PONTIANAK POST - Generasi sandwich adalah kelompok individu yang memiliki tanggung jawab finansial ganda, yakni menanggung biaya hidup orang tua sekaligus membiayai anak-anak mereka.
Situasi ini menuntut pengelolaan keuangan yang lebih cermat agar tetap stabil secara finansial.
Menurut data dari penyedia layanan perencanaan keuangan OneShildt, lebih dari 50 persen masyarakat usia produktif di Indonesia termasuk dalam kategori generasi sandwich per Oktober 2023.
Lantas, bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik bagi generasi ini?
- Mengatur Pengeluaran dengan Cermat
Digital Banking Partnership Head Bank BTPN, Febri Rusli, menekankan bahwa financial freedom bisa dicapai jika generasi sandwich mampu memisahkan kebutuhan dan keinginan serta konsisten dalam mengelola anggaran.
“Prioritaskan wishlist atau tujuan sebagai panduan dalam mengarahkan pengeluaran,” ujar Febri dikutip dari Jawa Pos.
Sebagai contoh, fitur seperti Moneytory dari Jenius dapat membantu memantau pengeluaran harian.
Setelah anggaran tersusun dengan baik, fitur Send It juga bisa dimanfaatkan untuk mengirim uang secara fleksibel.
Selain itu, kartu debit x-Card dari Jenius dapat digunakan untuk membagi saldo sesuai kebutuhan agar pengelolaan keuangan lebih rapi.
- Menyisihkan Dana untuk Tabungan
Generasi sandwich perlu menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan sebagai fondasi keuangan yang lebih stabil.
Langkah ini penting untuk menghadapi situasi tak terduga dan membangun rasa aman secara finansial.
“Agar lebih disiplin, generasi sandwich dapat mengaktifkan setoran tabungan otomatis setiap bulan atau menetapkan target nominal tabungan,” jelas Febri.
- Mengalokasikan Dana untuk Investasi
Selain menabung, investasi juga menjadi langkah penting dalam mengelola keuangan jangka panjang.
Investasi yang tepat dapat membantu generasi sandwich meningkatkan aset dan mencapai tujuan finansial, seperti membeli rumah atau menyiapkan dana pensiun.
“Menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi bukanlah pilihan yang disarankan. Pilihlah instrumen investasi sesuai jangka waktu tujuan keuangan, seperti saham atau reksa dana,” tutur Febri.
- Mempersiapkan Dana Darurat
Mengingat adanya pengeluaran tak terduga, dana darurat menjadi bagian krusial dalam perencanaan keuangan generasi sandwich.
“Idealnya, dana darurat disiapkan untuk mencukupi biaya hidup selama 3–6 bulan tanpa penghasilan,” kata Febri.
Untuk menjaga keamanan dana ini, sebaiknya dipisahkan dari rekening harian namun tetap mudah diakses jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
- Berutang dengan Bijak dan Sehat
Menurut Certified Financial Planner & CEO OneShildt, Budi Raharjo, utang tidak selalu berdampak negatif jika dikelola dengan baik dan digunakan untuk membangun aset.
“Utang dapat menjadi alat untuk menciptakan penghasilan, asalkan cicilannya tidak melebihi 35 persen dari total penghasilan, agar kesehatan finansial tetap terjaga,” jelasnya.
Ia juga menyarankan generasi sandwich untuk disiplin dalam membayar cicilan dan memanfaatkan promo atau diskon dari pinjaman atau kartu kredit tanpa melebihi batas anggaran yang telah ditetapkan.
- Mengajarkan Literasi Keuangan pada Anak
Salah satu langkah penting untuk memutus rantai generasi sandwich adalah membekali anak-anak dengan pemahaman literasi keuangan sejak dini.
“Mengajarkan anak mengelola keuangan membantu mereka lebih disiplin dalam menggunakan uang dan membentuk kebiasaan finansial yang sehat,” ujar Budi.
Dengan pemahaman yang baik tentang nilai uang, manajemen keuangan, dan kebiasaan menabung, anak-anak akan memiliki keterampilan yang esensial untuk menghadapi tantangan finansial di masa depan serta dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak dan terencana. (mif)
Editor : Miftahul Khair