PONTIANAK POST — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kubu Raya yang berlangsung selama 12 hari mengancam permukiman di belakang Kompleks Arwana Indah, Kecamatan Sungai Raya. BPBD Kabupaten Kubu Raya memprioritaskan pemadaman untuk mencegah api merambat ke rumah warga.
Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana BPBD Kubu Raya, Sulistiono, mengatakan api sempat berjarak sekitar 1,5 meter dari permukiman. Petugas kembali melakukan pemadaman setelah api yang sebelumnya dinyatakan padam kembali muncul.
"Kami punya kewajiban mengamankan rumah penduduk karena api tadi sudah mengancam permukiman dengan jarak sekitar satu setengah meter. Itu yang menjadi prioritas kami," kata Sulistiono di Sungai Raya, Kamis (6/8).
Baca Juga: Karhutla Kubu Raya Ganggu Aktivitas Belajar SMPN 12 Sungai Raya, 305 Siswa Terdampak
Api Kembali Muncul Setelah Sempat Padam
Sulistiono mengatakan kebakaran di belakang Kompleks Arwana Indah kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan padam. Petugas kemudian melakukan pemadaman ulang untuk mencegah kobaran merambat ke rumah warga.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan telah melebihi 10 hektare. Luasan tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pemadaman masih berlangsung.
Karhutla Berjarak 1,7 Kilometer dari Bandara Supadio
Lokasi karhutla di belakang Kompleks Arwana Indah berjarak sekitar 1,7 kilometer dari Bandara Supadio. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap kebakaran berpotensi berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
Selain Arwana Indah, titik karhutla yang menjadi perhatian berada di sekitar SMP Negeri 12 dan SD Negeri 5 di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Area yang terbakar di kawasan tersebut juga dinilai cukup besar.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) KC Bandara Internasional Supadio, Maya Damayanti, sebelumnya mengatakan kawasan sekitar bandara merupakan bagian dari ekosistem wilayah operasional bandara. Menurut dia, keterlibatan masyarakat penting untuk menjaga keamanan lingkungan operasional bandara, terutama menghadapi risiko kebakaran lahan di wilayah sekitar.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 20 Juli 2026 saat PT Angkasa Pura Indonesia memperkuat peran masyarakat sekitar melalui dukungan sarana pemadaman bagi Masyarakat Peduli Api (MPA).
Data resmi cuaca dari BMKG menunjukkan jarak pandang berada pada kisaran 4 kilometer hingga 6 kilometer. Pada saat yang sama, BMKG mencatat kondisi cuaca di Sungai Raya pada Kamis, 6 Agustus 2026, dalam keadaan berawan.
Data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa jarak pandang di bandara telah terganggu akibat asap karhutla. Kondisi jarak pandang dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan konsentrasi asap di sekitar bandara.
Hingga 6 Agustus 2026, belum ada keterangan dari pengelola Bandara Internasional Supadio atau otoritas penerbangan yang menyatakan adanya penerbangan tertunda akibat asap karhutla di Kubu Raya.
Keterbatasan Air Hambat Pemadaman Karhutla
Sulistiono mengatakan petugas menghadapi kendala keterbatasan sumber air selama proses pemadaman. Oleh karena itu, BPBD mengandalkan dukungan berbagai pihak untuk mengendalikan kebakaran.
Dukungan tersebut melibatkan Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), relawan pemadam kebakaran, serta unsur penanggulangan karhutla lainnya.
"Dengan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, kami berharap kebakaran ini segera dapat dikendalikan," tuturnya.
Petugas Mulai Kelelahan Tangani Karhutla
Di balik upaya melindungi rumah warga, petugas penanggulangan karhutla juga menghadapi beban kerja tinggi. Sulistiono mengatakan personel di lapangan mulai mengalami kelelahan setelah hampir satu bulan menangani kebakaran di sejumlah lokasi.
Khusus di kawasan Arwana Indah, petugas telah melakukan pemadaman selama 12 hari berturut-turut. Sejumlah petugas BPBD dan relawan bahkan mengalami kelelahan akibat paparan asap dan beban kerja yang tinggi.
Beberapa personel harus menjalani perawatan karena kondisi fisik menurun. Situasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menghadapi tantangan api dan asap, tetapi juga membutuhkan perlindungan bagi petugas di lapangan.
Baca Juga: Karhutla Kalbar Sulit Dipadamkan, Medan Berat dan Minim Air Hambat Penanganan
Bantuan Obat dan Vitamin untuk Petugas
Sulistiono mengapresiasi bantuan obat-obatan dan vitamin dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Bantuan tersebut dinilai membantu menjaga kondisi kesehatan personel selama bertugas.
"Kamis berharap dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat, baik melalui penyediaan logistik, peralatan, maupun layanan kesehatan bagi petugas agar upaya penanggulangan karhutla dapat berjalan optimal selama musim kemarau," katanya.
Keselamatan Warga dan Petugas Menjadi Prioritas
Karhutla di belakang Kompleks Arwana Indah menghadirkan ancaman langsung bagi permukiman. Jarak api yang sempat mencapai sekitar 1,5 meter dari rumah membuat pemadaman menjadi kebutuhan mendesak.
Pada saat yang sama, petugas harus bekerja berulang kali setelah api kembali muncul. Kelelahan personel dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
BPBD Kubu Raya berharap dukungan lintas pihak terus diperkuat. Logistik, peralatan, dan layanan kesehatan dibutuhkan agar petugas dapat menjalankan pemadaman sekaligus menjaga keselamatan masyarakat selama musim kemarau.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara