Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Satu Kota, Seribu Rasa: Riuh Berburu Takjil di Kampung Arang Saat Senja Ramadan

Deny Hamdani • Minggu, 8 Maret 2026 | 14:23 WIB

Para pemburu takjil tak hanya dari kalangan Muslim, warga non-Muslim juga ikut berburu aneka pangan untuk dibawa pulang.
Para pemburu takjil tak hanya dari kalangan Muslim, warga non-Muslim juga ikut berburu aneka pangan untuk dibawa pulang.

 

PONTIANAK POST – Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat dan langit berubah jingga keemasan, jalan-jalan di Kabupaten Kubu Raya seketika berubah wajah. Ramadan 1447 Hijriah tahun ini menghadirkan pemandangan yang selalu dinanti: riuhnya tradisi berburu takjil menjelang azan magrib.

Bagi banyak orang, aktivitas ini bukan sekadar membeli makanan untuk berbuka. Ia telah menjadi semacam ritual sosial—perayaan kecil yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang dalam satu suasana yang sama.

Delapan belas hari terakhir Ramadan, kawasan Jalan Adisucipto Sungai Raya, Ayani, hingga gang-gang kecil seperti Parit Bugis dipadati warga. Kendaraan melambat, pejalan kaki berdesakan di pinggir jalan, sementara aroma makanan bercampur dalam udara sore yang lembap.

Wangi soto Banjar yang gurih, bubur pedas khas Melayu yang kaya rempah, hingga martabak telur yang baru diangkat dari wajan panas menyeruak dari setiap sudut. Di sela-sela itu, terdengar tawa anak-anak yang menunjuk jajanan berwarna-warni di atas meja lipat para pedagang dadakan.

Di bawah payung sederhana dan tenda terpal biru, deretan kue tradisional tersusun rapi. Ada klepon berbalut kelapa parut, dadar gulung berisi kelapa manis, kue cucur yang legit, lepat pisang dan lepat ubi, nagasari, hingga bolu kukus yang lembut. Di sisi lain, botol-botol sirup markisa, es campur, dan es buah berkilau terkena cahaya senja. Kurma dari berbagai jenis tersusun dalam kotak plastik bening.

“Saya sengaja datang dari Pontianak ke sini, ke Parit Bugis, demi mencicipi klepon dan dadar gulung Bu Ira. Rasanya autentik, beda dari yang lain,” kata Dita, seorang pelajar yang rela mengantre di depan gerobak kayu bercat hijau yang sudah belasan tahun mangkal di lokasi itu.

Tak jauh dari sana, Pak Joko, pedagang gorengan yang mulai berjualan sejak pukul tiga sore, nyaris tak punya waktu untuk berhenti. Tangan kanannya cekatan membalik bakwan dan tahu isi di atas minyak panas, sementara tangan kirinya menerima uang dan mengemas pesanan pembeli.

“Pendapatan bisa naik 80 sampai 150 persen selama Ramadan. Ini rezeki bulan puasa. Biasanya sebelum magrib sudah habis,” ujarnya sambil tersenyum.

Ruang Temu Beragam Budaya

Kubu Raya, khususnya Kecamatan Sungai Raya, dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang etnis—Melayu, Dayak, Bugis, Tionghoa, Jawa, dan lainnya. Ramadan seolah menjadi ruang temu yang mempererat kebersamaan di antara mereka.

Di satu sisi, ketupat kandangan khas Melayu berdampingan dengan lontong sayur Jawa. Di kedai milik warga Tionghoa Muslim, bakso dan mi ayam tetap menjadi primadona, berdampingan dengan kue-kue tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Pemandangan yang menarik terlihat di antrean pembeli. Seorang ibu berhijab memilih bubur pedas, sementara di sebelahnya seorang pria keturunan Tionghoa memasukkan es buah ke dalam kantong plastik. Tidak ada sekat. Semua menunggu giliran dengan sabar.

Bagi Ardiansyah, tokoh pemuda setempat, suasana ini memiliki makna lebih dalam daripada sekadar transaksi jual beli.

“Berburu takjil itu ajang silaturahmi. Kami bertemu teman lama, saudara, tetangga. Bahkan sekarang banyak juga yang datang hanya untuk merasakan suasana Ramadan, termasuk teman-teman non-Muslim,” ujarnya.

Ramadan Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Di tengah arus kendaraan dan hiruk-pikuk pembeli, terlihat pula sekelompok anak muda membagikan selebaran kecil bertuliskan “Sedekah Takjil.”

Di depan Masjid Al-Fatwa, puluhan anggota komunitas itu membagikan paket berbuka gratis kepada pengendara dan pejalan kaki.

“Kami ingin memastikan tak ada yang berbuka hanya dengan air putih. Semua berhak merasakan manisnya Ramadan,” kata Akbar, koordinator kegiatan tersebut.

Ramadan juga menjadi momentum penting bagi roda ekonomi rakyat. Pedagang musiman bermunculan memanfaatkan lahan parkir, bahu jalan, hingga halaman rumah untuk berjualan.

Pelaku UMKM lokal pun berinovasi. Lopis dan wajik kini hadir dengan topping cokelat dan keju. Bolu tradisional dikemas dalam kotak estetik berlabel merek sendiri, menyasar generasi muda yang gemar membagikan momen kuliner di media sosial.

Sentuhan modern itu tidak menghapus tradisi lama. Justru sebaliknya, memperluas pasar sekaligus memperkenalkan kuliner tradisional kepada generasi baru.

Senja yang Selalu Dirindukan

Menjelang azan magrib, hiruk-pikuk perlahan mereda. Kantong-kantong plastik berisi takjil dibawa pulang. Wajah-wajah yang tadi tegang menunggu giliran kini berubah lega.

Di rumah-rumah sederhana hingga perumahan modern, hidangan berbuka mulai tersaji di atas meja.

Di Kubu Raya, senja Ramadan selalu membawa pesan yang sama: perbedaan melebur dalam aroma santan dan gula merah, dalam antrean yang tertib, dan dalam senyum antara pedagang dan pembeli.

Satu kota, seribu rasa—namun dengan tujuan yang sama: bersyukur dan berbagi dalam keberagaman. (den)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#KAMPUNG ARANG #kubu raya #Takjil