Hari Mangrove Sedunia di Kubu Raya Ajak Masyarakat Jaga Ekosistem Pesisir Hadapi Abrasi dan Krisis Iklim

Marsita Riandini • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:38 WIB
Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar pada Minggu (26/7/2026). (ISTIMEWA)
Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar pada Minggu (26/7/2026). (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar pada Minggu (26/7/2026) bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi pengingat bahwa kekuatan bersama diperlukan untuk menjaga Kalbar dari abrasi, banjir rob hingga krisis iklim.
Bersama-sama menjaga ekosistem dan kehidupan nelayan di kawasan pesisir. 

Kegiatan yang merupakan bagian dari Kolase Journalist Camp ini diselenggarakan oleh Yayasan Kolase dengan dukungan Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures, Trend Asia, dan Pemerintah Desa Medan Mas.

Selain dihadiri puluhan masyarakat, aparatur pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta jurnalis dan kreator konten, kegiatan juga diramaikan dengan pameran produk hasil kelompok masyarakat. Beragam produk lokal dipamerkan, mulai dari kerajinan daur ulang, teh jeruju, amplang, madu kelulut, hingga berbagai olahan hasil perikanan.

Baca Juga: Geo Mangrove RB-5 Jadi Solusi Lawan Abrasi di Pesisir Kubu Raya, Teknologi Baru Berbasis Ban Bekas

Manajer Program Yayasan Hutan Biru, Noviansyah Putra, mengatakan peringatan Hari Mangrove Sedunia tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang memperkuat hubungan dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem mangrove.

“Ini bukan hanya sekadar peringatan tahunan, namun menjadi kesempatan kita untuk kembali bertemu dengan masyarakat akar rumput, khususnya di Medan Mas. Ini juga menjadi momentum untuk bersama-sama memperkuat hubungan kita dengan ekosistem mangrove yang menjadi bagian penting bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Ia menjelaskan Hari Mangrove Sedunia diperingati setiap 26 Juli sebagai momentum meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya ekosistem mangrove beserta ancaman yang dihadapinya.

Menurutnya, mangrove bukan hanya kumpulan pohon di kawasan pesisir, tetapi penyangga kehidupan yang menyediakan berbagai manfaat melalui jasa lingkungan, kawasan perikanan, hingga habitat berbagai biota.

Baca Juga: Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026: Menjaga Benteng Pesisir, Menguatkan Masa Depan Kalimantan Barat

Meski dikenal sebagai ekosistem yang kuat, Noviansyah mengingatkan mangrove tetap menghadapi tekanan. Ia mengungkapkan hasil riset terbaru menunjukkan Indonesia mengalami penyusutan kawasan mangrove hingga sekitar 200 ribu hektare, meski di sejumlah wilayah dunia justru terjadi peningkatan tutupan mangrove.

“Kita senang melihat di beberapa wilayah dunia ekosistem mangrove mulai pulih. Namun khusus di Indonesia mengalami penyusutan yang cukup besar, sekitar 200 ribu hektare. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama,” katanya.

Ia menambahkan tema kegiatan tahun ini, yakni Reconnecting People, Reconnecting Knowledge, dan Reconnecting Collaboration, menekankan pentingnya mendokumentasikan pengalaman masyarakat dalam menjaga mangrove agar semakin banyak orang memahami manfaat sekaligus pentingnya pelestarian ekosistem tersebut.

Baca Juga: Batu Ampar Kubu Raya Bersiap Jadi Desa Wisata, Punya Hutan Mangrove hingga Budidaya Kepiting

“Upaya menjaga mangrove tidak hanya cukup dilakukan di lapangan. Cerita, pengalaman, tantangan, dan keberhasilan masyarakat akar rumput perlu didokumentasikan dan disampaikan kepada publik agar semakin banyak orang memahami pentingnya menjaga mangrove,” ujarnya.

Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan praktik baik masyarakat sehingga mampu membangun kesadaran publik.

“Dari lapangan menjadi cerita, dari cerita menjadi kesadaran, dari kesadaran menjadi aksi, dan dari aksi menjadi perubahan,” tuturnya.

