Tidak heran jika setiap bulan Ramadan, di Jalan Merdeka Barat, Kota Pontianak banyak ditemui gerobak-gerobak penjual sotong pangkong. Bahkan mereka juga menggelar tikar lesehan di atas trotoar. Salah satunya adalah Budianto. Pria berusia 51 tahun itu sudah 10 tahun berbisnis kuliner sotong pangkong.
Dia menjelaskan, lapak sotong pangkong-nya dibuka mulai pukul 17.00 hingga dini hari. Peminatnya tidak hanya dari masyarakat Kota Pontianak tetapi ada juga yang dari luar kota. Mereka berasal dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Menurut Budianto, harga satu porsi sotong cukup bervariasi mulai dari Rp25 ribu hingga ratusan ribu, tergantung ukuran.
“Kalau ukuran kecil seperti ini Rp 25 ribu, ukuran sedang Rp35 ribu hingga Rp 50 ribu. Bahkan ada yang ratusan ribu,” bebernya.
Untuk tahun ini, pendapatannya sedikit naik dibandingkan tahun sebelumnya karena badai pandemi Covid-19 sekarang sudah reda.
“Alhamdulillah tahun ini omzet naik. Tapi pengeluaran juga naik, karena harga sotong kering di pasaran melonjak. Saat ini saja harga per kilogramnya mencapai Rp600 ribu,” kata dia.
Budianto juga menyebutkan, yang membuat sotong pangkong milik-nya banyak diminati adalah karena kekhasan bumbu atau saos yang digunakan, yakni saos asam pedas.
“Di sini ada tiga varian bumbu. Ada asam pedas, bumbu ebi, dan bumbu cabai. Tapi yang paling diminati bumbu asam pedas,” katanya.
Jessica, salah seorang pembeli sotong pangkong mengaku selalu menikmati kuliner sotong pangkong pada saat bulan Ramadan setiap tahun. Baginya ini sudah tradisi. Selama ini, kuliner sotong pangkong memang hanya ramai diminati dan dicari orang pada saat Ramadan.
“Selain rasanya yang gurih, saya juga dapat menikmati suasana malam hari pada saat bulan Ramadhan di Kota Pontianak ini,” ujarnya. (arf) Editor : Misbahul Munir S