Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gejala ISPA di Kabupaten Kubu Raya mengalami peningkatan seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kubu Raya mencatat sebanyak 2.119 kasus ISPA dan gejala ISPA hingga 10 Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 30 persen dibandingkan periode Juli.
Kepala Dinkes Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan peningkatan kasus tersebut terpantau dari laporan 21 puskesmas melalui sistem E-Puskesmas. Sistem tersebut memungkinkan perkembangan kasus kesehatan dipantau secara berkala.
Baca Juga: Waspada ! Kabut Asap Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung, Ini Penjelasannya
“Kalau kita lihat dari bulan Juli dengan perbandingan Agustus sampai tanggal 10, kurang lebih 30 persen lonjakannya. Jumlah totalnya 2.119,” kata Wan Iwansyah kepada Pontianak Post, Selasa (11/8) di Sungai Raya.
Berdasarkan pemantauan tersebut, Kecamatan Sungai Raya menjadi wilayah dengan kasus ISPA dan gejala ISPA tertinggi. Kondisi itu dinilai berkaitan dengan kepadatan penduduk serta tingginya aktivitas karhutla di wilayah tersebut.
“Sungai Raya ini menjadi episentrum karhutla. Penduduknya padat, kemudian puskesmasnya juga banyak,” ujarnya. Di Kecamatan Sungai Raya terdapat empat puskesmas yang menjadi titik pelayanan kesehatan sekaligus sumber pelaporan kasus.
Wan Iwansyah menambahkan, Dinkes Kubu Raya telah memperkuat sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat kabut asap. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan promotif dan preventif dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Baca Juga: Temuan Ulat di MBG Teluk Pakedai, Dinkes Kubu Raya Perketat Pengawasan SPPG
Edukasi tersebut diarahkan agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak paparan asap serta menjaga kondisi kesehatan selama kualitas udara memburuk.
“Selain edukasi, pembagian masker juga dilakukan di sejumlah lokasi. Dinkes Kubu Raya setidaknya membagikan masker di lima titik, sementara puskesmas juga melakukan pembagian secara rutin,” ungkapnya.
Namun, Wan Iwansyah menegaskan pembagian masker tersebut bukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat melainkan sekadar memberikan edukasi kepada masyarakat.
Menurut dia, ketersediaan masker yang dimiliki pemerintah belum memungkinkan untuk dibagikan kepada seluruh warga. Karena itu, masyarakat tetap diharapkan memiliki kesadaran untuk melindungi diri secara mandiri ketika berada di luar rumah, terutama saat kualitas udara memburuk.
Selain langkah pencegahan, Dinkes Kubu Raya juga memperkuat tata laksana kasus di fasilitas pelayanan kesehatan. Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, terutama gangguan pernapasan, diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas.
“Kalau ada keluhan, masyarakat silakan berkunjung ke puskesmas. Kalau puskesmas bisa menangani, akan ditangani. Kalau tidak bisa, nanti akan kami rujuk,” katanya. Dinkes juga melakukan surveilans dengan memantau perkembangan kasus setiap hari.
Baca Juga: Kalbar Terancam Kemarau Berkepanjangan, BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Tingkatkan Risiko Karhutla
Data dari puskesmas menjadi dasar untuk melihat perkembangan kasus sekaligus menentukan langkah penanganan yang diperlukan. Kesiapan fasilitas kesehatan turut menjadi perhatian. Dinkes memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai, hingga oksigen tetap mencukupi.
“Sampai hari ini kami monitor kondisinya aman, terutama untuk daerah-daerah yang jauh dari jangkauan untuk mengisi oksigen,” ujarnya.
Wan Iwansyah mengingatkan, lonjakan kasus ISPA masih berpotensi berlanjut apabila kondisi kabut asap belum membaik. Terlebih, aktivitas karhutla masih berlangsung dan hujan belum turun secara signifikan. Hujan diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan kabut asap sekaligus memperbaiki kualitas udara.(ash)
Editor : Miftakhair