PONTIANAK POST - Potensi krisis air bersih mulai mengintai wilayah Kota Ngabang, Kabupaten Landak, seiring penurunan debit Sungai Landak pada musim kemarau. Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Landak Karolin Margret Natasa turun langsung meninjau fasilitas intake air baku milik Perumdam Tirta Landak di Kecamatan Ngabang guna memastikan langkah penanganan segera dilakukan agar distribusi air ke masyarakat tetap berjalan.
“Hari ini kita lihat kondisi intake air bersih untuk wilayah Kota Ngabang dan sekitarnya. Bangunan ini menyuplai kurang lebih 4.000 sambungan rumah tangga. Karena masuk musim kemarau, debit air berkurang, dan ternyata ada proses pendangkalan akibat sedimentasi pasir yang luar biasa,” kata Karolin saat peninjauan.
Dari hasil pengecekan di lapangan, kondisi sungai dinilai cukup mengkhawatirkan. Kedalaman air yang sebelumnya mencapai sekitar 8 meter kini menyusut drastis, hanya tersisa sekitar 1 meter 4 sentimeter.
Penurunan tersebut berdampak langsung pada suplai air baku ke instalasi pengolahan. Karolin mengingatkan, jika hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, gangguan layanan air bersih berpotensi semakin parah. “Kalau beberapa hari ke depan tidak hujan, ini bisa menjadi persoalan serius karena ujung pipa intake sudah menyentuh dasar pasir sungai,” ujarnya.
Baca Juga: Kecelakaan di Sungai Ambawang Kubu Raya, Pemotor Tewas Usai Tabrakan dengan Truk
Sebagai langkah cepat, pemerintah daerah meminta jajaran teknis menyiapkan solusi darurat, salah satunya dengan menambah pompa air agar distribusi tetap terjaga. “Kita sepertinya harus tambah pompa untuk bisa tetap menjaga pelayanan kita kepada masyarakat. Jadi kita beli pompa ya Pak, segera disiapkan,” tegas Karolin.
Selain penanganan jangka pendek, Karolin juga menekankan pentingnya menjaga kondisi lingkungan di wilayah hulu sungai agar sumber air tetap terjaga. “Tolonglah semua pihak juga mengawasi sehingga tidak ada aktivitas-aktivitas yang mengganggu lingkungan di hulu sungai. Kalau air sungai ini enggak ada, kita enggak ada sumber air lagi,” katanya.
Di sisi lain, Direktur Perumdam Tirta Landak, Herkulanus, mengungkapkan bahwa persoalan air bersih tidak hanya dipicu oleh penurunan debit sungai, tetapi juga masalah lama pada jaringan distribusi. Saat ini, Perumdam melayani 9.186 pelanggan di enam kecamatan, dengan mayoritas berada di Kecamatan Ngabang sebanyak 7.344 sambungan.
Namun, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) masih tinggi, mencapai 38,30 persen. Jauh di atas ambang batas nasional sebesar 25 persen. “Kebocoran pada jaringan distribusi infrastruktur perpipaan yang sudah tua, rapuh, dan kurang perawatan menjadi penyebab utama kehilangan air secara fisik,” ujar Herkulanus.
Selain itu, kondisi keuangan perusahaan turut terdampak akibat tunggakan pelanggan yang menghambat arus kas operasional. “Banyaknya piutang akibat tunggakan pelanggan menyebabkan kas yang seharusnya masuk menjadi tertunda,” katanya.
Baca Juga: Danyonarmed 16/TK Resmi Berganti, Pangdam Tekankan Kepemimpinan Hadir di Tengah Prajurit
Meski demikian, Perumdam terus melakukan pembenahan secara bertahap, mulai dari efisiensi biaya, penguatan penagihan, hingga peningkatan kualitas jaringan dan pompa distribusi. Dalam situasi tersebut, langkah cepat pemerintah daerah dinilai krusial agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama di tengah tekanan musim kemarau. “Kita harus jaga betul pelayanan dasar ini. Air bersih menyangkut kebutuhan masyarakat sehari-hari, jadi langkah cepat harus dilakukan,” tutup Karolin. (mif/r)
Editor : Hanif