PONTIANAK POST - Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya Wan Iwansyah mengimbau orang tua rutin membawa bayi dan balita ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Langkah tersebut untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala.
Wan Iwansyah juga meminta orang tua tidak menolak imunisasi. Menurutnya, imunisasi merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan anak yang perlu diberikan sesuai jadwal.
Dia mengatakan tenaga kesehatan perlu terus memperkuat kerja sama dengan kader kesehatan dan pemerintah desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satu yang perlu terus disosialisasikan ialah pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita.
Baca Juga: RS SSMA Pontianak Ajak Masyarakat Tak Takut Periksa TBC, Imunisasi BCG Cegah Infeksi Berat pada Anak
Menurutnya, edukasi harus tetap dilakukan meski masih ditemukan orang tua yang menolak imunisasi. Pemahaman masyarakat mengenai manfaat imunisasi dinilai perlu terus diperkuat.
“Tidak ada kata menyerah untuk memberikan edukasi dan pemahaman pentingnya imunisasi,” ujar Wan Iwansyah kepada Pontianak Post, Minggu (4/10) di Sungai Raya.
Ia menyebut salah satu kekhawatiran yang masih ditemukan di masyarakat ialah munculnya demam setelah anak mendapatkan imunisasi. Dia menjelaskan, demam dapat menjadi salah satu reaksi setelah imunisasi dan umumnya bersifat sementara.
Jika diperlukan, kata dia, parasetamol dapat digunakan untuk membantu meredakan demam. Namun, pemberiannya harus memperhatikan dosis sesuai usia dan berat badan anak serta mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.
Baca Juga: Cakupan Imunisasi Kalbar Masih Rendah, Anak Rentan Penyakit dan Risiko KLB Meningkat
Dia mengingatkan, kekhawatiran terhadap reaksi ringan seperti demam tidak seharusnya menjadi alasan orang tua melewatkan jadwal imunisasi. Orang tua dapat berkonsultasi dengan petugas kesehatan apabila memiliki kekhawatiran atau menemukan gejala yang perlu mendapat perhatian setelah imunisasi.
Dia juga menyoroti pentingnya dukungan seluruh anggota keluarga dalam keputusan pemberian imunisasi. Menurutnya, penolakan terhadap imunisasi tidak selalu berasal dari ibu, tetapi dapat dipengaruhi ayah maupun anggota keluarga lainnya, termasuk nenek.
Dalam sejumlah kondisi, kata dia, ibu sebenarnya bersedia membawa anak untuk imunisasi, tetapi keputusan tersebut tidak mendapat dukungan dari suami atau anggota keluarga lainnya. Karena itu, edukasi mengenai imunisasi dinilai perlu menyasar seluruh anggota keluarga.(ash)
Editor : Miftahul Khair