PONTIANAK POST — Kemarau panjang, kondisi tanah yang sangat asam, serta rendahnya nilai jual gabah menjadi tantangan serius bagi petani padi di Kelompok Tani Maju Bersama, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Beranggotakan 17 petani dan diketuai Juheri, kelompok tani tersebut kini mendapat dukungan teknologi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) DPPM Tahun 2026.
Mengusung tema “Transformasi Usahatani Padi Menuju Kemandirian Produksi dan Nilai Tambah melalui Teknologi Pengairan dan Penggilingan Padi Mandiri”, program ini dilaksanakan oleh tim dari Universitas Tanjungpura yang diketuai Dr. Ir. Nurhayati, S.T., M.T., bersama Dr. Ir. Purwoharjono, S.T., IPM dan Silvia Uslianti, S.T., M.T. sebagai anggota.
Kegiatan tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghadirkan inovasi teknologi tepat guna, memperkuat kemandirian masyarakat, meningkatkan produktivitas petani, serta mendorong peningkatan kesejahteraan melalui pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.
Baca Juga: Kemarau Tekan Layanan Air Bersih Tirta Raya, Sungai Kapuas Dangkal dan Konsumsi Warga Melonjak
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanah sawah milik mitra tergolong asam dengan tingkat pH sekitar 4–5. Kondisi tersebut, ditambah kemarau panjang dan potensi intrusi air asin, berpengaruh terhadap produktivitas tanaman padi. Selama ini, petani juga masih sangat bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air lahan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PKM memberikan dukungan berupa mesin pompa air jet sprayer yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pengairan lahan pada saat kekeringan. Petani juga memperoleh mesin sebar pupuk kering yang dapat digunakan untuk aplikasi dolomit maupun berbagai jenis pupuk kering lainnya.
Tidak hanya menyerahkan peralatan, tim PKM juga memberikan pelatihan kepada petani mengenai pengoperasian dan pemanfaatan teknologi tersebut agar dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan.
Persoalan petani tidak berhenti di lahan produksi. Setelah panen, gabah selama ini lebih banyak dijual kepada tengkulak sehingga nilai tambah hasil pertanian belum sepenuhnya dinikmati oleh petani.
Baca Juga: Serasah Mangrove Disulap Jadi Kompos, THP Politap Perkuat Ekonomi dan Kelestarian Pesisir Ketapang
Karena itu, program PKM juga menghadirkan mesin penggilingan padi serbaguna. Dengan fasilitas tersebut, Kelompok Tani Maju Bersama tidak hanya menjual gabah, tetapi mulai memiliki kemampuan untuk mengolah gabah menjadi beras secara mandiri dan berkelanjutan.
Beras hasil produksi selanjutnya diarahkan untuk dikemas secara lebih menarik dan profesional melalui kemasan serta label produk kelompok tani. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk sekaligus membuka peluang pemasaran sebagai beras siap jual.
“Program ini bukan sekadar memberikan bantuan alat, tetapi mendorong petani agar semakin mandiri, mulai dari pengelolaan air, pemupukan, pengolahan hasil hingga pemasaran,” ujar Dr. Nurhayati dalam kegiatan PKM tersebut.
Kepala Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Abbas, S.Ag., menyambut baik pelaksanaan Program PKM DPPM 2026 yang dinilai menyasar langsung kebutuhan petani di wilayahnya.
Menurut Abbas, dukungan teknologi berupa mesin pompa air, mesin pupuk kering, dan mesin penggilingan padi sangat penting untuk membantu petani menghadapi tantangan produksi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.
“Kami sangat mengapresiasi program ini karena memberikan solusi yang nyata bagi petani. Tidak hanya membantu menghadapi persoalan pengairan dan produksi, tetapi juga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen melalui penggilingan dan pengemasan beras secara mandiri,” ujar Abbas.
Ia berharap program tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh Kelompok Tani Maju Bersama dan menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya di Desa Kuala Dua.
“Harapan kami, bantuan dan pendampingan ini benar-benar dijaga dan dikembangkan, sehingga ke depan petani semakin mandiri, produktif, dan kesejahteraannya meningkat,” tambahnya.
Melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan berkelanjutan, Kelompok Tani Maju Bersama diharapkan mampu bertransformasi dari sekadar menjual gabah menjadi menghasilkan beras dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dari sawah yang menghadapi kekeringan menuju pengairan yang lebih mandiri. Dari gabah bernilai rendah menuju beras yang siap dipasarkan. Inilah langkah kecil menuju petani yang lebih tangguh, produktif, dan mandiri. (ser).
Editor : Hanif