PONTIANAK POST — Karhutla Kubu Raya mulai mengganggu aktivitas belajar siswa SMP Negeri 12 Sungai Raya. Sekolah menerapkan pembelajaran dari rumah ketika asap semakin pekat dan dinilai membahayakan keselamatan peserta didik.
Kepala SMP Negeri 12 Sungai Raya, Saknawi, mengatakan kebakaran terjadi di lahan sekitar sekolah dalam sekitar dua pekan terakhir. Kondisi memburuk saat cuaca kering dan angin kencang membuat asap bergerak menuju lingkungan sekolah.
"Karhutla menjadi ancaman yang hampir selalu terjadi setiap musim kemarau dan berdampak langsung terhadap aktivitas sekolah. Kalau musim kemarau panjang, kami sudah bersiap karena hampir setiap tahun kebakaran terjadi di sekitar sekolah," kata Saknawi, Kamis (6/8).
"Siapa yang memulai kebakaran kami tidak tahu, tetapi kami terus mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Asap Mulai Menyelimuti Lingkungan Sekolah
Saknawi menjelaskan kondisi pada pagi hari biasanya masih cukup baik. Namun, asap mulai menebal sekitar pukul 10.00 hingga siang ketika cuaca semakin panas dan angin mengarah ke sekolah.
"Mulai sekitar pukul 10.00 hingga siang, asap semakin tebal karena cuaca panas dan angin mengarah ke sekolah. Kalau kondisinya membahayakan, siswa kami pulangkan dan belajar dari rumah," ujarnya.
Sekolah tetap menggelar pembelajaran tatap muka apabila kondisi udara masih dinilai aman.
Pembelajaran dari Rumah untuk Lindungi Siswa
Saknawi mengatakan kebijakan tersebut diambil setelah sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kubu Raya. Pertimbangan utama ialah keselamatan peserta didik serta masukan dari orang tua siswa.
Pembelajaran dari rumah dilakukan secara daring. Guru tetap mendampingi siswa agar proses belajar berlangsung meski kegiatan tidak dilakukan di sekolah.
Langkah tersebut menjadi upaya sekolah menjaga keberlanjutan pendidikan sekaligus mengantisipasi dampak asap karhutla terhadap siswa dan tenaga pendidik.
Kobaran Api Sempat Mendekati Sekolah
Ancaman karhutla tidak hanya berupa asap yang mengganggu kegiatan belajar. Kobaran api pada puncak kejadian sempat mendekati area sekolah.
Menurut Saknawi, api berada sekitar lima meter dari area sekolah. Kobaran tersebut hanya dipisahkan oleh sebuah kanal sehingga petugas pemadam terus bersiaga di lokasi.
Meski kondisi sempat mengkhawatirkan, hingga kini belum ada siswa maupun tenaga pendidik yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Sekolah segera mengambil langkah antisipasi ketika kualitas udara memburuk.
Baca Juga: Karhutla Kalbar Sulit Dipadamkan, Medan Berat dan Minim Air Hambat Penanganan
305 Siswa Terdampak Gangguan Aktivitas Belajar
SMP Negeri 12 Sungai Raya memiliki 305 siswa yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar. Sekolah tersebut didukung 25 guru dan tenaga kependidikan.
Gangguan akibat asap membuat sekolah harus menyesuaikan pola pembelajaran dengan kondisi lingkungan. Pihak sekolah berharap pemadaman karhutla segera mengendalikan kebakaran agar kegiatan belajar mengajar kembali normal selama musim kemarau.
TNI-Polri Perkuat Sinergi Tangani Karhutla Kubu Raya
Penanganan karhutla juga menjadi perhatian Kepolisian Resor Kubu Raya dan Komando Distrik Militer 1207/Pontianak. Kedua institusi menyepakati penguatan sinergi dalam penanganan karhutla dan penjagaan stabilitas keamanan di Kabupaten Kubu Raya.
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan silaturahmi Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia dan Dandim 1207/Pontianak Kolonel Inf. Robby Firdaus di Markas Kodim 1207/Pontianak.
Langkah tersebut dilakukan menyusul musim kemarau panjang yang memicu munculnya titik api di sejumlah lahan gambut rawan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya.
Baca Juga: Polres Kubu Raya Perkuat Patroli Karhutla Hadapi Musim Kemarau, Sasar Sejumlah Wilayah Rawan
"Sinergitas TNI dan Polri harus terus diperkuat. Dengan koordinasi yang solid, kita bisa memastikan situasi kamtibmas tetap kondusif sekaligus mengawal berbagai program strategis pemerintah agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," kata Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa.
Keselamatan Siswa Menjadi Prioritas
Karhutla di sekitar SMP Negeri 12 Sungai Raya menunjukkan dampak langsung kebakaran lahan terhadap kehidupan masyarakat. Bagi sekolah, asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan kegiatan belajar siswa.
Keputusan menerapkan pembelajaran dari rumah menjadi langkah antisipasi ketika kondisi lingkungan sekolah tidak lagi mendukung pembelajaran tatap muka. Sekolah tetap menjaga proses pendidikan berjalan sambil menunggu kondisi kebakaran dan asap kembali terkendali.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara