PONTIANAK POST - Hiperseksualitas, atau gangguan keinginan seksual yang berlebihan, merupakan kondisi yang dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang.
Sering merasa dorongan seksual yang sangat kuat, yang bisa mengganggu fungsi sehari-hari mereka.
Dilansir dari HuffPost, berikut tanda bahwa seseorang mengalami hiperseksualitas.
1. Pikiran seksual yang menguasai
Salah satu tanda utama hiperseksualitas adalah pikiran seksual yang terus-menerus hadir dan menguasai pikiran seseorang.
Mereka sering kali terfokus pada seks, bahkan ketika sedang melakukan aktivitas lain.
Jika pikiran ini mulai mengganggu kemampuan untuk berkonsentrasi atau melakukan tugas sehari-hari, bisa jadi ini adalah indikasi adanya gangguan.
2. Frekuensi berlebihan
Peningkatan frekuensi aktivitas seksual adalah tanda lain dari hiperseksualitas.
Seseorang mungkin merasa terdorong untuk berhubungan seks lebih sering daripada yang mereka atau pasangan mereka anggap wajar.
Kebutuhan untuk melakukan aktivitas seksual ini bisa berlangsung setiap hari atau bahkan beberapa kali dalam sehari.
3. Sulit kendalikan dorongan seksual
Seseorang dengan hiperseksualitas mungkin merasa kesulitan untuk mengendalikan dorongan seksualnya meskipun mereka tahu itu sudah berlebihan atau tidak sesuai dengan situasi.
Mereka bisa merasa terpaksa untuk mencari kepuasan seksual, bahkan dalam situasi yang tidak tepat atau berisiko.
4. Cari kepuasan seksual
Pencarian kepuasan seksual yang ekstrem atau berisiko juga sering terlihat pada orang dengan hiperseksualitas.
Ini bisa termasuk berhubungan seks dengan banyak pasangan tanpa proteksi, mencari situasi seksual yang tidak aman, atau terlibat dalam perilaku seksual yang merugikan diri sendiri atau orang lain.
5. Abai tanggung jawab
Ketika dorongan seksual menjadi dominan, seseorang dengan hiperseksualitas mungkin mulai mengabaikan pekerjaan, hubungan sosial, atau kegiatan lain yang sebelumnya mereka nikmati.
Fokus utama mereka hanya tertuju pada pemenuhan kebutuhan seksual, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam hidup mereka. (*/uni)
Editor : Miftahul Khair