PONTIANAK POST – Ketergantungan terhadap dana transfer pusat masih menjadi tantangan besar bagi Kabupaten Kubu Raya. Menyikapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah Kubu Raya, Yusran Anizam mendorong Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia bertransformasi menjadi perusahaan daerah yang mampu mengonsolidasikan puluhan ribu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.
“Kenapa ini penting? Saat ini kita tergantung dari transfer. Kemandirian keuangan daerah kita berapa persen? Hanya 12 persen,” kata Yusran, Rabu (3/6) saat memimpin rapat persiapan peluncuran kegiatan usaha Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia di Sungai Raya.
Karena itu, dia menilai sudah saatnya pemerintah daerah membangun kekuatan ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal. Salah satunya melalui optimalisasi peran Perumda sebagai motor penggerak sektor riil yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Menurut Yusran, Perumda tidak seharusnya berfokus pada sektor finansial semata. Sebaliknya, perusahaan daerah harus hadir dalam aktivitas ekonomi nyata yang mampu memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal.
Baca Juga: 44 Ribu Petani Dukung Swasembada Pangan, Rembuk Tani Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Petani
Yusran menjelaskan, selama ini rantai pasok yang panjang sering kali membuat keuntungan lebih banyak dinikmati perantara dibandingkan pelaku usaha di tingkat bawah. Karena itu, Perumda didorong untuk menjalin kerja sama langsung dengan pabrikan dan industri besar.
“Nah, bagaimana caranya sesuai semangat Pak Presiden, pangkas rantai pasok. Perumda langsung kontrak dengan pabrikan,” ujarnya.
Lebih jauh, Yusran memaparkan konsep besar yang tengah disiapkan pemerintah daerah melalui Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia. Ke depan, katanya Perumda akan berperan sebagai holding atau perusahaan induk yang menaungi sekitar 39 ribu UMKM di Kabupaten Kubu Raya dari berbagai sektor usaha.
Melalui konsep tersebut, Perumda akan memiliki sejumlah divisi dan unit usaha yang berfungsi sebagai penghubung antara UMKM dengan industri besar, pasar modern, serta jaringan distribusi yang lebih luas.
Dengan pola itu, pelaku usaha kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari sebuah ekosistem bisnis yang terintegrasi dan memiliki daya tawar lebih kuat.
Baca Juga: Bawaslu Kubu Raya Gandeng Tiga Kampus Perkuat Pengawasan Partisipatif Pemilu
“Bayangkan sebuah perusahaan dengan unit produksi sebanyak 39 ribu,” ucapnya.
Yusran optimistis model tersebut dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) di masa mendatang. Selain itu, keterlibatan ribuan UMKM dalam satu sistem usaha diyakini mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Yusran juga mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk mulai mengubah pola pikir tentang pentingnya kemandirian ekonomi daerah. Menurutnya, ketahanan ekonomi tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran yang diterima dari pusat, tetapi juga pada kemampuan daerah mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Ayo kita ubah mindset kita, paradigma kita tentang kemandirian dan pertahanan. Ini mesin kuat bagi kita,” tutupnya. (ash)
Editor : Hanif