PONTIANAK POST – Barisan peserta berdiri tegak di atas lahan yang menghitam bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Senin (17/8) pagi.
Di lokasi itu, Karang Taruna Kabupaten Kubu Raya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya menggelar upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tidak ada lapangan upacara yang hijau. Yang terbentang di sekitar peserta justru lahan bekas terbakar yang menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih nyata.
Lokasi tersebut sengaja dipilih untuk menyampaikan pesan bahwa memaknai kemerdekaan tidak hanya melalui seremoni. Bagi generasi saat ini, semangat perjuangan juga dapat diwujudkan dengan menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.
Pagi itu, lahan yang menjadi lokasi upacara tampak menyisakan jejak kebakaran. Permukaan tanah terlihat menghitam, sementara sisa vegetasi yang terbakar masih tampak di beberapa bagian. Kondisi tersebut membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa berbeda karena peserta berdiri di tengah kawasan yang sebelumnya dilanda karhutla.
Di tengah lahan bekas terbakar itu, barisan peserta tetap berdiri tegak mengikuti jalannya upacara. Aroma sisa pembakaran juga masih tercium dari sejumlah bagian lahan.Bendera Merah Putih berkibar di antara hamparan lahan yang menghitam, menghadirkan kontras antara suasana peringatan kemerdekaan dan kondisi lingkungan yang masih menghadapi ancaman kebakaran.
Semangat Kemerdekaan Diterjemahkan Menjadi Kepedulian
Ketua Karang Taruna Kubu Raya Juliansyah mengatakan, pemilihan lokasi upacara bukan tanpa alasan. Momentum kemerdekaan ingin digunakan untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
“Bukan tanpa alasan kami menghadirkan upacara di lahan karhutla di wilayah Kubu Raya. Tentunya membawa pesan bagaimana kita mengajak generasi muda untuk bisa mempertahankan dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” kata Juliansyah.
Menurut dia, semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan perlu diterjemahkan sesuai tantangan generasi sekarang.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kini semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap alam.
Terlebih, kondisi kemarau membuat lahan semakin rentan terbakar. Karena itu, pencegahan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah dan petugas pemadam.
Masyarakat, terutama generasi muda, perlu mengambil bagian dalam mencegah kebakaran serta menjaga hutan dan lahan.
“Kami juga ingin menghadirkan semangat kemerdekaan. Para pejuang dulu sangat semangat mempertahankan kemerdekaan. Nah, bagaimana semangat itu kita hadirkan juga untuk generasi muda, relawan pemadam, dan BPBD, yaitu peduli lingkungan dan melestarikannya,” ujarnya.
Upacara untuk Menguatkan Relawan
Kepala BPBD Kubu Raya Arianto mengapresiasi inisiatif Karang Taruna yang menggelar upacara bersama relawan dan masyarakat di tengah situasi karhutla.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat para relawan yang selama ini berada di garis depan penanganan kebakaran.
“Apel gabungan bersama relawan dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI tahun 2026 ini merupakan momentum yang sangat baik untuk meningkatkan semangat juang rekan-rekan relawan,” kata Arianto.
Ia menegaskan, perjuangan menghadapi karhutla belum berakhir. Selama ancaman kebakaran masih ada, upaya pemadaman sekaligus penyelamatan lingkungan harus terus dilakukan.
“Kita terus lanjutkan untuk membantu masyarakat menyelamatkan alam dari bencana kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Lebih dari 80 Titik Panas Terdeteksi
Ancaman karhutla masih terlihat dari aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Kubu Raya.
Arianto mengatakan, luas pasti lahan yang terbakar di Kubu Raya sepanjang 2026 belum dapat dihitung secara keseluruhan. Namun, berdasarkan pemantauan data Sipongi, aktivitas titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data BNPB pada Senin (17/8), lebih dari 80 titik panas terpantau di wilayah Kubu Raya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena cuaca yang semakin kering dapat membuat api lebih cepat menyebar. Bahkan, menurut Arianto, kebakaran mulai menjangkau wilayah yang sebelumnya tidak masuk dalam pemetaan kawasan rawan.
“Dengan semakin keringnya cuaca, arah dan luasan kebakaran semakin meluas. Bukan hanya di daerah yang selama ini kita identifikasi rawan, tapi sudah ke wilayah lainnya,” jelas Arianto.
Air Menipis, Petugas Kesulitan Menjangkau Api
Di lapangan, petugas menghadapi sejumlah kendala dalam menangani karhutla. Salah satunya berkurangnya debit air akibat kondisi cuaca yang semakin kering.
Menipisnya sumber air membuat petugas harus mencari lokasi yang masih memiliki cadangan air untuk mendukung pemadaman. Situasi semakin sulit ketika titik api berada jauh dari sumber air.
Akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi persoalan. Medan yang sulit dijangkau kendaraan membuat mobilisasi personel dan peralatan pemadaman menjadi lebih berat.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan dukungan berbagai pihak. Selain mengandalkan petugas di darat, pemadaman juga dibantu melalui operasi udara.
Water Bombing Bantu Penanganan Karhutla
Arianto mengapresiasi pelaksanaan operasi water bombing yang dilakukan TNI AU bersama BPBD Provinsi Kalimantan Barat untuk membantu menangani kebakaran di wilayah Kubu Raya.
“Water bombing itu tugas dari TNI AU dan BPBD Provinsi. Kami sangat berterima kasih atas respons cepat yang dilakukan di wilayah Kabupaten Kubu Raya,” tutupnya.
Di lahan yang pernah dilalap api itu, upacara kemerdekaan akhirnya bukan hanya menjadi peringatan tentang masa lalu. Bagi peserta dan relawan yang hadir, merah putih yang berkibar menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari tanggung jawab generasi hari ini.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro