PONTIANAK POST – Rumah Tradisional Hakka (Tulou) di Jalan Hakka, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, ternyata sudah menarik perhatian tamu mancanegara meski belum diresmikan. Sejumlah warga keturunan Hakka dari Kanada hingga Kuching, Serawak, Malaysia, datang berkunjung untuk melihat langsung bangunan yang menjadi simbol budaya masyarakat Hakka di Kalimantan Barat tersebut.
Kunjungan itu terekam dalam video YouTube @pieiemejink9092 yang diunggah, 2 September 2023. Dalam perbincangan yang berlangsung di lokasi, pengurus Rumah Hakka menjelaskan penyebaran masyarakat Hakka tidak hanya berada di kawasan Asia, tetapi juga telah tersebar ke berbagai belahan dunia.
Tamu Kanada hingga Kuching Datang Sebelum Bangunan Diresmikan
Baca Juga: Cara Menuju Rumah Hakka di Kubu Raya, Simak Rute dan Lokasi Lengkapnya
Dalam video tersebut, seorang YouTuber menyebut saat proses pengambilan gambar berlangsung, Rumah Hakka sedang kedatangan tamu dari Kanada. Selain itu, hadir pula rombongan warga Hakka dari Kuching, Serawak, yang mengaku baru pertama kali mengunjungi Rumah Hakka di Kalimantan Barat.
Kehadiran tamu dari dua negara itu menjadi bukti keberadaan Rumah Hakka mulai dikenal oleh komunitas Hakka internasional, meskipun pembangunan kompleks tersebut saat itu masih terus diselesaikan.
Pengurus Rumah Hakka mengatakan warga Hakka tersebar hampir di seluruh dunia, mulai dari Asia, Amerika, hingga berbagai negara lainnya. Karena itu, Rumah Hakka di Kubu Raya diharapkan menjadi salah satu tempat yang mempererat hubungan antarkomunitas Hakka dari berbagai negara.
Baca Juga: Fakta Menarik Rumah Hakka di Kubu Raya, Seluruh Bangunannya Terbuat dari Bata Tanpa Plester
Bahasa Khek Tetap Dipahami Meski Berasal dari Negara Berbeda
Salah satu hal menarik yang dibahas dalam kunjungan tersebut adalah mengenai bahasa Hakka atau yang lebih dikenal masyarakat Kalimantan Barat sebagai bahasa Khek.
YouTuber sempat bertanya kepada tamu asal Kuching apakah bahasa Hakka yang digunakan masyarakat Pontianak masih dapat dipahami.
Tamu tersebut mengaku masih mengerti percakapan dalam bahasa Hakka yang digunakan di Pontianak. Bahkan ketika pengurus Rumah Hakka ditanya kembali apakah komunikasi dengan warga Hakka dari Kanada maupun Kuching mengalami kesulitan, jawabannya tetap sama.
Menurut mereka, bahasa yang digunakan masih dapat saling dipahami sehingga komunikasi berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti.
Percakapan tersebut menunjukkan bahasa Hakka masih menjadi identitas budaya yang mampu menyatukan masyarakat Hakka meski telah menetap di berbagai negara selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok
Tulou Dibangun dari Semangat Persatuan
Dalam kesempatan itu, pengurus Rumah Hakka juga menjelaskan filosofi di balik bangunan Tulou.
Menurut penuturannya, sekitar 300 tahun lalu masyarakat Hakka di Tiongkok kerap mengalami gangguan dan serangan antarkelompok. Untuk menjaga keamanan, mereka kemudian membangun rumah besar yang dihuni banyak keluarga dalam satu kawasan.
Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara
Bangunan tersebut dirancang agar lebih mudah dipertahankan ketika terjadi ancaman dari luar. Model rumah komunal itu kemudian dikenal sebagai Tulou dan hingga kini sebagian bangunan aslinya masih berdiri serta dihuni di Tiongkok.
Pengurus juga menjelaskan bentuk Tulou asli tidak selalu bundar. Ada pula yang berbentuk persegi sesuai kebutuhan pertahanan pada masa itu.
Dibangun Sebagai Simbol Pelestarian Budaya Hakka
Baca Juga: Mengenal Cai Ci, Perempuan Buddha Hakka yang Tak Menikah demi Menjaga Tradisi Leluhur
Rumah Hakka yang berdiri di kawasan Jalan Hakka, Sungai Raya, Kubu Raya, dibangun oleh perkumpulan masyarakat Hakka di Kalimantan Barat sebagai simbol pelestarian budaya leluhur.
Dalam video tersebut dijelaskan akses menuju lokasi lebih mudah melalui Jalan Ahmad Yani 2, tidak jauh dari kawasan Transmart, dibandingkan melalui jalur Sungai Raya.
Kompleks Rumah Hakka terdiri atas beberapa bangunan yang mengadaptasi arsitektur rumah tradisional Hakka di Tiongkok. Meski ukurannya lebih kecil dibanding Tulou asli yang mampu dihuni ratusan orang, bangunan tersebut tetap mempertahankan konsep rumah komunal yang menjadi ciri khas masyarakat Hakka.
Keberadaan Rumah Hakka di Kalimantan Barat diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga menjadi ruang temu bagi masyarakat Hakka dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Editor : Silvina