia juga meminta agar ibunya tidak larut dalam kesedihan.
“Makasi ya ma karna udah jadi ibu yang baik, makasi udah dengerin cerita C tanpa adanya emosi, mama ga perlu sedih, karne C nda pantas disedihkan,” lanjut isi surat tersebut.
Baca Juga: Bunuh Diri Bisa Dicegah selama Mampu Terdeteksi Dini oleh Orang Terdekat
Menjelang akhir surat, korban menuliskan harapan agar keluarganya tetap bahagia dan meminta agar peristiwa ini tidak diramaikan serta tidak melibatkan aparat penegak hukum.
“C cuman minta keluarge ini tetap bahagia ye. Tolong masalah ini jangan diramekan C cuman pengen dikuburin dengan layak jangan sampai masalah ini ngelibatin polisi dll.”
Kapolsek Sungai Kakap, Ipda Dollas Zimmi Saputra Nainggolan, menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap latar belakang kejadian secara menyeluruh.
“Benar, kejadian tersebut terjadi pada Kamis lalu di rumah korban. Saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (27/1).
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap, Ipda Adrianus Ari, mengatakan pihaknya belum menyimpulkan penyebab pasti kematian korban. Dugaan sementara mengarah pada tekanan psikologis yang dialami korban, khususnya terkait persoalan di lingkungan sekolah.
“Informasi sementara, korban diduga mengalami tekanan karena masalah di sekolah. Namun semua masih kami selidiki lebih lanjut,” tegasnya.
Petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa sejumlah saksi, termasuk ibu dan abang korban. Berdasarkan keterangan keluarga, korban sempat menunjukkan perubahan sikap pada malam sebelum kejadian.
Hingga kini, keluarga korban memilih untuk tidak memberikan keterangan lebih lanjut kepada media dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada pihak kepolisian. (*)
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja, terutama di lingkungan pendidikan. (*)
Editor : Miftahul Khair