PONTIANAK POST - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, masih menghadapi kendala akibat sulitnya memperoleh sumber air selama musim kemarau. Parit yang mulai mengering membuat petugas harus bekerja lebih keras untuk mengendalikan kebakaran di sejumlah titik.
Kepala Regu Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya, Florensius Loren, mengatakan tim kembali diterjunkan ke Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, setelah muncul sejumlah titik api yang menyebabkan kebakaran meluas.
Baca Juga: BMKG Deteksi 147 Hotspot, Karhutla Kubu Raya Kian Mengkhawatirkan
Parit Mengering Perberat Proses Pemadaman
"Kendala utama saat ini adalah sumber air yang sulit didapat, karena parit mulai kering. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih berat," kata Florensius Loren, Senin (27/7).
Menurutnya, personel di lapangan terus berupaya mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke wilayah lain yang berpotensi menimbulkan kerusakan lebih luas.
Kondisi musim kemarau yang menyebabkan sumber air berkurang juga meningkatkan tantangan pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Baca Juga: Karhutla Dekati Runaway Bandara Supadio, BPBD Bergerak Cepat Padamkan Api
Patroli Ditingkatkan untuk Deteksi Dini
Selain melakukan pemadaman, Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya meningkatkan patroli di sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi titik api sedini mungkin sehingga kebakaran tidak meluas.
Selain melakukan pemadaman, Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya meningkatkan patroli di sejumlah kawasan rawan kebakaran untuk mendeteksi titik api sedini mungkin. Berdasarkan data BMKG per 27 Juli 2026, terdapat 147 hotspot di Kabupaten Kubu Raya, dengan dua titik berstatus high confidence.
Secara keseluruhan, BMKG juga mendeteksi 1.083 hotspot di Kalimantan Barat, sehingga upaya pemadaman dan patroli terus diperkuat di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Selimuti Kubu Raya, Warga Diimbau Pakai Masker
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Florensius mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu meluasnya kebakaran.
"Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan masker saat keluar rumah, khususnya di daerah yang terdampak asap. Selain itu masyarakat diharapkan tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu meluasnya kebakaran," ujarnya.
Ia menambahkan, asap akibat karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada 27 Juli 2026, kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya berada pada kategori "Tidak Sehat" dengan nilai PM2.5 sebesar 149,1 µg/m³.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini kualitas udara ekstrem dan menyebut tingginya konsentrasi partikulat berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Selain itu, pemodelan BMKG menunjukkan potensi sebaran partikulat kabut asap masih terjadi di wilayah tersebut.
Koordinasi Penanganan Terus Dilakukan
Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat penanganan kebakaran selama musim kemarau. Pemantauan di sejumlah titik rawan juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi.
Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin sehingga kebakaran tidak meluas.*
Editor : Uray RonaldSumber : BMKG, Antara