PONTIANAK POST – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya memperkuat mitigasi menghadapi dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan kondisi masyarakat saat ini sudah cukup berat karena menghadapi kabut asap, kekeringan, serta keterbatasan air minum dan air bersih.
Karena itu, mitigasi perlu dilakukan sejak awal agar persoalan lain tidak muncul di tengah kondisi bencana. “Jangan sampai ditambah lagi nanti BBM pun antre lagi di SPBU. Begitu juga LPG langka. Kita harus bareng-bareng melakukan mitigasi,” kata Sujiwo usai memimpin Rapat Koordinasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Ruang Pamong Praja I, Kantor Bupati Kubu Raya, Senin (14/9).
Rapat tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, Pertamina, PLN, dan sejumlah elemen terkait. Menurut Sujiwo, keterlibatan Pertamina dan PLN penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Baca Juga: Kayong Utara Siapkan Rp20 Miliar untuk Karhutla, Pengadaan Mesin Pompa Masih Terkendala
Sujiwo menegaskan seluruh elemen harus bergerak bersama melalui langkah preventif dan mitigasi yang konkret. Pemerintah, kata dia, harus membagi fokus pada sejumlah persoalan sekaligus.
Pertama, penanganan kebakaran lahan. Kedua, menyiapkan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi dan air bersih. Ketiga, memastikan program pemerintahan dan pelayanan masyarakat lainnya tetap berjalan.
“Kita ini harus bisa membelah isi kepala kita menjadi tiga. Pertama, bagaimana memikirkan penanganan kebakaran lahan. Yang kedua, bagaimana kita harus bisa memitigasi, menyiapkan sumber air baku untuk air layak konsumsi dan air bersih. Yang ketiganya, memastikan semua program-program kita di pemerintah ini harus tetap berjalan,” katanya.
Untuk kebutuhan air, Sujiwo mengatakan Pemkab Kubu Raya bersama TNI, Polri, dan sejumlah pihak telah melakukan mitigasi sejak jauh hari. Salah satunya dengan menyiapkan sejumlah sumber air baku yang dinilai masih memiliki cadangan cukup.
Baca Juga: Forkompimda Sanggau Bahas Karhutla hingga Krisis Air Bersih, Ini Persoalan yang Jadi Perhatian
Pemerintah kabupaten juga mengidentifikasi sejumlah waduk yang berpotensi menjadi sumber air baku. Di antaranya Waduk Hoce, waduk di Taman Makam Pahlawan Dharma Patria Jaya, serta dua waduk di kawasan Korpasgat 466/Brajamusti.
“Dari empat waduk itu, kalau terjadi kemarau sampai satu tahun sekalipun, kita masih aman untuk sisi cadangan airnya,” ujar Sujiwo.
Meski cadangan sumber air dinilai masih mencukupi, pemerintah tetap perlu menyiapkan sarana pengolahan. Menurut Sujiwo, pembangunan instalasi pengolahan air (IPA) secara permanen tidak mungkin dilakukan secara mendadak dalam kondisi saat ini.
Karena itu, pemerintah mengandalkan sejumlah unit water treatment yang telah tersedia. Sujiwo menyebut terdapat empat unit mobil water treatment yang dapat dioperasikan. Selain itu, terdapat dua unit Tosa water treatment yang turut disiapkan.
“Empat mobil ini bisa melakukan pengolahan air yang keluarnya sudah air layak minum. Kurang lebih 150 ribu liter,” katanya.
Di tengah upaya memastikan ketersediaan air, Sujiwo juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi air yang belum dipastikan kualitasnya. Dia meminta pengawasan terhadap air yang disiapkan pemerintah maupun air yang dijual masyarakat, termasuk air isi ulang di depot-depot.
Baca Juga: DPRD Singkawang Soroti Bantuan Rp15 Miliar untuk Karhutla, Penggunaannya Diminta Transparan
Pemerintah akan melibatkan Dinas Kesehatan bersama unsur terkait untuk memeriksa kualitas air yang beredar di masyarakat. Menurut dia, kondisi air yang terasa payau masih dapat ditoleransi selama air tersebut memenuhi standar untuk dikonsumsi dan terbebas dari bakteri maupun kandungan kimia berbahaya.
Dia mengingatkan air yang tercemar bakteri seperti E. coli berpotensi menyebabkan diare. Jika tidak ditangani dengan baik, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih luas.
“Jangan sampai masyarakat itu minum air yang tidak layak. Akhirnya minum yang ada bakterinya, E. coli misalnya. Akhirnya nanti bisa diare. Diare itu kan penyebarannya cepat, nanti bisa menjadi wabah,” katanya.(ash)
Editor : Miftahul Khair