Bupati Karolin Minta Petani Atur Waktu Tanam untuk Antisipasi Risiko Kemarau Panjang di Landak

Miftahul Khair • Dipublikasikan Senin, 30 Maret 2026 | 13:45 WIB

 

 

IMBAUAN: Bupati Karolin Margret Natasa saat mengunjungi Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3).
IMBAUAN: Bupati Karolin Margret Natasa saat mengunjungi Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3).

PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Landak mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini. Salah satu fokus utama adalah mengingatkan petani agar tidak terlambat memulai masa tanam guna menghindari risiko kekeringan dan gagal panen.

Imbauan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, saat melakukan kunjungan ke Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3). Desa ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian yang menopang kebutuhan pangan daerah.

“Hari ini kita hadir di Desa Amboyo Selatan yang merupakan salah satu daerah pertanian di Kabupaten Landak. Saya berpesan kepada masyarakat agar memanfaatkan lahan sebaik mungkin dan mengikuti petunjuk dari pemerintah, termasuk penyuluh pertanian lapangan,” ujar Karolin.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Camat Ngabang dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian secara menyeluruh. Karolin menegaskan, peningkatan produktivitas tidak semata ditentukan oleh luas lahan, melainkan juga kemampuan petani dalam mengelola pertanian secara tepat. Pemahaman terkait penggunaan pupuk, pemilihan bibit, hingga teknik pengolahan lahan dinilai menjadi faktor penting yang harus terus ditingkatkan.

“Petani juga harus belajar mengenai jenis-jenis pupuk, pengolahan lahan, serta bibit yang digunakan. Harapan kita, pertanian kita bisa menuju pertanian modern, hasilnya meningkat, dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” katanya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya ketepatan waktu tanam di tengah ancaman kemarau yang diperkirakan lebih panjang dari biasanya. Petani diminta tidak menunda masa tanam agar tidak terdampak kekeringan. “Kita mengingatkan agar masyarakat mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan cukup panjang. Jangan sampai terlambat menanam, karena bisa mengalami kekeringan dan terancam gagal panen,” ucap Karolin.

Sebagai dukungan nyata, Pemkab Landak juga menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani. Sebanyak lima unit alsintan diserahkan kepada lima kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas. Di sela kunjungan, Karolin juga menyinggung tradisi Naik Dango atau Roah yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Dayak di Landak. Tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan warga.

“Ini adalah tradisi masyarakat Dayak sebagai bentuk syukur setelah panen, sekaligus memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Jubata, agar hasil pertanian ke depan tetap baik dan terhindar dari marabahaya,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar perayaan adat dilakukan secara bijak, terutama dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. “Saya berpesan, dalam melaksanakan Naik Dango atau Roah tidak euforia berlebihan. Secukupnya saja, dan tetap menghemat pangan. Beras jangan dijual semua, harus ada yang disimpan untuk cadangan pangan keluarga,” tutup Karolin. (mif/r)

Editor : Hanif
gagal panen petani bupati landak waktu tanam karolin kemarau panjang