PONTIANAK POST - Banyak hal yang menumpuk di pikiran membuat hati resah. Batin pun merasa tak tenang.
Padahal, ketenangan batin sangat diperlukan agar hidup terasa nyaman dan bahagia.
Dilansir dari Fimela berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar batin terasa tenang.
1. Menata ulang hal kecil yang tak terlihat
Menata ulang bukan sekadar estetik. Namun, juga memberi tanda pada batin bahwa masih berkuasa pada ruang sendiri.
Misalnya, sapu tangan yang dilipat rapi. Pulpen yang kembali ke tempatnya.
Ketika benda-benda kecil tertata, jiwa menangkap sinyal bahwa ia pun bisa teratur.
Batin manusia ternyata sangat peka terhadap pola, dan ia menemukan rasa aman ketika segala sesuatu punya tempatnya.
2. Memberi waktu pada rasa
Ada jenis ketidaknyamanan yang tak langsung bisa dijelaskan.
Rasanya seperti duduk di ruangan gelap sambil mencoba menebak dari mana datangnya suara aneh.
Banyak orang buru-buru memberi label pada perasaan itu: sedih, cemas, atau marah.
Padahal, tidak semua rasa perlu disimpulkan secepat itu. Meluangkan waktu untuk membiarkan rasa berkembang tanpa paksaan adalah bentuk kedewasaan emosional.
Batin tidak butuh solusi kilat, ia hanya ingin didengarkan.
Duduk sebentar bersama rasa yang tidak jelas itu, tanpa mengusir atau menyambut berlebihan, adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri.
3. Tidak merespons semua hal dengan kata
Diam bukan karena takut bicara, tetapi diam karena tidak semua hal butuh respons.
Banyak ketegangan dalam hidup muncul karena kebutuhan untuk menjelaskan, membalas, atau membenarkan diri.
Padahal, diam kadang jauh lebih menyembuhkan. Membiarkan beberapa hal berlalu tanpa komentar bukan berarti kalah.
Justru, itu tanda bahwa batin cukup dewasa untuk tidak membuang energi pada hal yang tidak penting.
Diam adalah bentuk keberanian yang tak banyak disadari: berani memilih ketenangan alih-alih drama.
Kebiasaan ini juga mengajarkan kontrol diri yang halus.
4. Membebaskan diri dari ucapan
Setiap orang menyimpan suara-suara dalam kepala. Kadang berupa kritik lama, kalimat orang lain yang menyakitkan, atau prasangka yang belum sempat dipatahkan.
Suara-suara ini sering tidak terdengar secara jelas, tetapi dampaknya terasa: gelisah, minder, atau ragu.
Membebaskan diri dari kalimat-kalimat tak terdengar ini bukan soal melupakan, tetapi mengubah posisi mereka dalam batin. (*/uni)
Editor : Miftahul Khair