Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Cerita Penghuni Panti Mulia Dharma: Menemukan Bahagia yang Sederhana di Usia Senja  

Ashri Isnaini • Minggu, 29 Maret 2026 | 22:44 WIB

 

 

Kasubbag TU UPT Mulia Dharma, Utin Yuliatik (kanan) mendampingi dan berfoto bersama dengan penghuni UPT Panti Mulia Dharma, Murjani (kiri) bersama Suriati (tengah).
Kasubbag TU UPT Mulia Dharma, Utin Yuliatik (kanan) mendampingi dan berfoto bersama dengan penghuni UPT Panti Mulia Dharma, Murjani (kiri) bersama Suriati (tengah).

Penghuni UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma banyak meyimpan cerita. Ada yang terus lekat dalam ingatan. Ada juga yang sengaja dilupakan. Namun, mereka terus menjalani hidup dan mencari kebahagiaan.

 

Ashri Isnaini, Kubu Raya

MURJANI berada di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma sejak 2023, tepat dua tahun setelah istrinya meninggal.

Lansia berusia 65 tahun ini menyebut saat itu merupakan awal perubahan besar dalam hidupnya.

Murjani sempat menghabiskan waktu di kawasan Pasar Mawar. Hari-harinya sederhana, yakni duduk, minum kopi, dan menunggu waktu berlalu.

Dia bahkan pernah berpindah-pindah tempat, termasuk tinggal sementara di kawasan Ampera selama beberapa bulan. Namun, semua itu tak benar-benar memberinya tempat untuk pulang.

“Saya hidup sendiri, karena saya anak tunggal. Tak memiliki keluarga dekat,” katanya singkat.

Di panti tersebut, Murjani memiliki rutinitas relatif teratur, termasuk berolahraga ringat setiap hari.  Kendati demikian, perasaan sepi kerap datang. “Kadang masih kesepian,” ujarnya.

Menurut Murjani, panti menjadi tempat yang lebih layak untuk menjalani hari tua. Dia merasa senang karena memiliki teman di sana.

“Jika merasa tidak enak badan, mengurus diri sendiri. Minum obat, beristirahat, tanpa merepotkan orang lain. Karena saya tidak mau terlalu bergantung dengan orang lain,” kata Murjani, yang enggan bercerita lebih lanjut tentang masa lalunya.

Di sudut lain panti, kisah berbeda dijalani Suriati (67). Perempuan ini memulai babak baru hidupnya sejak 20 Desember 2023, hari pertama ia masuk ke panti.

Ia lahir di Jawa Barat, namun perjalanan hidup membawanya merantau hingga ke Kabupaten Sekadau. Dari sanalah ia akhirnya diantar petugas dinas sosial menuju panti.

Suriati pernah memiliki kehidupan keluarga. Ia memiliki suami dan anak. Namun, rumah tangganya tak berjalan mulus. Ia berpisah saat anaknya masih kecil dan sejak itu menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Kini, hari-harinya diisi dengan aktivitas sederhana. Ia memilih tetap aktif agar tubuhnya tetap sehat. Di depan kamarnya, ia menanam berbagai tanaman kecil.

“Biar keluar keringat, kan sehat,” katanya.

Meski tinggal jauh, komunikasi dengan keluarga masih terjalin, meski tidak intens. Anak perempuannya sesekali menghubungi lewat telepon, sementara anak laki-lakinya belum pernah berkomunikasi langsung.

Kini, Suriati memiliki teman hidup. Di sana ia bertemu dan menikah dengan Idin. Pernikahan mereka berlangsung sederhana di lingkungan panti, difasilitasi pengelola. Bagi Suriati, keputusan itu bukan sekadar kebutuhan emosional, tetapi juga bagian dari ibadah.

“Menikah bukan karena nafsu, tapi karena Allah,” ujarnya.

Kasubbag TU UPT Mulia Dharma, Utin Yuliatik,  menambahkan aktivitas harian lansia juga diisi dengan berbagai kegiatan untuk menjaga kesehatan dan kebahagiaan. Setiap pekan, penghuni mengikuti senam bersama, kegiatan keagamaan lintas agama, keterampilan sederhana seperti membuat keripik, hingga kegiatan rekreasi tahunan.

Menurut Utin, tantangan terbesar justru datang dari luar, terutama masyarakat yang ingin menitipkan lansia tanpa melalui prosedur resmi. Padahal, proses seleksi penting dilakukan untuk menghindari risiko, termasuk penularan penyakit.

“Kami pernah kecolongan, ada lansia dengan penyakit menular yang masuk. Beruntung cepat terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan, sehingga langsung kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Dia menambahkan praktik pernikahan di kalangan lansia bukan hal baru. “Kehidupan mereka setelah menikah cenderung lebih stabil dan bahagia,” jelasnya.

 

Wajib Rekomendasi Dinsos

Kepala UPT Mulia Dharma, Agus Susanti  menjelaskan Maret 2026, panti yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto KM 12,6 tersebut menampung 83 lansia, melampaui kapasitas ideal yang ditetapkan sebanyak 80 orang. Kondisi ini memaksa pihak pengelola menerapkan sistem daftar tunggu (waiting list) bagi calon penghuni baru.

"Target kami sebenarnya di angka 80 orang, namun tingginya kebutuhan membuat angka tersebut kini terlampaui. Fokus utama kami adalah lansia terlantar dan mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi," terang Agus saat ditemui Pontianak Post, Jumat (13/3) lalu.

Agus menegaskan bahwa penerimaan penghuni tidak dilakukan secara instan. Calon penghuni wajib mengantongi rekomendasi Dinas Sosial kabupaten/kota asal, kemudian menjalani asesmen ulang untuk memastikan kelayakan dan kondisi kesehatan. Langkah selektif ini diambil guna menghindari risiko medis di lingkungan panti.

Saat ini, panti mengoperasikan 10 dari 12 unit wisma yang tersedia. Bagi lansia dengan kondisi fisik yang lemah, pihak panti menyediakan layanan nursing care. Tercatat ada 10 lansia yang membutuhkan bantuan penuh dalam aktivitas harian seperti makan dan mandi.

Dalam operasionalnya, panti menerapkan sistem kerja kolektif. Seluruh pegawai, baik staf administrasi maupun teknis, diwajibkan siap turun langsung melayani lansia jika dibutuhkan.

Agus berpesan agar nilai-nilai penghormatan terhadap orang tua ditanamkan sejak usia sekolah. Menurutnya, panti hanyalah solusi terakhir, sementara tanggung jawab utama ada pada lingkungan keluarga.

"Semua orang pada akhirnya akan menjadi lansia. Penting untuk menyiapkan kesadaran dan kepedulian itu sejak awal," pungkasnya. (*)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#panti #lansia #kubu raya #Rehabilitasi