PONTIANAK POST – Anggota DPRD Kalimantan Barat dari daerah pemilihan Kubu Raya-Mempawah, Agus Sudarmansyah mengajak masyarakat Kecamatan Batu Ampar untuk mulai mengubah pola pemanfaatan sumber daya alam dari eksploitasi menuju pelestarian lingkungan berbasis kesejahteraan berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Agus dalam kegiatan bersama masyarakat Batu Ampar terkait dorongan perubahan ekonomi dan pengelolaan lingkungan pesisir di wilayah tersebut.
Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan besar karena selama ini sebagian aktivitas ekonomi warga masih bergantung pada eksploitasi hutan mangrove, termasuk penebangan bakau untuk bahan baku arang.
Baca Juga: Dilema Industri Arang Bakau, Antara Pemenuhan Ekonomi atau Kelestarian Lingkungan
“Saya mengajak masyarakat Batu Ampar, ini momentum bagi kita menuju perubahan yang lebih baik ke depan. Memang mengubah kebiasaan itu tidak mudah, penuh dinamika dan tantangan,” ujar Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kalbar ini.
Namun demikian, ia meyakini arah perubahan yang didorong pemerintah daerah melalui program pembangunan dan pelestarian lingkungan akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat desa di masa mendatang.
Agus menilai Batu Ampar memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar dan seharusnya dapat dikelola secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
“Kita ubah sumber daya alam kita yang kaya di Batu Ampar ini. Jangan lagi mindset-nya eksploitasi, tapi sekarang berubah ke restorasi dan rehabilitasi lingkungan,” katanya.
Baca Juga: Krisis Arang Bakau di Kubu Raya: Tradisi Turun-Temurun Terancam Regulasi, Warga Butuh Solusi Nyata
Ia menjelaskan kawasan mangrove memiliki banyak manfaat strategis, mulai dari menjaga abrasi pantai, melindungi ekosistem pesisir, menghasilkan karbon, hingga mendukung sektor budidaya perikanan masyarakat.
Menurutnya, jika ekosistem tersebut dijaga dengan baik, maka manfaat ekonominya dapat dinikmati masyarakat dalam jangka panjang, termasuk oleh generasi mendatang.
“Kita merawat ini untuk kesejahteraan ke depan. Itu akan dinikmati anak cucu kita terus-menerus dan tidak akan habis,” ucapnya.
Sebaliknya, Agus mengingatkan aktivitas penebangan bakau secara terus-menerus hanya akan menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan dampak sosial maupun kesehatan bagi masyarakat.
Ia menyoroti aktivitas produksi arang dari kayu bakau yang selama ini dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pekerja.
“Kalau kita tebang terus bakaunya untuk dijadikan arang, hutannya habis, lingkungan rusak, kesehatan juga terganggu,” katanya.
Baca Juga: Dari Larangan ke Toleransi: Harapan Baru bagi Pengrajin Arang Bakau Batu Ampar
Agus menyebut sudah banyak warga yang mengalami kecelakaan kerja hingga meninggal dunia akibat aktivitas penebangan maupun pengolahan kayu bakau.
“Sudah banyak warga menjadi korban tertimpa kayu dan kecelakaan kerja. Ini pekerjaan dengan risiko sangat tinggi,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai beralih pada sektor pekerjaan yang lebih aman, manusiawi, serta memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.
“Kita menuju pekerjaan yang lebih manusiawi, yang memiliki nilai norma, dilindungi undang-undang, serta memberikan nilai kesehatan dan kesejahteraan,” pungkasnya. (den)
Editor : Miftahul Khair