PONTIANAK POST – Di tengah kabut asap dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tokoh lintas agama di Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, berkumpul dalam satu ikhtiar. Mereka berdoa bersama memohon keselamatan dan berharap kondisi lingkungan segera membaik.
Doa lintas agama tersebut digelar Polsek Mempawah Hulu di ruang BKPM Polsek Mempawah Hulu, Rabu pagi (26/8/2026). Doa dipimpin perwakilan agama Islam, Kristen, dan Katolik.
Kegiatan dihadiri Camat Mempawah Hulu Buyung, Kapolsek Mempawah Hulu Iptu Freddy Surya Purnama, anggota TNI-Polri, tokoh agama, serta tokoh adat.
Tiga Agama, Satu Harapan
Doa berlangsung secara bergantian. Ustad Soimum memimpin doa umat Islam, Pendeta Damianus memimpin doa umat Kristen, sedangkan Pastor Jims dari Paroki Santo Yusuf Karangan memimpin doa umat Katolik.
Mereka datang dengan latar belakang keyakinan berbeda, tetapi membawa harapan yang sama: keselamatan masyarakat dan berakhirnya kabut asap.
Kapolsek Mempawah Hulu Iptu Freddy Surya Purnama mengatakan doa bersama menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi kondisi tersebut.
“Doa lintas agama ini merupakan bentuk ikhtiar kita bersama dalam menghadapi kabut asap dan Karhutla,” ujar Freddy.
Menurutnya, doa harus berjalan bersama langkah nyata. Upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla tetap diperlukan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan.
Ikhtiar Bersama di Tengah Asap
Selain memohon keselamatan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama. TNI-Polri, pemerintah kecamatan, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat duduk bersama menghadapi ancaman yang sama.
Kebersamaan itu menjadi penting karena dampak karhutla tidak mengenal batas agama maupun kelompok. Asap dapat mengganggu kesehatan, aktivitas warga, hingga perekonomian masyarakat.
Jangan Bakar Lahan
Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari melalui Kapolsek Mempawah Hulu kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Penanganan sejak awal dinilai penting agar api tidak meluas.
Di tengah ancaman karhutla, doa menjadi simbol kebersamaan masyarakat Mempawah Hulu. Namun, harapan akan hujan tetap diiringi ikhtiar menjaga lahan dan mencegah munculnya api dari aktivitas manusia.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro