Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Numerasi Jadi Tantangan Tes Kemampuan Akademik di Kubu Raya

Ashri Isnaini • Senin, 8 Juni 2026 | 14:39 WIB
ilustrasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP untuk memetakan kemampuan akademik siswa secara nasional. (SUMUT POS)
ilustrasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP untuk memetakan kemampuan akademik siswa secara nasional. (SUMUT POS)

PONTIANAK POST - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, Syarif Firdaus, mengatakan secara umum kemampuan literasi siswa SD dan SMP tergolong baik.

Namun capaian numerasi masih relatif rendah, bahkan pada jenjang SMP lebih rendah dibandingkan SD.

“Secara umum, untuk jenjang SD maupun SMP, kemampuan literasi siswa cukup baik. Sementara untuk numerasi masih relatif rendah. Bahkan untuk jenjang SMP, capaian numerasi lebih rendah dibandingkan SD. Saat ini kami masih melakukan analisis satu per satu,” kata Firdaus kepada Pontianak Post, Rabu (3/6).

Hasil sementara menunjukkan mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi bidang dengan capaian tertinggi. Sejumlah siswa meraih nilai di atas 90, bahkan mencapai 94 hingga 96. Sebaliknya, masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah 50 pada aspek matematika yang berkaitan dengan numerasi.

“Untuk kategori literasi, khususnya Bahasa Indonesia, nilainya cukup tinggi. Ada siswa yang memperoleh nilai lebih dari 90. Namun di sisi lain, kami juga menemukan masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah 50 pada aspek matematika yang berkaitan dengan numerasi,” ujarnya.

Firdaus mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan posisi Kubu Raya dibandingkan daerah lain karena proses pengolahan dan perbandingan data masih berlangsung. Berdasarkan data sementara, Kalimantan Barat berada di peringkat ke-20 nasional.

“Kami masih membandingkan data, karena yang muncul saat ini masih data by name atau per siswa. Nanti akan kami lihat lebih rinci untuk posisi kabupaten dan kota,” katanya.

Menurut Firdaus, rendahnya capaian numerasi dipengaruhi sejumlah faktor. Selain karena TKA merupakan instrumen baru, karakter soal yang lebih banyak berbentuk cerita juga menuntut kemampuan memahami konteks, berpikir kritis, dan bernalar.

“TKA ini hal yang baru. Sebelumnya kita melaksanakan asesmen dengan bentuk yang berbeda. Soal-soal TKA lebih banyak berbentuk cerita sehingga membutuhkan kemampuan memahami konteks dan menalar. Ini tentu memerlukan penyesuaian bagi anak-anak,” jelasnya.

Ia menambahkan rendahnya minat baca dan kemampuan bernalar peserta didik turut memengaruhi hasil. Karena itu, peningkatan kedua aspek tersebut menjadi perhatian utama.

“Kita akui masih banyak yang perlu dibenahi, terutama peningkatan minat baca anak dan kemampuan mereka dalam menalar. Itu yang harus terus kita tingkatkan,” tegasnya.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, Disdikbud Kubu Raya akan memfokuskan program pembinaan pada peningkatan kapasitas guru melalui berbagai pendampingan dan pelatihan kompetensi.

“Yang pertama akan kita lakukan adalah memperkuat kapasitas guru melalui berbagai pendampingan dan peningkatan kompetensi. Guru menjadi ujung tombak dalam proses pembelajaran. Kalau kapasitas guru meningkat, maka dampaknya juga akan dirasakan oleh siswa,” ujarnya.

Firdaus menambahkan hasil TKA dan rapor pendidikan akan menjadi salah satu dasar penyusunan kebijakan pendidikan daerah pada tahun-tahun mendatang.

“Mulai tahun 2027, kami akan semakin mengutamakan data-data yang muncul dalam rapor pendidikan. Di sana terlihat kondisi literasi, numerasi, hingga karakter peserta didik. Data itulah yang akan menjadi dasar dalam merumuskan program dan kebijakan pendidikan berikutnya,” tuturnya. (*)

Editor : Chairunnisya
#Tes Kemampuan Akademik