Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perayaan Imlek 2577 di Bundaran Gaforaya Kubu Raya Tegaskan Persatuan dan Keberagaman

Ashri Isnaini • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:23 WIB

 

PERAYAAN IMLEK: Kehadiran Bupati Sujiwo, Wabup Sukiryanto, Sekda Yusran Anizam, dan tokoh masyarakat dalam perayaan Imlek 2577 di Tugu Benteng Mangrove Bundaran Gaforaya serta Vihara
PERAYAAN IMLEK: Kehadiran Bupati Sujiwo, Wabup Sukiryanto, Sekda Yusran Anizam, dan tokoh masyarakat dalam perayaan Imlek 2577 di Tugu Benteng Mangrove Bundaran Gaforaya serta Vihara

PONTIANAK POST - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Tugu Benteng Mangrove Bundaran Gaforaya, Senin (16/2) malam, menjadi panggung kebersamaan lintas etnis dan agama. Atraksi barongsai, naga, hingga pesta kembang api menyemarakkan malam, sekaligus mempertegas harmoni yang terjaga di Kabupaten Kubu Raya.

Ribuan warga dari berbagai latar belakang memadati kawasan tersebut. Perayaan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarat pesan kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kubu Raya.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo menegaskan Bundaran Gaforaya merupakan ruang publik milik bersama yang dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan.

“Bundaran Gaforaya atau Tugu Benteng Mangrove ini miliknya publik, miliknya masyarakat umum. Semua boleh menggunakan Bundaran Gaforaya, termasuk malam ini sahabat-saudara kita warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek,” ujar Sujiwo.

Dia menilai, momentum Imlek yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan menjadi simbol kuat kolaborasi dan harmoni antarumat beragama.

“Perbedaan dan keberagaman harus menjadi potensi kekuatan untuk membangun bangsa ini. Bangsa ini sudah sangat lama hidup harmonis dan rukun,” katanya.

Dia menegaskan, dalam kondisi apa pun masyarakat tidak boleh terpecah belah. Persatuan, lanjutnya, merupakan modal utama dalam pembangunan.

“Sebanyak apa pun anggaran suatu negara, ketika rakyatnya tidak bersatu, maka anggaran itu tidak akan bermanfaat secara maksimal,” tegasnya.

Senada, Wakil Bupati Kubu Raya, Sukiryanto mengajak masyarakat terus menjaga kebersamaan di tengah keberagaman. Ia mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek ke-2577 kepada warga Tionghoa di Kabupaten Kubu Raya.

“Kami mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek ke-2577. Mudah-mudahan masyarakat selalu mendapat berkah, aman, sehat, dan sukses dalam usahanya,” ucap Sukiryanto.

Sukiryanto menekankan Kubu Raya dihuni beragam etnis yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan. Sedikitnya terdapat 17 etnis yang tergabung dalam Paguyuban Merah Putih tingkat kabupaten, sementara di Kalimantan Barat secara umum terdapat sekitar 24 etnis.

“Tidak ada suku atau etnis yang lebih baik dari yang lain. Semua suku itu baik. Kalaupun ada kekurangan, itu hanya oknum dan hal yang wajar sebagai manusia,” katanya.

Sukiryanto berharap perayaan Imlek di Bundaran Gaforaya dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat ruang kebersamaan. Infrastruktur kawasan tersebut dibangun sebagai kebanggaan bersama warga Kubu Raya.

Selain menjadi pusat kegiatan budaya, kawasan Bundaran Gaforaya juga merepresentasikan kekayaan alam daerah melalui ikon mangrove yang menjadi identitas Kubu Raya. “Ini menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara keberagaman budaya dan lingkungan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sujiwo bersama Sukiryanto juga menghadiri puncak perayaan Imlek 2577 Kongzili di halaman Vihara Tri Dharma Hian Tian Siang Tie, Kecamatan Sungai Kakap.

Dalam kesempatan itu, Sujiwo menegaskan komitmennya menjaga heterogenitas di Kabupaten Kubu Raya. Ia menyebut dirinya sebagai orang tua yang wajib mengayomi seluruh umat beragama dan etnis.

“Kita Indonesia ada enam agama. Di Kubu Raya semua ada, mulai Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Artinya, saya sebagai bupati wajib menjadi orang tuanya semua umat beragama dan semua etnis,” tegasnya.

Sujiwo menyebut perbedaan sebagai anugerah yang tidak boleh dijadikan bahan perdebatan. Keharmonisan yang telah terbangun harus terus dijaga dengan semangat toleransi dan saling menghargai.

“Saya baru saja ikut pawai obor menyambut Ramadan bersama masyarakat muslim. Tapi ketika diundang ke perayaan Imlek, saya juga hadir dan turut bahagia. Begitu pula saat Natal dan ketika umat Hindu mengundang di pura. Komitmen saya jelas, menjaga keberagaman demi persatuan dan kesatuan,” tutupnya.

Perayaan di Sungai Kakap dipusatkan di vihara yang juga dikenal sebagai Klenteng Hian Thian Shang Tee atau Vihara Buddha Kutub Utara. Ribuan warga memadati kompleks vihara. Sujiwo secara simbolis menyalakan lampion terbesar dalam perayaan tersebut, yang menjadi ikon harapan dan semangat baru di Tahun 2577 Kongzili.

Sementara itu, Kapolres Kubu Raya, AKBP Kadek Ary Mahardika memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan kondusif dengan pengamanan terpadu bersama TNI dan unsur terkait.

“Kita bersyukur, hingga kegiatan selesai situasi tetap aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya. (ash)

Editor : Hanif
#Imlek 2577 #atraksi budaya #cap go meh 2026 #singkawang