Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menengok  Rumah Betang Saham di Kabupaten Landak

Ari Aprianz • Jumat, 13 Desember 2019 | 09:42 WIB
LESTARI: Rumah Panjang Saham menjadi salah satu warisan budaya tertua yang berada di Kalimantan Barat. Perlu adanya sinergi pemerintah dan masyarakat setempat untuk melestarikannya. RIESALA ANVAR/PONTIANAKPOST
LESTARI: Rumah Panjang Saham menjadi salah satu warisan budaya tertua yang berada di Kalimantan Barat. Perlu adanya sinergi pemerintah dan masyarakat setempat untuk melestarikannya. RIESALA ANVAR/PONTIANAKPOST
Kelestarian dan Keasliannya Terancam, Warga Berharap Kepedulian Pemerintah

Rumah Panjang Saham yang berada di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak terus bertahan meski tergerus roda zaman. Rumah ini menjadi salah satu warisan budaya dan peninggalan sejarah yang perlu dilestarikan. Jika tidak ada upaya pelestarian yang serius, bukan tidak mungkin Rumah Panjang Saham hanya tinggal kenangan.

Riesala Anvar, Saham

RUMAH betang dengan panjang 186 meter ini menjadi salah satu yang tertua di Kalimantan Barat. Ada 35 kamar di dalamnya. Hidup berdampingan di rumah panjang sudah menjadi ciri khas masyarakat sejak bangunan ini didirikan pada tahun 1875 silam.

Sekretaris Desa Saham, F. Panus meminta pendampingan dari pemerintah agar rumah betang panjang ini bisa dilestarikan serta menjadi destinasi pariwisata unggulan daerah.

“Kita ingin membuat semacam konsep dengan kearifan lokal dan tidak menghilangkan original yang ada di sini. Dengan adanya beberapa agenda tahunan, hal ini bisa dijadikan acuan untuk wisatawan yang berkunjung  ke sini,” tuturnya.

Ia mengatakan, sejak tahun 70-an Rumah Betang Saham sudah sering dikunjungi wisatawan. Hal itu tentu menjadi gambaran bahwa objek ini bisa menjadi wisata budaya yang sangat potensial jika digarap maksimal.

“Berharap kita juga ada pelatihan, serta pemetaan mana yang bisa menjadi potensi untuk menjadi wisata,” katanya. Menurut Panus, pihaknya sangat ingin melestarikan rumah betang yang menjadi adat budaya asli suku dayak. Hanya saja, untuk mewujudkan niat tersebut, ada banyak kendala yang ditemukan. Salah satunya dalam upaya merenovasi.

Berkurangnya hutan membuat material kayu sulit diperoleh. Akibatnya, masyarakat terpaksa menggunakan bahan seperti besi, kayu, semen, dan lain sebagainya. “Kita di sini kekurangan bahan baku karena hutan sudah banyak ditanami kelapa sawit. Itu yang membuat warga di sini kewalahan dengan bahan material di sini,” ungkap F. Panus.

Ia berharap masalah ini menjadi bahan perhatian pemerintah. Hutan atau sumber kayu yang ada di Desa Saham hendaknya dapat dijaga. “Kayu-kayu dari hutan tersebut bisa digunakan warga untuk dijadikan bahan bangungan dan hutan juga memberikan kesejukan untuk wilayah desa,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan Erik, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Saham. Ia berharap keberadaan atau kelestarian Rumah Betang Saham lebih diperhatikan pemerintah. Mengingat usianya yang sudah tua, rumah ini memerlukan upaya pemeliharaan yang lebih.

“Sebagai contoh, sudah banyak atap-atap yang bocor,” ucapnya. Warga setempat khawatir, rumah ini suatu saat akan punah. Selain itu, budaya tinggal di rumah betang juga hilang ditelan zaman. Soalnya, warga yang masih tinggal di rumah betang sekarang rata-rata merupakan orang yang sudah berumur. Sementara anak mudanya lebih memilih tinggal di rumah biasa.

“Mereka bilang tempatnya kumuh dan kuno karena sudah dari zaman dahulu didirikan sehingga mereka sering berpindah tempat. Makanya ada rumah (kamar) yang kosong karena (penghuninya) sudah pindah ke rumah lain. Dari 35 kamar, lima kamar sudah kosong saat ini,” tutupnya. (*)

  Editor : Ari Aprianz
#rumah betang