PONTIANAK POST - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kubu Raya kembali menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, Dinas Kesehatan Kubu Raya memastikan lonjakan kasus tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah mengatakan, peningkatan kasus ISPA dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak menentu. Hingga pertengahan Maret ini, katanya wilayah Kubu Raya masih mengalami pola cuaca yang berubah-ubah, dengan hujan yang belum turun secara merata.
“Memang dinamika iklim di Kubu Raya ini cukup beragam. Kemarin kasus sempat tinggi, kemudian turun karena ada hujan. Sekarang kembali terjadi peningkatan kasus ISPA,” kata Wan Iwansyah kepada Pontianak Post, Kamis (12/3) di Sungai Raya.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA pada periode Februari ke Maret berkisar antara 10 hingga 20 persen. Meski ada kenaikan, kondisi tersebut dinilai masih aman dan belum mengkhawatirkan.
“Dari Februari ke Maret ada peningkatan sekitar 10 sampai 20 persen. Tapi sekali lagi peningkatan ini tidak mengkhawatirkan. Artinya masih dalam batas yang bisa kita kendalikan,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kubu Raya terus memperkuat sistem pemantauan atau surveillance terhadap penyakit tersebut. Selain itu, ketersediaan obat-obatan serta bahan medis habis pakai di fasilitas kesehatan juga terus dijaga agar penanganan pasien dapat berjalan optimal.
“Kita tetap meningkatkan upaya surveillance. Kemudian kelengkapan obat dan bahan medis habis pakai juga kita pastikan selalu tersedia. Jadi kalau ada kasus yang membutuhkan penanganan, tidak sampai terjadi kekurangan obat,” jelasnya.
Wan Iwansyah menambahkan, kelompok usia yang paling banyak terdampak kasus ISPA saat ini adalah anak-anak, terutama bayi dan balita. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat kelompok rentan lebih mudah terserang penyakit saluran pernapasan.
“Yang paling banyak terserang itu anak-anak, bayi dan balita. Apalagi bagi mereka yang sudah memiliki penyakit kronis, kondisi cuaca seperti ini tentu membuat tubuh menjadi tidak nyaman,” katanya.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi. Ia menyarankan agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah saat kondisi cuaca kurang baik.
“Kita sarankan bagi yang memiliki risiko, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah ketika cuaca tidak baik. Kalau memang harus keluar rumah, gunakan masker,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
“Jika ada keluhan seperti batuk, pilek, atau sesak napas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa segera ditangani,” katanya.
Wan menjelaskan, lonjakan kasus ISPA sebenarnya sempat terjadi lebih tinggi pada awal tahun. Pada Januari lalu, peningkatan kasus tercatat lebih dari 20 persen. Namun kondisi tersebut kemudian sempat menurun seiring turunnya hujan di beberapa wilayah.
“Pada Januari lalu memang sempat cukup tinggi, di atas 20 persen. Kemudian sempat turun, dan sekarang kembali ada peningkatan, tapi tidak setinggi pada periode Januari,” pungkasnya. (ash)
Editor : Hanif