Di tengah hiruk pikuk subuh pekat, suara merdu sekelompok anak-anak akan terdengar kembali memecah keheningan. Saling bersahutan, diiringi bunyi-bunyian campuran alat sederhana berupa perkakas rumah tangga.
Dari mulut mereka, kalimat pujian-pujian berlafazkan Alquran menyeruak keluar dan terdengar merdu. Sesekali, lafadz sederhana "Ayo Sahur" juga dikumandangkan secara serentak.
Itulah gambaran gerombolan anak-anak yang di zaman dahulu disebut El-Mesaharaty atau Davulcu atau pasukan pembangun sahur dengan lantunan ayat suci alquran di Kampung Arang, Arang Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya.
Mereka tengah mencari pahala dan akan kembali beroperasi membangunkan puluhan hingga ratusan kepala keluarga agar tidak telat bersantap sahur?
Deny Hamdani, Kubu Raya.
WAKTU baru menunjukkan pukul 02.45 WIB. Namun sejumlah remaja, terdiri dari anak-anak yang tidur di masjid terlihat hilir mudik membawa peralatan perkakas rumah tangga.
Masing-masing dari mereka berdiri sejajar menempatkan diri menjadi dua baris berbeda. Dengan pakaian biasa, sarungan, kopiah, celana panjang cingkrak, semua berbaris rapi.
Setelah semua personel siap dengan alat-alat eks perkakas rumah tangga, semacam ember, ember bekas cat, dandang, kuali bekas dan alat masak bekas pakai. Aksi pun akan kembali dimulai akan di Ramadhan 2026 ini pada pukul 03.00 WIB.
Seorang remaja laki-laki yang badannya agak bongsor dan lebih tua, didapuk menjadi pemberi arahan. Selayaknya pentas drumband, aksi pun dimulai.
Suara bunyi-bunyian perkakas rumah tangga, ketika dibunyikan terdengar merdu, indah dan serentak. Apalagi dibaluti bunyi mulut serentak "Ayo Sahur" ditambah lantunan kalimat puji-pujian kepada Allah SWT dan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Mereka menyusuri sepinya jalan komplek, gang, termasuk bibir jalan besar Adisucipto, yang biasanya siang hari padat kendaraan.
Suara eks perkakas rumah tangga tersebut memecah kesunyian.
Aksi mereka membuat beberapa warga harus keluar rumah untuk sekadar menyaksikan pertunjukan. Sejumlah lagu bangun sahur dan selawat dimainkan di sepanjang jalan yang dilewati mereka.
Perwakilan El-Mesaharaty ini, Fathir menjelaskan bahwa aksi mereka dilakukan untuk membangunkan warga menyiapkan diri melakukan makan sahur.
"Tujuannya membangunkan masyarakat, khususnya ibu-ibu yang masak terlebih dahulu, agar tidak tergesa-gesa nanti pada saat sahur," ucapnya seusai aksi tradisi bangun sahur.
Untuk gebrakan pasukan pembangun sahur ini, rupanya hanya anjuran saja dari pengurus Masjid. Selebihnya kepada kemauan para remaja saja. Sebab, biasanya pos mereka di Masjid/Musholla, tempat biasa mereka tiduran dan membaca alquran selepas sholat Tarawih. Kelompok remaja ini secara dadakan kembali aktif pada Ramadhan 1447 Hijriah ini.
"Hampir mayoritas usia anak-anak sekolah dari yang terkecil hingga terbesar. Mereka dibekali kemampuan membaca Al Quran dan dibekali peralatan sederhana saja," kata Mahmud, pengurus Masjid Radhiyatum Mardiyah ini.
"Untuk pasukan pembangun sahur, sudah kami siapkan. Mereka akan kembali aktif pada Ramadan 1447 Hijriah ini. Hampir mayoritas usia anak-anak sekolah dari yang terkecil hingga terbesar. Mereka dibekali kemampuan membaca Alquran dan dibekali peralatan sederhana saja," katanya kembali.
Menurutnya, memang sudah jadi kebiasaan turun temurun masjid ini sengaja menyiapkan pasukan pembangun sahur. Tujuannya memang membangunkan sahur tetapi dengan bunyi-bunyian merdu diiringi bacaan Alquran.
