PONTIANAK POST — Menghadapi ancaman kabut asap dan kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kalimantan Barat, Bupati Landak Karolin Margret Natasa secara resmi telah menaikkan status wilayahnya menjadi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Kebijakan ini diambil menyusul peningkatan maraknya titik panas (hotspot) serta pekatnya kabut asap yang mulai mengancam kesehatan masyarakat. Guna mempercepat penanganan kedaruratan di tingkat tapak, Karolin mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh Kepala Desa (Kades) dan Camat agar segera mengaktifkan posko bencana serta memanfaatkan instrumen Dana Desa.
"Saya paham situasi kita sangat tidak ideal. Tapi secara regulasi, ada 5 persen (Dana Desa) yang boleh dialokasikan untuk dana bencana. Segera sisihkan untuk menyetok bahan bakar mesin air dan peralatan pemadam," tegas Karolin di Kecamatan Banyuke Hulu, Kamis (3/9).
Baca Juga: Jembatan Gantung Perintis Garuda Desa Bagak Permudah Akses Mobilitas Warga dan Pelajar
Karolin juga mengingatkan jajaran perangkat desa agar bergerak cepat dan mandiri dalam melindungi permukiman warga tanpa harus menggantungkan harapan pada bantuan dari pemerintah pusat.
"Kita tidak bisa hanya menunggu bantuan dari pusat, kita harus berusaha sendiri dulu masing-masing. Ini kampung-kampung kita, kita juga yang menghirup asap ini, tentu kitalah dulu yang harus bergerak," tambahnya.
Bupati Landak menyoroti dampak paparan asap terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan penderita asma. Mengingat prediksi BMKG bahwa musim kemarau diproyeksikan berlangsung hingga akhir Oktober, Karolin mengimbau masyarakat untuk menghentikan segala aktivitas pembakaran.
"Kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) meningkat. Apapun yang Bapak dan Ibu bakar berpotensi meluas dan sulit dipadamkan karena semuanya kering kerontang. Jadi untuk sementara, bakar sampah rumah tangga pun tidak usah, apalagi membakar lahan. Tolong pahami situasi hari ini," imbaunya.
Baca Juga: Antisipasi Karhutla, Polsek Meranti Siapkan Sumur Bor di Dusun Jelayan Landak
Sebagai langkah nyata memperkuat garis pertahanan di desa rawan, Pemkab Landak menyalurkan bantuan berupa set mesin pompa air pemadam portabel (mesin Robin) beserta kelengkapannya.
"Alat pemadam ini saya titipkan dan standby di kantor Camat. Tujuannya agar responsnya jauh lebih cepat saat ada titik api, jangan sampai merembet ke perumahan warga dan tidak perlu menunggu bantuan jauh dari Ngabang. Kades dan relawan tinggal berkoordinasi untuk memakainya secara gotong-royong," instruksi Karolin.
Menyikapi keterlibatan sektor swasta di tengah krisis lingkungan, Karolin melayangkan peringatan keras kepada korporasi kelapa sawit yang beroperasi di wilayahnya. Ia mewajibkan perusahaan mendirikan menara pantau api, menyiagakan regu patroli, serta membagikan edukasi mitigasi kepada petani mandiri di sekitar area konsesi.
"Bantuan dari perusahaan itu jangan dipikir hanya soal uang, tapi ilmu pengetahuannya. Jangan sampai masyarakat masih menggunakan cara-cara lama yang memicu kebakaran. Perusahaan tidak akan bisa maju kalau masyarakat di sekitarnya tidak sehat dan tidak maju," tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Karolin di sela-sela kehadirannya dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit PT Nusantara Sarana Alam (NSA) di Dusun Sibolapit, Desa Tembawang, Kecamatan Banyuke Hulu.
Pabrik berkapasitas 15 ton per jam tersebut diharapkan dapat memangkas biaya logistik petani mandiri dan kelompok plasma di tiga kecamatan sekitarnya, sekaligus menjadi mitra strategis Pemkab Landak dalam mewujudkan tata kelola industri perkebunan yang berkelanjutan. (mif/r)
Editor : Miftahul Khair