NGABANG – Makam Juang Mandor menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat melawan penjajahan asing. Sejarawan Kalbar, Syafaruddin Daeng Usman, menuturkan bahwa perjuangan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan nasional bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
"Dengan demikian, jiwa semangat, nilai juang, dan kepejuangan sangat patut untuk dilestarikan, dihormati, dan diapresiasi," ucapnya usai upacara Hari Berkabung Daerah di Makam Juang Mandor Kabupaten Landak, Jumat (28/6).
Ia mengatakan bahwa peristiwa Mandor, yang terjadi 80 tahun yang lalu pada 28 Juni 1944, sebenarnya sudah dimulai sejak Jumat, 19 Desember 1941. Keseluruhan rangkaian ini menyebabkan gugurnya ribuan korban dari berbagai elemen masyarakat majemuk Kalimantan Barat.
"Ini adalah bagian dari lembaran gemilang sejarah perjuangan nasional di Kalimantan Barat, yang memberikan pemahaman bahwa dalam perjuangan menentang fasis militer tentara Jepang Dai-Nippon Teikoku antara 1941-1945," jelas Dosen Ilmu Sejarah di FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak tersebut.
Syafaruddin melanjutkan, mengutip publikasi pers militer Jepang, Surat Kabar Borneo Sinbun, bahwa pada 28 Juni 1944 terjadi puncak peristiwa pembantaian sadis. Banyak tokoh terkemuka, elit kesultanan dan kerajaan, cendekiawan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya menjadi korban. "Dari Surat Kabar Borneo Sinbun tersebut, disebutkan nama-nama korban," kata dia.
Sebagai penghormatan terhadap perjuangan rakyat Kalimantan Barat, pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah membangun kembali Monumen Makam Juang Mandor yang diresmikan pada 28 Juni 1977 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Kadarusno.
"Selanjutnya, untuk menghormati dan melestarikan semangat, nilai juang, dan kepejuangan bangsa Indonesia, peristiwa Mandor 28 Juni 1944 ditetapkan sebagai Hari Berkabung Daerah, dengan Makam Juang Mandor sebagai simbolnya, berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 5 Tahun 2007," tambah Syafaruddin. (mif)
Editor : A'an