PONTIANAK POST — Kuliner khas Kalimantan Barat, manok pansoh, pernah mencuri perhatian dalam eksplorasi masakan adat yang dibawakan alumni MasterChef Indonesia.
Hidangan ayam yang dimasak dalam bambu ini dinilai unik sekaligus sarat nilai budaya.
La Ode, alumni MasterChef Indonesia musim delapan, mengaku pengalaman memasak manok pansoh menjadi salah satu yang paling berkesan. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga teknik memasaknya yang berbeda dari masakan modern.
“Kalau tidak dimasak dengan bambu, tidak bisa disebut manok pansoh. Aroma bambu bakar itu yang membuat rasanya khas,” ujarnya dilansir dari ANTARA.
Manok pansoh merupakan hidangan tradisional masyarakat Dayak yang dimasak dengan cara memasukkan potongan ayam dan bumbu ke dalam batang bambu, lalu dibakar di atas api terbuka.
Teknik ini menghasilkan aroma khas yang tidak bisa digantikan alat masak lain.
Menurut La Ode, proses memasak hidangan ini tergolong sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian. Api harus dijaga tetap stabil dengan cara terus ditiup agar tidak padam.
“Prosesnya memang sederhana, tapi butuh kesabaran. Justru di situ letak nilainya. Saat berhasil, rasa makanannya terasa lebih istimewa,” katanya.
Selain teknik memasak, manok pansoh juga dikenal sebagai hidangan sehat. Tanpa penggunaan minyak berlebih maupun penyedap, cita rasa alami ayam dan rempah tetap menonjol.
Perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Silvy Motoh, menilai kuliner adat seperti manok pansoh memiliki nilai gizi sekaligus kearifan lokal yang tinggi.
“Masakan adat umumnya tidak banyak menggunakan minyak dan dimasak cepat, sehingga kandungan gizinya tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan diri masyarakat adat terhadap kekayaan kuliner mereka. Selama ini, banyak hidangan lokal yang justru kurang dikenal luas.
Menurut Silvy, ajang seperti kompetisi memasak hingga festival kuliner bisa menjadi sarana efektif memperkenalkan masakan tradisional ke publik yang lebih luas.
La Ode pun menegaskan, kuliner seperti manok pansoh tidak hanya sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga.
“Ini bukan cuma soal rasa, tapi juga warisan. Kita harus terus melestarikannya,” tutupnya.
Resep dan Cara Memasak
Manok pansoh adalah salah satu kuliner khas Kalimantan Barat yang lekat dengan tradisi masyarakat Dayak.
Ciri utamanya terletak pada teknik memasak menggunakan bambu, yang memberikan aroma asap alami dan cita rasa khas yang sulit ditiru dengan alat modern.
Hidangan ini tidak hanya sederhana dari segi bahan, tetapi juga dikenal sehat karena minim minyak dan tanpa penyedap buatan. Berikut resep manok pansoh yang bisa dicoba di rumah.
Bahan-bahan:
- 1 ekor ayam kampung, potong kecil-kecil
- 5 siung bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 5 buah cabai merah (sesuai selera)
- 2 batang serai, memarkan
- 2 lembar daun salam
- 3 lembar daun jeruk
- 1 ruas jahe, geprek
- Garam secukupnya
- Air secukupnya
- Daun singkong atau daun ubi (opsional)
- 1 batang bambu muda (bersih dan tidak pecah)
Cara Membuat:
- Haluskan bawang merah, bawang putih, dan cabai.
- Campurkan bumbu halus dengan potongan ayam. Tambahkan garam, serai, daun salam, daun jeruk, dan jahe. Aduk hingga merata.
- Masukkan campuran ayam ke dalam bambu. Tambahkan sedikit air agar tidak kering saat dimasak.
- Tutup ujung bambu menggunakan daun pisang atau daun lain agar isi tidak keluar.
- Bakar bambu di atas api sedang sambil diputar secara berkala agar matang merata. Proses ini biasanya memakan waktu 45–60 menit.
- Setelah matang, belah bambu dan sajikan manok pansoh selagi hangat.
Tips Memasak:
- Gunakan ayam kampung agar tekstur lebih kenyal dan gurih.
- Pilih bambu muda agar tidak mudah pecah saat dibakar.
- Jaga api tetap stabil—tidak terlalu besar agar ayam matang sempurna hingga ke dalam.
Manok pansoh paling nikmat disantap bersama nasi hangat dan sambal sederhana. Selain rasanya yang khas, proses memasaknya juga menghadirkan pengalaman berbeda—lebih dekat dengan alam dan tradisi. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro