Kopi Liberika dan Upaya Menjaga Hutan di Desa Padi Jaya Kubu Raya

Uray Ronald • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:36 WIB
Ilustrasi - Tanaman kopi.
Ilustrasi - Tanaman kopi.

 

PONTIANAK POST — Sebanyak 200 bibit kopi liberika dibawa Tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak ke Desa Padi Jaya, Kabupaten Kubu Raya untuk dikembangkan sebagai bagian dari sistem agroforestri.

Desa Padi Jaya merupakan salah satu kawasan penyangga Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Untan Pontianak. Di wilayah tersebut, kebun masyarakat didominasi tanaman produktif seperti sawit, pinang, kelapa, dan karet.

Bibit kopi liberika yang diberikan bukan untuk menggantikan tanaman yang sudah tumbuh, melainkan menjadi tambahan dalam sistem agroforestri yang menggabungkan tanaman kehutanan dengan tanaman produktif masyarakat.

Ketua Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kehutanan Untan Pontianak Erianto mengatakan keberadaan KHDTK tidak boleh hanya dipandang sebagai kawasan pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Baca Juga: Kopi Liberika Sendoyan Sambas Bawa Dedi Raih Penghargaan Gubernur Kalbar

Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi

KHDTK Untan Pontianak memiliki fungsi pendidikan, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar.

Menurut Erianto, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan membuat aturan perlindungan kawasan. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan juga perlu memiliki pilihan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan tanpa menambah tekanan terhadap lingkungan.

"Konservasi harus beriringan dengan pemberdayaan. Masyarakat perlu mendapatkan manfaat dari keberadaan kawasan hutan, sehingga mereka juga memiliki rasa memiliki dan ikut menjaga kawasan tersebut," katanya.

Erianto menilai kondisi kebun masyarakat di Desa Padi Jaya menjadi modal dalam pengembangan kopi liberika. Pengembangan ekonomi, menurut dia, tidak selalu harus dilakukan dengan membuka lahan baru.

Tanaman produktif dapat dimasukkan ke dalam kebun yang sudah ada dengan tetap memperhatikan karakter tanah, tata air, tanaman penaung, serta kemampuan masyarakat dalam pemeliharaannya.

Pendekatan agroforestri dipilih karena memungkinkan petani mendapatkan hasil dari tanaman produktif sekaligus mempertahankan fungsi ekologis lahan.

Kopi liberika dipilih karena dinilai cukup adaptif terhadap kondisi lahan tertentu, termasuk kawasan rawa dan gambut. Namun, pengembangannya tidak dapat dilakukan secara instan.

"Bibit tidak cukup hanya dibagikan lalu ditanam. Harus dilihat kesesuaian lahannya, tinggi muka air, pola pemeliharaan, hingga kemampuan petani," ujarnya.

Hal tersebut dinilai penting karena sebagian wilayah Kalimantan Barat memiliki karakter lahan gambut yang membutuhkan pengelolaan hati-hati. Kesalahan pengelolaan dapat membuat tanaman tidak berkembang optimal sekaligus meningkatkan risiko kerusakan lingkungan.

Selain membawa bibit kopi liberika, Tim PKM Fakultas Kehutanan Untan Pontianak juga memberikan edukasi konservasi kepada masyarakat melalui banner pencegahan pembakaran lahan dan poster satwa liar yang dilindungi.

Baca Juga: Kopi Liberika Kalbar Tembus Pasar Dunia, Mulai Melirik Pembeli dari Dubai hingga Swedia

Warga Belajar Perbanyakan Tanaman

Kegiatan di Desa Padi Jaya tidak berhenti pada penyampaian materi. Warga juga mengikuti praktik perbanyakan tanaman secara generatif dan vegetatif, termasuk cangkok, okulasi, dan sambung pucuk.

Warga berdiskusi mengenai persoalan tanaman yang selama ini mereka hadapi, mulai dari teknik memilih cabang dan mata tunas, media cangkok, hingga cara meningkatkan keberhasilan penyambungan.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan teknologi budidaya, sementara masyarakat memiliki pengalaman dalam membaca kondisi tanah, cuaca, dan karakter tanaman di wilayah mereka.

Pertemuan keduanya menjadi bagian dari proses pendampingan masyarakat.

Harapan Ekonomi dari Kopi

Kepala Desa Padi Jaya Yani Hartomo menyambut baik program Fakultas Kehutanan Untan Pontianak. Menurut dia, masyarakat memiliki potensi lahan untuk mengembangkan kopi, tetapi masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, peralatan, dan kemampuan teknis.

"Kami sangat menyambut program ini karena bisa membantu masyarakat dan daerah. Kami berharap jika ada bantuan bibit kopi liberika lagi, masyarakat bisa mendapatkan bibit yang tersertifikasi karena kualitas buahnya lebih terjamin," ujar Yani.

Selama ini, sebagian masyarakat masih menggunakan bibit kopi kampung atau lokal yang hasil buahnya belum maksimal. Selain bantuan bibit, warga berharap adanya pendampingan berkelanjutan dan kerja sama dengan pihak luar.

Yani mengatakan masyarakat memiliki lahan, tetapi masih membutuhkan modal dan kemampuan teknis. Ia berharap investor kopi atau pelaku usaha seperti kafe di Pontianak dapat melihat potensi desa dan menjalin kerja sama sebagai sumber bahan baku.

Tren konsumsi kopi yang terus berkembang, menurut dia, menjadi peluang bagi masyarakat desa apabila mampu menghasilkan produk berkualitas.

Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar Percepat Indikasi Geografis Kopi Liberika Melawi Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

Sebanyak 200 bibit kopi liberika yang diserahkan kepada Desa Padi Jaya menjadi langkah awal pengembangan komoditas tersebut. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pemantauan, pendampingan, pengolahan pascapanen, dan akses pasar.

Pemberdayaan masyarakat tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian berakhir. Keberhasilannya akan terlihat ketika masyarakat mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kebun mereka sendiri.

Saat kegiatan berlangsung pada 27 Agustus 2026, warga Desa Padi Jaya turut menyajikan kopi robusta hasil produksi lokal kepada rombongan. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengalaman dengan komoditas kopi.

Di kawasan penyangga KHDTK Untan, 200 bibit kopi liberika kini mulai dikembangkan. Harapannya, tanaman tersebut tidak hanya tumbuh di kebun warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi dengan tetap menjaga kawasan hutan.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
kopi liberika Kubu Raya KHDTK Untan kopi liberika Kalimantan Barat agroforestri Fakultas Kehutanan Untan