PONTIANAK POST – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mengajak masyarakat menjaga warisan sejarah Kesultanan Kubu sekaligus memperkuat persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Haul Agung Raja Kubu ke-238 di halaman Istana Keraton Kesultanan Kubu, Kabupaten Kubu Raya.
Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan masyarakat itu, Krisantus menegaskan bahwa tradisi haul bukan hanya bentuk penghormatan kepada para pendiri kerajaan, tetapi juga sarana menjaga identitas budaya dan memperkuat nilai kebersamaan lintas generasi.
Haul Raja Kubu Jadi Pengingat Warisan Sejarah
Krisantus mengapresiasi keluarga besar Kesultanan Kubu dan masyarakat yang terus menjaga tradisi haul selama lebih dari dua abad.
Menurut dia, keberlangsungan Haul Agung Raja Kubu selama 238 tahun menunjukkan kuatnya akar sejarah dan budaya yang dimiliki Kalimantan Barat.
"Haul ini sudah berusia 238 tahun, sebuah perjalanan waktu yang sangat panjang, bahkan lebih tua dari usia Republik Indonesia. Ini membuktikan bahwa fondasi bangsa kita dibangun di atas peradaban kerajaan dan kesultanan yang luhur," katanya, Minggu (14/6).
Baca Juga: Gubernur Kalbar Prihatin Jembatan Ambruk di Kubu Raya, Minta Penanganan Segera
Kerajaan Kubu didirikan sekitar tahun 1768 oleh Syarif Idrus Alaydrus, seorang keturunan Arab-Hadramaut yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Pontianak.
Setelah membuka pemukiman di muara Sungai Terentang dan Sungai Kubu, Syarif Idrus kemudian membangun pusat pemerintahan yang berkembang menjadi Kesultanan Kubu.
Pada masa kejayaannya, Kesultanan Kubu memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan pesisir serta jalur sungai Kalimantan Barat.
Letaknya yang strategis di wilayah muara sungai menjadikan Kubu sebagai salah satu simpul perdagangan yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan jalur pelayaran di Selat Karimata.
Aktivitas perdagangan hasil hutan, pertanian, dan komoditas lokal turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir pada masa itu.
Selain berperan dalam bidang ekonomi, Kesultanan Kubu juga menjadi pusat perkembangan budaya Melayu dan pendidikan keagamaan.
Jejak sejarah tersebut masih terlihat melalui keberadaan Keraton Kubu, tradisi Haul Raja Kubu, serta berbagai peninggalan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini.
Tradisi yang Menyatukan Generasi
Menurut Krisantus, tradisi haul memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar kegiatan keagamaan dan budaya.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat lintas generasi untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus menanamkan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.
Keberadaan kerajaan dan kesultanan di Kalimantan Barat, kata dia, merupakan bagian penting dari identitas daerah yang harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Baca Juga: Pemprov Kalbar Kucurkan Rp20 Miliar untuk Rehabilitasi Jembatan Keraton Kubu di Kubu Raya
Pemprov Siap Dukung Pelestarian Keraton Kubu
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian situs sejarah, Krisantus meminta pihak Keraton Kubu segera mengajukan proposal pembenahan kawasan istana.
Perhatian tersebut terutama ditujukan pada perbaikan halaman dan lantai bangunan yang dinilai membutuhkan penanganan.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendukung pelestarian cagar budaya dan peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
Keberagaman Harus Menjadi Kekuatan Bersama
Momentum haul juga dimanfaatkan Krisantus untuk mengajak masyarakat menjaga harmoni sosial di Kalimantan Barat yang dikenal sebagai daerah multietnis dan multikultural.
Ia menegaskan seluruh masyarakat yang hidup dan berkontribusi di Kalimantan Barat memiliki kedudukan yang sama tanpa membedakan asal-usul suku maupun latar belakang.
"Suku apa pun, agama apa pun, jika sudah berada dan hidup di Kalimantan Barat, maka mereka adalah Putra Daerah Kalimantan Barat yang wajib mendapatkan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman yang sama dari pemerintah," ujarnya.
Menurut dia, keberagaman masyarakat Kalimantan Barat merupakan kekuatan yang harus dirawat untuk mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Ribuan Masyarakat Hadiri Haul Agung Raja Kubu
Peringatan Haul Agung Raja Kubu ke-238 dihadiri sejumlah tokoh agama, habaib, tokoh masyarakat, keluarga Kesultanan Kubu, serta unsur pemerintah daerah.
Di antaranya Habib Muhamad Bin Syech Abubakar, Habib Toha, Habib Abdul Qodir Baagil, unsur Forkopimda Kabupaten Kubu Raya, anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya, perwakilan Bank Kalbar, serta sejumlah pimpinan lembaga dan organisasi masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa tradisi haul masih menjadi perekat sosial yang mampu mempertemukan berbagai kalangan dalam semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah.
Baca Juga: Jelang Haul Akbar Sultan Syarif Abdurrahman, Ria Norsan: Momentum Merawat Sejarah dan Persatuan
Pintu Dialog Pemerintah Tetap Terbuka
Menutup sambutannya, Krisantus menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Ia mengajak masyarakat menyampaikan berbagai persoalan maupun usulan pembangunan secara langsung kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
"Jika ada urusan kemasyarakatan atau pemerintahan tingkat provinsi, silakan datang ke kantor gubernur. Pintu ruangan Wakil Gubernur selalu terbuka lebar untuk masyarakat," katanya.
Melalui Haul Agung Raja Kubu ke-238, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap nilai-nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan yang diwariskan para pendahulu dapat terus menjadi fondasi dalam memperkuat persatuan dan pembangunan daerah di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.*
Editor : Uray Ronald