PONTIANAK POST — Di sebuah rumah sederhana di Kota Pontianak, aroma daun bambu kukus masih mengepul dari dapur milik The Ngak Tjeng (87). Perempuan kelahiran Punggur itu menjadi salah satu penjaga terakhir tradisi kuliner Tionghoa, khususnya bakcang yang lekat dengan perayaan Festival Duan Wu (Peh Cun).
Pada Kamis (18/6/2026), ia kembali melakukan aktivitas seperti puluhan tahun terakhir: melipat daun, mengisi ketan, dan mengikat bakcang secara manual. Di usia yang sudah lanjut, ia tetap mempertahankan proses tradisional yang diwariskan dalam keluarganya.
Pada momen Festival Bakcang, produksi bakcang yang dikerjakan The Ngak Tjeng mengalami peningkatan dibanding hari-hari biasa. Berdasarkan keterangan panitia Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP) serta keluarga, jumlah produksi yang ia kerjakan bersifat skala rumahan yang meningkat signifikan menjelang festival, dengan estimasi berada pada kisaran puluhan hingga ratusan bakcang dalam satu periode produksi, tergantung tingkat pesanan dan kondisi fisiknya.
Ketua panitia Festival Bakcang 2026, Hendry Pangestu Lim, menyebut bahwa keterlibatan The Ngak Tjeng tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga pada praktik langsung yang menjadi bagian dari edukasi budaya kepada masyarakat.
Sementara pihak keluarga menegaskan bahwa seluruh proses tetap dilakukan secara manual di rumah, tanpa sistem produksi massal, sehingga setiap bakcang yang dihasilkan tetap mengikuti cara tradisional yang telah dijalankan secara turun-temurun.
Dapur Kecil yang Menjaga Warisan Besar
Di dapurnya yang sederhana, The Ngak Tjeng bekerja dengan ketelitian tinggi. Beras ketan disiapkan, daun bambu dilunakkan, dan isian diracik satu per satu.
Ia lahir pada 1939 di Punggur dan sejak muda telah mengenal tradisi membuat bakcang dalam keluarga Tionghoa. Hingga kini, ia tetap menjalankan peran sebagai penjaga pengetahuan kuliner tersebut.
“Kalau tidak ada yang membuat, lama-lama anak muda tidak tahu lagi bagaimana tradisi ini dijalankan,” ujarnya.
Peran Perempuan dalam Menjaga Tradisi Keluarga
Dalam budaya Tionghoa, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ritus keluarga. Mulai dari persiapan Imlek, ziarah leluhur, hingga perayaan Peh Cun, perempuan kerap menjadi penggerak utama tradisi.
The Ngak Tjeng menjalani peran itu sepanjang hidupnya. Selain bakcang, ia juga mahir membuat chai kue dan berbagai kuliner tradisional lainnya.
Bagi dirinya, tradisi bukan sekadar kebiasaan, tetapi tanggung jawab yang harus dijaga.
Festival Duan Wu dan Makna Budaya Bakcang
Festival Bakcang atau Festival Duan Wu diperingati setiap hari ke-5 bulan ke-5 kalender lunar Tiongkok. Perayaan ini juga dikenal sebagai Peh Cun dan dikaitkan dengan penghormatan terhadap tokoh sejarah Qu Yuan (340–278 SM).
Tradisi ini berkembang menjadi simbol kebersamaan, pengorbanan, dan penghormatan terhadap nilai integritas dalam budaya Tionghoa.
Bakcang sebagai Identitas dan Penghidupan
Bagi The Ngak Tjeng, bakcang bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas dan sumber aktivitas di usia senja. Ia masih menerima pesanan dari kolega sebagai pengisi waktu sekaligus tambahan penghasilan.
Namun yang lebih penting baginya adalah menjaga agar tradisi ini tidak hilang.
Festival Bakcang 2026 dan Rekor 1.000 Porsi
Tradisi yang dijaga The Ngak Tjeng turut hadir dalam Festival Bakcang 2026 di Pontianak yang digelar Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP) di Alun-Alun Kapuas.
Festival tersebut mencatat pembagian 1.000 bakcang kepada masyarakat dan disaksikan Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat.
Proses pembuatan bakcang oleh The Ngak Tjeng turut didokumentasikan sebagai bagian dari pelestarian budaya living heritage.
Bahan-Bahan Bakcang Tradisional
Pembuatan bakcang menggunakan bahan sederhana yang umum dalam tradisi Tionghoa:
- Daun bambu atau daun pisang
- Beras ketan (dikukus setengah matang)
- Udang ebi kering
- Jamur
- Daging (ayam, sapi, atau babi)
- Kacang (kacang tanah atau sejenisnya)
- Telur asin (opsional)
- Tali pengikat
- Air dan alat kukus
Cara Membuat Bakcang Tradisional
Proses pembuatan bakcang dilakukan secara manual dan membutuhkan ketelitian tinggi.
1. Persiapan bahan
Beras ketan dicuci bersih lalu dikukus setengah matang.
2. Menyiapkan isian
Daging, jamur, ebi, dan kacang dimasak atau ditumis sesuai resep keluarga.
3. Membentuk daun
Daun bambu dilunakkan dan dibentuk kerucut atau segitiga.
4. Mengisi bakcang
Ketan dimasukkan bersama isian di bagian tengah.
5. Melipat dan mengikat
Daun dilipat rapat dan diikat kuat agar tidak terbuka.
6. Pengukusan
Bakcang dikukus selama beberapa jam hingga matang sempurna.
7. Penyajian
Bakcang dapat langsung dimakan atau disimpan karena tahan cukup lama.
Penutup: Warisan yang Tetap Hidup
Di tengah modernisasi, dapur kecil The Ngak Tjeng menjadi ruang hidup bagi tradisi yang terus bertahan. Setiap lipatan daun dan setiap kukusan bakcang menjadi bagian dari warisan budaya yang tidak hanya dimakan, tetapi juga diingat.
Bagi Pontianak, kisahnya adalah pengingat bahwa budaya tidak hanya ada di museum, tetapi juga di tangan mereka yang masih setia menjaganya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro