PONTIANAK POST – Sosok Nikolaus Supin mencuri perhatian dalam kegiatan tanam perdana padi di lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025, Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, Rabu (8/4). Di balik agenda resmi tersebut, Supin justru menjadi figur sentral berkat perannya dalam menggerakkan petani di wilayah itu.
“Beliau punya keterbatasan tapi tidak menyerah. Jadi, Ibu Bapak yang punya tanah di sini, jangan kalah semangatnya dengan Pak Supin. Kami akan dukung semaksimal mungkin,” kata Bupati Landak Karolin Margret Natasa saat menghadiri kegiatan tersebut. Ia menilai, keberhasilan program pertanian tidak hanya ditentukan oleh anggaran dan dukungan teknis, tetapi juga oleh semangat pelaku di lapangan.
Kegiatan tanam perdana berlangsung di lahan milik Supin di Beguruh, Dusun Semata, mulai pukul 09.30 WIB. Dalam kesempatan itu, Karolin mengaku telah lama mengenal Supin dan mengapresiasi dedikasinya terhadap masyarakat. “Saya mengenal Pak Supin sudah lama dan mengagumi semangatnya berkarya untuk kampung, gereja, dan masyarakat,” kata Karolin.
Sebagai Ketua Kelompok Tani Semata Tani Andalan, Supin tidak hanya berperan secara administratif. Ia terlibat langsung dalam berbagai proses, mulai dari menginisiasi pertemuan, mendatangkan alat dan mesin pertanian, hingga memastikan lahan yang telah dicetak benar-benar dimanfaatkan. “Rapat hampir 10 kali saya biayai sendiri. Alat-alat alsintan saya bawa sendiri dengan biaya pribadi, tidak membebani petani,” ujar Supin.
Baca Juga: Propam Polres Kubu Raya Sidak Personel Satlantas, Pastikan Administrasi dan Disiplin Terpenuhi
Supin juga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan penyandang disabilitas akibat kecelakaan saat masih duduk di bangku SMP. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk tetap aktif bekerja di sektor pertanian. “Saya ini penyandang disabilitas. Saat kelas 2 SMP, umur 14 tahun, saya mengalami kecelakaan tertimpa pohon. Tapi itu tidak mengurangi niat saya untuk bangkit,” kata dia.
Ia mengaku masih mampu mengoperasikan alat berat hingga mengemudikan truk untuk mendukung aktivitas pertanian. Setiap hari, Supin bolak-balik dari Ngabang ke lokasi sawah demi memastikan pekerjaan berjalan. “Puji Tuhan, lahan ini saya kerjakan dari pukul 6 pagi. Saya istirahat sebentar, lalu turun lagi jam 2 siang sampai malam. Rumah saya ada di Ngabang, tapi saya bolak-balik ke sini,” ucap Supin.
Bagi Supin, pengembangan sawah di Temiang Sawi bukan sekadar kegiatan tanam, tetapi investasi jangka panjang bagi desa. Ia memperkirakan lahan seluas 16 hektare tersebut berpotensi menghasilkan hingga 100 ton padi per musim jika dikelola optimal.
Sementara itu, Karolin mengingatkan pentingnya dukungan irigasi dan pengelolaan lahan yang baik untuk memastikan keberhasilan panen. “Sawah itu harus ada air, airnya harus bisa diatur. Kalau enggak bisa diatur, pasti panennya gagal,” ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah desa dan kecamatan melakukan validasi data kelompok tani agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran. “Tolong didata mana kelompok tani yang masih aktif dan mana yang tidak. Kalau ada yang perlu digabung supaya lebih efektif, silakan digabung,” kata Karolin.(mif/r)
Editor : Hanif