"Kami selaku pengurus mengambil tradisi tempo dulu dan terus melestarikannya sampai sekarang," kata dia.
Ya, cerita El-Mesaharaty atau Davulcu atau pasukan pembangun sahur dengan ayat-ayat suci Alquran sudah muncul berabad-abad silam di luaran sana. Gelar mereka inspiratif dan kerap terabaikan, namun menjadi sosok penting dalam tradisi Ramadan di berbagai negara termasuk di Indonesia dan Kalimantan Barat.
Dengan keterampilan baca Alquran yang merdu dan kiprah mereka yang berjalan di sepanjang gang-gang kecil, pasukan ini berhasil membangunkan ribuan orang untuk makan sahur dan bersiap-siap untuk memulai puasa.
Tugas sebagai El-Mesaharaty sangat mulia karena menghidupkan semangat umat muslim untuk memulai ibadah puasa. Pasukan pembangun sahur telah menjadi bagian dari tradisi Ramadan di berbagai negara.
Dari negara Mesir, Turki, Suriah, Libanon, Yaman, Arab hingga Indonesia. Asal-usul tradisi ini memang masih diperdebatkan namun beberapa sumber menyebutkan bahwa kebiasaan ini berasal dari Mesir pada abad ke-10.
Di Mesir sendiri, El-Mesaharaty adalah orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional dan membawa drum kecil untuk membangunkan warga setempat bersantap sahur.
Di Turki, El-Mesaharaty dikenal dengan nama Davulcu. Biasanya berjalan mengelilingi kampung sambil memainkan drum besar.
Nah, di negara semacam Suriah, tradisi El-Mesaharaty biasanya melibatkan anak-anak berpakaian tradisional dengan membawa lentera.
Mereka berjalan menyinggahi rumah ke rumah untuk membangunkan warga setempat bersantap sahur.
"Meski memiliki perbedaan dalam tampilan dan cara pelaksanaan, tradisi El-Mesaharaty memiliki makna sama, yaitu menghidupkan semangat umat muslim memulai ibadah puasa dengan membaca ayat-ayat suci Alquran. Kehadiran El-Mesaharaty telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi dan sejarah Ramadan di banyak negara. Mereka juga dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan pantang menyerah sebelum umat muslim sadar dari tidurnya," kata Ustadz Miftah, ulama Kalbar bercerita.
Menurutnya tradisi religi El-Mesaharaty, merupakan momen penting dalam mempererat hubungan sosial dan kebersamaan di antara warga setempat. Selain itu juga bertujuan membantu menghidupkan semangat umat muslim bersantap sahur. El-Mesaharaty juga membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental di bulan Ramadan.
Meski tradisi El-Mesaharaty, telah berlangsung selama ratusan tahun. Tantangan dalam menjaga keberlangsungan tradisi religi ini semakin besar.
Namun, dengan semangat kuat dan tekad tinggi, skuad El-Mesaharaty biasanya akan jalan terus membangunkan warga setempat dan menghidupkan semangat beribadah di bulan Ramadan.
Bahkan di beberapa negara, ucapnya, mengembangkan teknologi membantu tradisi El-Mesaharaty tetap berlangsung. Salah satunya mempergunakan aplikasi yang memungkinkan para pemilik ponsel membunyikan suara merdu menyerupai suara El-Mesaharaty pada waktu-waktu tertentu.
"Tidak dapat dipungkiri pentingnya peran para pembangun sahur dalam tradisi Ramadan dan keberlangsungan tradisi ini di masa depan harus diperhatikan. Para pelestari tradisi harus memikirkan bagaimana cara untuk melestarikan peran penting El-Mesaharaty dan menjaga agar tradisi ini tetap hidup di generasi berikut," kata Miftah.
Nah, lanjutnya, kepada para penikmat santap sahur atau disebut dari berbagai negara dengan nama Sehur, Sehri, Sahari atau Suhoor dalam sejumlah bahasa, bisa menjadi salah satu bagian penting sepanjang bulan Ramadan. Sahur mengacu pada aktivitas makan pada dini hari sebagai persiapan menjalankan ibadah puasa.
