Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemkab Landak Gelar Gerakan Pangan Murah Antisipasi Lonjakan Harga Bahan Pokok Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Miftahul Khair • Senin, 23 Februari 2026 | 12:53 WIB

Pemkab Landak menggelar gerakan pangan murah di Pasar Baru Pahauman Kecamatan Sengah Temila pada Kamis (19/2).
Pemkab Landak menggelar gerakan pangan murah di Pasar Baru Pahauman Kecamatan Sengah Temila pada Kamis (19/2).

PONTIANAK POST -  Pemerintah Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menggelar Gerakan Pangan Murah di pelataran Pasar Baru Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kamis (19/2). Kegiatan intervensi pasar ini dilakukan untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik memasuki bulan puasa.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa yang hadir meninjau langsung pelaksanaan program tersebut mengatakan, langkah ini diambil untuk membantu masyarakat mengakses sembako dengan harga yang wajar.

"Hari ini kita melaksanakan gerakan pangan murah antisipasi dalam memasuki bulan Ramadan dan hari raya yang nanti akan kita laksanakan secara berkelanjutan. Mudah-mudahan bisa membantu untuk mengendalikan dan bagaimana kita terus memonitor harga bahan-bahan pokok di Kabupaten Landak," ujar Karolin dalam sambutannya.

Menurutnya, tren kenaikan harga di pasaran tidak hanya disebabkan oleh siklus tahunan meningkatnya konsumsi menjelang Ramadan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global. Ia menjelaskan bahwa ketegangan antarnegara, seperti konflik Rusia dan Ukraina, serta dinamika politik negara-negara besar lainnya, berdampak pada rantai pasokan perdagangan internasional.

Baca Juga: Konsultasi Publik PSN Aluminium, Bupati Karolin Tuntut Transparansi dan Jaminan Ekologis

“Hal ini menyebabkan komoditas yang masih mengandalkan impor, seperti bawang putih, menjadi lebih sulit didapat dan harganya terkerek naik,” ungkapnya.

Melalui Gerakan Pangan Murah, warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang telah disubsidi oleh pemerintah daerah. Untuk beras kemasan lima kilogram dijual seharga Rp60.000, Minya Kita Rp15.000 per liter, telur Rp1.900 per butir, dan tepung terigu Rp13.000. Sementara itu, komoditas bawang merah dibanderol Rp72.000 per kilogram, bawang putih kemasan setengah kilogram Rp24.000, serta gas elpiji 3 kilogram seharga Rp20.000.

Kehadiran pasar murah ini disambut baik oleh warga. Guspriono Pinus, salah seorang warga Pahauman, mengaku sangat terbantu untuk mendapatkan gas elpiji dengan harga standar. "Sangat menunjang untuk masyarakat yang tidak mampu. Berharga senilai Rp20.000. Kalau di toko-toko itu sampai Rp25.000, berkisar sampai Rp35.000," kata Guspriono.

Warga lain bernama Nina berharap program penguatan daya beli masyarakat ini dapat terus dipertahankan. "Program yang kayak gini harus selalu ada biar meringankan bagi masyarakat yang kayak kamilah yang kurang mampu gitu supaya agak ringan," tuturnya.

Terkait kelangkaan elpiji 3 kilogram yang banyak dikeluhkan masyarakat, Karolin menegaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat adanya pengurangan kuota dari tingkat pusat dan perubahan sistem pendistribusian yang kini mewajibkan pendataan KTP secara daring.

Baca Juga: Polsek Mandor Tingkatkan Patroli Malam, Ciptakan Keamanan dan Kenyamanan di Tengah Masyarakat

"Sekarang dengan perubahan sistem harus pakai KTP online dan segala macam justru kita susah dapat elpiji, karena yang dulunya pangkalan itu bisa dapat sampai 500 tabung sekarang maksimal paling bisa dapat 200. Jadi memang dari sananya dari Jakarta pengaturannya itu dikurangi," papar Karolin.

Ia menambahkan, pemerintah daerah sudah melayangkan surat ke pusat untuk meminta pemenuhan kuota tersebut. Guna mencegah adanya spekulasi harga di pasar tradisional, Karolin secara khusus meminta aparat penegak hukum dari kepolisian dan kejaksaan untuk ikut memonitor ketersediaan barang. Jika ditemukan ada toko yang menjual kebutuhan pokok jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, ia meminta aparat segera melakukan penelusuran dan pembinaan.

Langkah pengawasan harga ini sangat ditekankan mengingat ruang gerak anggaran pembangunan di daerah sedang terbatas. Karolin mencontohkan, alokasi Dana Desa saat ini mengalami pemotongan signifikan dari Rp 1 miliar menjadi sekitar Rp 700 juta, sehingga banyak usulan pembangunan desa tidak bisa diakomodasi.

Sebagai solusi jangka panjang menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi, Karolin mengimbau warga agar mulai menciptakan ketahanan pangan secara mandiri dari rumah. "Bagi masyarakat Bapak Ibu yang punya tanah, punya lahan, dimanfaatkan dengan baik. Misalnya cabai kalau bisa kita tanam, tomat kita tanam supaya Ibu Bapak bisa menyediakan kebutuhan paling tidak untuk rumah tangga, karena memang barang-barang semakin mahal dan semakin sulit didapat," pungkas Karolin. (mif/r)

Editor : Hanif
#Pasar murah #Gerakan Pangan #ketahanan pangan #Kabupaten Landak #karolin margret natasa