PONTIANAK POST – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi penangkapan ikan, masyarakat pesisir Desa Padang Tikar Satu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, masih setia menjaga tradisi pukat tarik manual. Aktivitas ini bukan sekadar cara mencari ikan, melainkan warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi dan menjadi simbol kuat semangat gotong royong serta kebersamaan masyarakat pesisir.
Tradisi tersebut hingga kini masih dilakukan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Selain menghasilkan ikan, pukat tarik juga menjadi ruang berkumpul warga untuk saling membantu tanpa memandang latar belakang keluarga maupun status sosial.
Bermula dari Tradisi Lama Bernama Kuncung
Baca Juga: Jalan Batu Ampar–Padang Tikar Mulai Berubah, Dewan Harap Pembangunan Terus Berlanjut
Kepada Pontianak Post, Tokoh Masyarakat Padang Tikar, Mardiman menuturkan tradisi pukat tarik telah ada sejak dirinya masih kecil. Bahkan jauh sebelum dikenal sebagai pukat tarik, masyarakat setempat telah menggunakan alat tangkap tradisional bernama kuncung.
Meski memiliki bentuk dan teknik penggunaan yang berbeda, kedua alat tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni menangkap ikan secara bersama-sama dengan mengandalkan tenaga manusia.
Menurutnya, semangat kebersamaan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi tersebut sejak masa lampau.
Baca Juga: Batu Ampar Kubu Raya Bersiap Jadi Desa Wisata, Punya Hutan Mangrove hingga Budidaya Kepiting
Berawal dari Semangat Rewang untuk Memenuhi Kebutuhan Hajatan
Tradisi pukat tarik pertama kali berkembang di lingkungan keluarga besar Mbah Ragil dan Mbah Mororojo. Saat itu kondisi ekonomi masyarakat masih sederhana sehingga banyak keluarga belum mampu membeli lauk-pauk ketika menggelar kegiatan rewang maupun hajatan.
Dari keterbatasan tersebut lahirlah kebiasaan menangkap ikan secara bersama-sama menggunakan pukat tarik. Hasil tangkapan kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Baca Juga: Kapal Rasau Jaya–Padang Tikar Normal Lagi, Sujiwo Minta Pertamina Perketat Pengawasan Solar Subsidi
Tradisi ini menjadi solusi sekaligus mempererat hubungan antarkeluarga karena seluruh proses dilakukan secara gotong royong.
Dari Lingkungan Keluarga Menjadi Tradisi Seluruh Kampung
Seiring berjalannya waktu, kegiatan pukat tarik tidak lagi hanya dilakukan oleh keluarga besar Mbah Ragil dan Mbah Mororojo.
Baca Juga: Warga Padang Tikar-Kubu Raya Temukan Bayi Laki-Laki di Bawah Pohon Kelapa
Tetangga, kerabat, hingga teman-teman mereka mulai ikut bergabung dalam setiap kegiatan. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi masyarakat yang lebih luas.
Bahkan masyarakat Melayu sebagai penduduk asli Padang Tikar turut melestarikan tradisi ini. Tidak hanya itu, warga dari desa-desa lain di Kecamatan Batu Ampar juga ikut berpartisipasi ketika kegiatan pukat tarik dilaksanakan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian penting dari identitas sosial masyarakat pesisir Padang Tikar.
Tanjung Blimbing Menjadi Saksi Tradisi yang Terus Bertahan
Secara turun-temurun, pukat tarik manual dilaksanakan di kawasan pesisir sebelah barat Desa Padang Tikar Satu, tepatnya di kawasan Tanjung Blimbing.
Lokasi tersebut sejak dahulu dikenal sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk melaksanakan tradisi menangkap ikan secara bersama-sama.
Baca Juga: KM Bos Muda Karam di Perairan Padang Tikar-Kubu Raya, 25 Ton Kelapa Gagal Terkirim
Di tengah hadirnya berbagai alat tangkap modern, Tanjung Blimbing tetap menjadi saksi bahwa nilai gotong royong dan semangat rewang masih hidup di tengah masyarakat Padang Tikar.
Tradisi pukat tarik manual bukan hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebersamaan mampu menjadi kekuatan utama masyarakat pesisir dalam memenuhi kebutuhan sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Editor : Silvina