PONTIANAK POST - Akibat curah hujan minim dalam beberapa pekan terakhir, sawah-sawah warga di Kabupaten Landak mulai kekurangan air. Petani khawatir, kekeringan panjang bisa berpengaruh pada hasil panen.
Curah hujan yang minim lebih dari dua pekan terakhir mulai berpengaruh pada sektor pertanian di Kabupaten Landak, terutama pada sawah-sawah tadah hujan yang mengandalkan pengairan dari sumber utama air hujan dan belum memiliki akses ke irigasi permanen. Akibatnya, saat ini sawah warga mulai mengalami kekurangan air, bahkan beberapa di antaranya mulai kering.
Salah seorang petani, Minen, mengaku khawatir apabila kondisi curah hujan yang minim ini terjadi semakin lama, sebab dikhawatirkan kondisi kekeringan sawah bisa berdampak pada pertumbuhan padi, yang juga dapat berpengaruh pada hasil panen gabah.
“Sekarang ini sudah memasuki musim kemarau, jadi curah hujan minim. Saya khawatir ini berpenaguh ke hasil pertanian,” kata dia.
Minen menambahkan, tidak banyak upaya yang bisa dilakukan petani pada sawah-sawah tadah hujan, sebab selain terkendala tidak memiliki peralatan pompa air, beberapa sawah warga juga jauh dari sumber air yang memadai.
Keresahan yang sama juga diungkapkan Bupati Landak, Karolin Margret Natasa saat memberikan bantuan alat pertanian bagi para petani.
Karolin mengatakan, saat ini Luas Tambah Tanam di Kabupaten Landak, telah melampaui target nasional. Hal itu tentu menjadi prestasi tersendiri yang diraih kabupaten tersebut.
“LTT kita sudah melampaui target jadi petani kita memang bersemangat dan bantuan-bantuan yang kita salurkan selama ini digunakan dengan baik,” ujarnya usai menyerahkan bantuan Alsintan di Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Landak, belum lama ini.
Kendati demikian, kata Karolin, ada beberapa faktor yang perlu diantisipasi, terutama faktor cuaca mengingat saat ini curah hujan di wilayah Kabupaten Landak yang masih minim. Sehingga potensi kekeringan diharapkan tidak mengganggu hasil produksi pertanian.
Selain itu, kata dia, perlu diskusi lebih lanjut antara Pemerintah Kabupaten Landak, Pemerintah Provinsi Kalbar dan pemerintah pusat terkait persiapan panen raya.
“Jangan sampai saat panen raya kemudian produksinya banyak, harganya anjlok. Paling lambat di bulan depan (Juli), kami berharap bisa melakukan rapat koordinasi dan komunikasi dengan Bulog, dengan pihak TNI, dengan Brigade Pangan, bahkan dengan BPTP dan pemerintah provinsi,” katanya.
Karolin berharap, dalam rapat koordinasi nantinya bisa dilakukan diskusi bersama untuk memikirkan bagaimana menampung gabah hasil produksi petani, yang akan mulai panen di bulan Agustus hingga September. (arf)
Editor : Hanif