Berbulan-bulan Melawan Api, 94 Titik Karhutla Kembali Muncul di Kubu Raya

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:57 WIB
TAK KUNJUNG USAI: Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan lahan gambut yang terbakar di Kubu Raya. Sedikitnya 94 titik api terdeteksi di empat kecamatan hingga Jumat (21/8/2026).
TAK KUNJUNG USAI: Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan lahan gambut yang terbakar di Kubu Raya. Sedikitnya 94 titik api terdeteksi di empat kecamatan hingga Jumat (21/8/2026).

 

PONTIANAK POST – Berbulan-bulan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), petugas gabungan di Kabupaten Kubu Raya kembali harus berhadapan dengan puluhan titik api. Hingga Jumat (21/8/2026), sedikitnya 94 titik api terdeteksi tersebar di Kecamatan Sungai Raya, Sungai Ambawang, Rasau Jaya, dan Kuala Mandor B.

Petugas masih bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memadamkan api, melakukan penyekatan, dan membasahi lahan. Di tengah cuaca panas dan angin yang berubah cepat, pekerjaan mereka belum selesai meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan.

Kebakaran di lahan gambut membuat pekerjaan petugas berbeda dari pemadaman kebakaran biasa. Api yang terlihat di permukaan dapat hilang, tetapi bara masih bertahan di bawah tanah.

Karena itu, petugas harus melakukan penyiraman dan pendinginan berulang kali. Tujuannya memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api dan menjalar ke area lain.

“Beberapa lokasi cukup sulit dijangkau. Sumber air juga jauh. Petugas harus bekerja ekstra untuk melakukan pembasahan agar api dan bara tidak kembali menyala,” ujar Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade.

Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Lancangkuning.net, sedikitnya 94 titik api terdeteksi di empat kecamatan.

Sungai Raya menjadi wilayah dengan konsentrasi titik api terbanyak, disusul Sungai Ambawang. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Bandara Internasional Supadio berada di wilayah Sungai Raya.

Tim gabungan kini memprioritaskan lokasi dengan konsentrasi titik api tinggi untuk mencegah kebakaran meluas.

Penanganan karhutla di lapangan tidak selalu berjalan mudah. Sebagian lokasi sulit dijangkau, sementara sumber air berada cukup jauh dari titik kebakaran.

Cuaca panas dan angin kencang membuat api lebih mudah bergerak. Petugas harus melakukan penyekatan agar kobaran tidak merembet menuju lahan lain maupun permukiman.

“Petugas menangani sedikitnya 94 titik kebakaran yang tersebar di Kecamatan Sungai Raya, Sungai Ambawang, Rasau Jaya dan Kuala Mandor B. Di sejumlah lokasi, masih terlihat kepulan asap setelah proses pemadaman,” kata Ade.

Persoalan tidak hanya datang dari kondisi alam. Peralatan pemadaman juga menjadi tantangan tersendiri.

Keterbatasan panjang selang membuat petugas harus menyesuaikan posisi pemadaman dengan medan. Mesin pemadam pun dapat mengalami gangguan ketika digunakan dalam kondisi panas dan durasi panjang.

Akibatnya, proses pemadaman membutuhkan tenaga, waktu, dan koordinasi lebih besar.

Sebagian titik kebakaran berada di lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar kering. Beberapa titik juga muncul di kawasan yang sebelumnya pernah terbakar.

Kondisi tersebut membuat petugas tidak cukup hanya mencari api yang terlihat. Tanah harus terus dibasahi untuk memastikan panas dan bara di bawah permukaan benar-benar hilang.

Inilah yang membuat satu lokasi kebakaran dapat kembali menjadi pekerjaan bagi petugas, bahkan setelah api dinyatakan padam.

Sungai Raya mendapat perhatian khusus karena wilayah tersebut menjadi lokasi Bandara Internasional Supadio.

Kepulan asap dari karhutla berpotensi mengganggu jarak pandang apabila konsentrasinya meningkat. Namun, kondisi operasional penerbangan tetap harus mengacu pada informasi dan penilaian otoritas bandara serta pihak terkait.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melakukan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan di sejumlah lokasi.

Mereka tidak hanya mengejar api yang terlihat. Setiap kepulan asap harus diperiksa untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.

Berbulan-bulan menghadapi karhutla membuat pekerjaan itu seperti siklus yang belum selesai: api muncul, petugas datang, api dipadamkan, lahan didinginkan, lalu titik baru kembali ditemukan.

Di lahan gambut, padamnya kobaran api di permukaan belum menjadi akhir. Petugas masih harus memastikan satu hal: api benar-benar mati sampai ke dalam tanah. *

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Karhutla Kubu Raya petugas pemadam karhutla 94 titik api kebakaran lahan gambut sungai raya