PONTIANAK POST - Bupati Kubu Raya, Sujiwo memastikan pameran perkebunan Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC) yang dijadwalkan berlangsung di Qubu Resort pada 22–23 September mendatang batal digelar. Keputusan itu diambil karena waktu pelaksanaan dinilai tidak tepat di tengah masyarakat yang masih menghadapi kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sujiwo mengatakan, kegiatan tersebut sebelumnya merupakan agenda yang direncanakan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Perkebunan. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi daerah dan situasi masyarakat, Pemkab Kubu Raya telah berkomunikasi dengan pihak kementerian untuk membatalkan pelaksanaannya.
“Timing ini tidak tepat, waktunya tidak tepat. Di saat situasi bencana kekeringan, kita lagi pontang-panting memadamkan api, kemudian digelar kegiatan yang sifatnya pameran,” kata Sujiwo, Senin (14/9) di Kantor Bupati Kubu Raya.
Menurut dia, kegiatan yang bersifat pameran dan seremonial berpotensi menimbulkan persepsi kurangnya kepekaan terhadap kondisi masyarakat jika tetap digelar di tengah bencana. Terlebih, isu perkebunan, khususnya kelapa sawit, juga tengah menjadi perhatian masyarakat di tengah persoalan lingkungan dan karhutla yang masih terjadi.
Sujiwo menegaskan, pembatalan tersebut bukan berarti Pemkab Kubu Raya menolak kegiatan di sektor perkebunan. Pemerintah daerah tetap melihat sisi positif kegiatan tersebut, tetapi waktu pelaksanaannya dinilai belum tepat.
“Kita harus bisa membaca suasana hati, suasana kebatinan masyarakat. Kemudian yang kedua, ini bentuk empati dengan situasi sekarang ini,” ujarnya.
Sujiwo menjelaskan, masyarakat Kubu Raya masih menghadapi keterbatasan air akibat kemarau panjang. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak masih mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Baca Juga: Wabup Kubu Raya Dorong ISMI Kalbar Tak Sekadar Wadah Pengusaha, Harus Jadi Penggerak Ekonomi Umat
Di sisi lain, upaya mitigasi dan penanggulangan karhutla juga masih berlangsung. Meski kondisi kebakaran disebut mulai terkendali, dampak asap masih dirasakan di sejumlah wilayah.
“Bencana kekeringan, rakyat lagi sedang susah air, air minum, air bersih. Kemudian upaya mitigasi dan penanggulangan kebakaran terus masih kita lakukan,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama Pemkab Kubu Raya dalam mengambil keputusan. Karena itu, Sujiwo menyampaikan permohonan maaf kepada Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Perkebunan atas keputusan pembatalan tersebut. Dia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan ketika kondisi daerah telah normal.
“Kalau sudah normal, seperti tahun lalu kita berikan support juga,” ujarnya.
Sujiwo memastikan keputusan pembatalan telah disampaikan kepada jajaran terkait di lingkungan Pemkab Kubu Raya. Dia meminta pembatalan tersebut dikawal dan dipastikan kegiatan tidak dilaksanakan sesuai jadwal semula.
Keputusan itu diambil setelah informasi mengenai rencana kegiatan mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Pemerintah daerah kemudian memilih segera memberikan kepastian kepada publik.
Baca Juga: Karhutla Singkawang Masuk Hari ke-25, 36,5 Hektare Lahan Gambut Masih Keluarkan Asap
“Karena sudah hiruk-pikuk di luaran sana, di media sosial, maka saya harus segera mengambil langkah. Secara tegas kegiatan itu kita batalkan untuk tidak dilaksanakan,” pungkasnya. (ash)
Editor : Miftahul Khair