Kepala Desa Medan Mas, Dharma Wira, mengatakan desa yang dipimpinnya memiliki kekayaan hutan mangrove yang menjadi benteng alami kawasan pesisir sekaligus sumber kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Kemenpar Perkuat Wisata Ramah Muslim Lewat International Islamic Expo 2026, Bidik Ekosistem Halal Global yang Kompetitif

“Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di pantai, melainkan benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari intrusi air laut dan dampak perubahan iklim,” katanya.

Ia menjelaskan mangrove juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, burung, dan biota lainnya yang menopang kehidupan masyarakat.

Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi yang saling berkaitan karena sebagian besar masyarakat menggantungkan penghidupan dari sektor perikanan.

Baca Juga: Polisi Sisir Sungai Kapuas Usai Keluhan Nelayan soal Maraknya Praktik Setrum Ikan di Kapuas Hulu

Wira juga menyoroti besarnya potensi mangrove sebagai penyerap karbon (blue carbon) sehingga pelestariannya menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim.

Ia menilai Medan Mas memiliki peluang besar berkembang sebagai desa berbasis ekonomi biru (blue economy) melalui pengembangan wisata mangrove, perikanan berkelanjutan, pengolahan hasil pesisir, edukasi lingkungan, hingga pemberdayaan UMKM.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan mangrove sebagai bagian daripada identitas Desa Medan Mas,” ujarnya.

Baca Juga: Pertamina Perluas Pasar UMKM Lewat Seluruh Penerbangan Pelita Air, Produk Lokal Kini Hadir di Kabin Menuju 15 Kota Destinasi

Ia berharap peringatan Hari Mangrove Sedunia tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi penguat komitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Senada dengan itu, Camat Batu Ampar, Agus, mengajak masyarakat mulai menanam mangrove sebagai investasi bagi masa depan anak cucu.

Ia mengibaratkan menanam pohon sama seperti seseorang yang menanam pohon buah untuk dinikmati generasi berikutnya.

“Kalau ada yang bertanya untuk apa menanam mangrove, bukan untuk kami, tetapi untuk anak cucu kami,” katanya.

Agus menegaskan mangrove memiliki fungsi penting sebagai benteng alami pesisir yang mampu mengurangi abrasi dan erosi sekaligus menjaga habitat biota laut.

Menurutnya, berkurangnya kawasan mangrove membuat nelayan harus melaut semakin jauh sehingga biaya dan risiko yang dihadapi ikut meningkat.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau mengingat tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

“Mari kita sama-sama menjaga alam kita. Kalau membuka lahan, sementara jangan dengan cara membakar karena dikhawatirkan api merembet dan merugikan semua pihak,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat menyampaikan bahwa kawasan pesisir Batu Ampar, termasuk Desa Medan Mas, merupakan bagian dari kawasan konservasi perairan daerah yang menjadikan mangrove sebagai salah satu target utama perlindungan.

“Mangrove merupakan spesies penting dari ekosistem pesisir yang memberikan dampak positif bagi perikanan, jasa lingkungan, bahkan kegiatan ekonomi lainnya,” ujarnya.

Pihaknya mengapresiasi kolaborasi pemerintah desa, kelompok masyarakat, organisasi pendamping, serta berbagai mitra yang terus berupaya menjaga dan mengawasi kelestarian ekosistem mangrove di wilayah tersebut.

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fachrizal, mengatakan peringatan Hari Mangrove Sedunia tahun ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan masyarakat pesisir dengan jurnalis dan kreator konten agar cerita-cerita baik tentang mangrove dapat menjangkau publik yang lebih luas.

Menurutnya, melalui Kolase Journalist Camp, para peserta tidak hanya diajak memahami fungsi ekologis mangrove, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan lokal, praktik konservasi, serta berbagai inisiatif masyarakat dalam menjaga pesisir.

"Saya berharap kolaborasi antara masyarakat, media, pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil terus terbangun sehingga isu pelestarian mangrove tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan mendorong lahirnya aksi nyata untuk menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan," pungkasnya. (mrd)

Editor : Hanif
ekosistem pesisir banjir Hari Mangrove Sedunia kubu raya krisis iklim