"Selama bulan puasa, sahur dan iftar, makan malam, menjadi pengganti jadwal makan tiga kali sehari, yang biasa terjadi di luar bulan Ramadan. Sahur biasa dilakukan pada sepertiga malam dan berakhir saat azan subuh berkumandang. Nah, peranan penting El-Mesaharaty sangat kental di sana," ucap dia.
Mengenai hal tersebut salah satu nas berbunyi, "Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang makan sahur dinukil dari HR. Ahmad," ucapnya.
Di Kampung Arang sebutan masyarakat yang tinggal di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat membangunkan sahur sudah menjadi tradisi Islam. El-Mesaharaty di daerah ini mengacu tidak hanya pada anak-anak saja. Ada peran serta orang dewasa yang berjalan di sekitar suatu daerah sambil menabuh genderang dan melantunkan ayat-ayat suci.
"Hampir sepanjang gang, jalan, desa dan wilayah pasti ada El-Mesaharaty. Namun umumnya terdiri dari anak-anak. Mereka bergembira sekali, pun demikian pada puasa tahun 2023 ini, para El-Mesaharaty sudah disiapkan para pengurus masjid termasuk di Kampung Arang," lanjut Sapardi, pengurus Masjid Radhiyatum Mardiyah yang lain.
Dari ensiklopedia www.emirates247.com menukilkan bahwa El-Mesaharaty sebenarnya sudah dikenal sejak masa Dinasti Abbasiyyah di bawah kepemimpinan Khalifah Al Nasser dari Mesir. Saat itu kiprah pasukan pembangun sahur begitu populer di kalangan anak-anak yang akan mengikuti ke mana El-Mesaharaty berkeliling, walaupun hanya dengan berjalan kaki.
Bahkan kesetiaan anak-anak begitu tinggi. Para bocah akan terus membuntuti para penabuh genderang atau pelantun syair-syair religi sampai selesai berkeliling.
Dalam perjalanan waktu, kebiasaan membangunkan masyarakat muslim bersantap sahur terus berkembang ke wilayah lain.
Ada El-Mesaharaty spesial, berkeliling di jalanan ibu kota Mesir selama Ramadan, sambil melantunkan panggilan puitis. Kata-katanya puitis dengan kalimat-kalimat indah.
"Oh! Barang siapa masih yang tertidur, mari bangun dan berdoa kepada Allah SWT," begitu salah satu bunyi tersebut.
Menariknya, seruan puitis diinisiasi para penguasa Mesir waktu itu, Otbah Ibn Ishaq. Dia menjadi orang pertama melakukan tur di jalanan Kairo selama satu bulan Ramadan. Sungguh sebuah keutamaan seorang pemimpin muslim.
Hanya memang pemandangan tersebut, terus berkembang tidak hanya muncul di Mesir. El-Mesaharaty terus berkembang di berbagai negara muslim.
Di Negara Islam Oman misalnya, El-Mesaharaty sampai sekarang masih beraksi dengan menabuh genderang membangunkan orang bersahur. Di Kuwait, Abu Tablyah, menjadi El-Mesaharaty pertama memilih jalan melantunkan doa, kemudian diulangi anak-anak saat berjalan keliling.
El-Mesaharaty pertama di Yaman dikabarkan mempergunakan tongkat guna memukul pintu orang. Di Sudan, El-Mesaharaty ditemani seorang anak dan akan berjalan keliling sambil memanggil nama setiap orang pada setiap rumah yang dilewati.
Di negara muslim semacam Suriah, Lebanon dan Palestina pola bersiul menjadi pilihan El- Mesaharaty. Di Indonesia, khususnya di Sungai Raya, peranan El-Mesaharaty diwujudkan dalam berbagai bentuk.
Umumnya membunyikan perkakas bekas rumah tangga. Ada juga sebagian warga memilih menggunakan alat musik tradisional seperti gendang, rebana, dan lain sebagainya. Tidak hanya mengandalkan bunyi instrumen, harmoni nada dihasilkan terkadang begitu menggoda mulut untuk ikut berdendang.
Ada juga dari rumah ibadah dalam gang, komplek, jalan dan desa memakai pengeras suara atau TOA rumah ibadah.
"Intinya pada Ramadan 2026 ini, bakalan kami pakai kembali, pasukan anak-anak untuk membangunkan orang bersantap sahur dan tidak telat," tutup Mahmud. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro