PONTIANAK POST - Istilah "burnout" atau kelelahan akibat tekanan kerja sering kita dengar belakangan ini.
Tapi banyak dari kita yang belum benar-benar memahami apa itu burnout.
Kita mengira bahwa merasa sedikit capek, stres karena pekerjaan, atau ingin libur panjang adalah tanda-tanda kelelahan biasa.
Padahal menurut Dr. Laurie Santos, profesor dan ilmuwan kognitif dari Yale University dalam sebuah video di Kanal Youtube Big Think, menjelaskan bahwa burnout klinis adalah kondisi psikologis yang lebih dalam dan lebih serius dari sekadar kelelahan biasa.
Hal ini adalah sebuah sindrom yang memiliki gejala khusus dan bisa berdampak besar jika tidak ditangani dengan benar.
Lalu, apa saja tanda-tanda kita sedang mengalaminya? Berikut penjelasannya.
- Kelelahan Emosional yang Tak Kunjung Pulih
Tanda pertama yang perlu diwaspadai adalah kelelahan emosional.
Ini bukan hanya sekadar rasa capek setelah bekerja, tetapi perasaan yang membuat Anda merasa tidak sanggup lagi menghadapi satu masalah pun.
Rasanya seperti jika ada satu hal kecil lagi yang datang, semua akan runtuh.
Uniknya, perasaan ini tetap ada meski Anda sudah libur panjang atau tidur cukup.
Tubuh mungkin sudah pulih, tapi secara emosional Anda tetap merasa penuh, berat, dan kehabisan energi.
Saat pikiran tidak mampu menerima "beban tambahan", itu sinyal bahwa ada yang perlu diperhatikan lebih serius.
Baca Juga: Sulit Tidur Karena Kebanyakan Mikir? Coba 5 Rutinitas Ini, Ampuh untuk Otak yang Terlalu Aktif
- Mudah Tersinggung dan Sinis Terhadap Orang Lain
Gejala kedua adalah munculnya sikap sinis atau biasa disebut depersonalisasi.
Anda mulai merasa tidak nyaman berinteraksi dengan rekan kerja, klien, bahkan orang-orang yang biasanya Anda bantu.
Segala hal terasa mengganggu. Permintaan kecil dari orang lain bisa memancing emosi, dan Anda mulai merasa bahwa mereka punya niat buruk terhadap Anda.
Sikap ini membuat Anda makin tertutup, kehilangan empati, dan menjauh dari lingkungan sosial.
Ini adalah reaksi emosional dari otak yang sedang kelelahan dan tidak punya ruang lagi untuk bersikap terbuka.
- Merasa Tidak Efektif dan Kehilangan Makna dalam Pekerjaan
Tanda ketiga adalah perasaan bahwa apa pun yang Anda lakukan di tempat kerja tidak lagi berdampak.
Anda merasa tidak berguna, bahkan ketika sudah melakukan pekerjaan dengan baik.
Hal ini bisa disebabkan oleh struktur kerja yang terlalu kaku, ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan, atau tidak adanya penghargaan atas usaha yang Anda berikan.
Perasaan ini bisa membuat Anda kehilangan motivasi dan semangat.
Pekerjaan yang dulu Anda cintai kini terasa hampa, dan nilai-nilai yang dulu Anda perjuangkan terasa tidak lagi relevan.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Dr Santos menjelaskan bahwa hal ini sering kali dipicu oleh beberapa hal:
- Beban kerja yang terlalu besar dan terus meningkat.
- Ketidaksesuaian antara nilai pribadi dan realita pekerjaan.
- Ketidakadilan dalam sistem kerja, seperti perbedaan kompensasi yang mencolok.
- Fokus yang terlalu besar pada imbalan eksternal, bukan kepuasan batin.
Semua faktor ini jika dibiarkan bisa menumpuk dan menyebabkan kelelahan yang mendalam.
Baca Juga: 8 Ciri Kepribadian Pria yang Bikin Wanita Jatuh Hati, Kamu Termasuk?
Kapan Harus Mencari Bantuan?
Jika Anda merasa mengalami satu atau lebih dari tiga tanda di atas, dan kondisi itu tidak membaik meskipun sudah beristirahat, itu adalah saat yang tepat untuk mencari bantuan.
Bisa mulai dari berbicara dengan orang terdekat, konselor, atau profesional kesehatan mental.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Solusi untuk kondisi ini bukan hanya tentang "me time".
Dr Santos membagi pendekatan menjadi dua sisi: organisasi dan individu.
Baca Juga: 3 Jenis Latihan Ideal untuk Lansia agar Tetap Sehat dan Bugar
Dari sisi organisasi:
- Kurangi beban kerja berlebih.
- Selaraskan kembali nilai perusahaan dengan nilai karyawan.
- Berikan penghargaan dan pengakuan yang adil.
Dari sisi pribadi:
- Jangan hanya fokus pada pekerjaan. Bangun koneksi sosial di luar kantor.
- Cari kembali hobi atau kegiatan yang dulu membuat Anda bahagia.
- Perhatikan keseimbangan antara identitas pribadi dan profesional.
Dr Santos juga berbagi pengalaman pribadinya saat mengambil cuti panjang untuk memulihkan diri.
Ia menyadari pentingnya kembali ke hal-hal yang disukai di luar dunia kerja, mulai dari bermain musik hingga olahraga ringan.
Penutup
Kelelahan klinis bukan tanda kelemahan, melainkan alarm dari tubuh dan pikiran bahwa Anda butuh jeda dan perhatian lebih.
Mengenali tanda-tandanya bisa membantu Anda mengambil langkah lebih cepat sebelum semuanya terlambat. Ingat, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga tubuh tetap sehat.
Jika Anda merasa pekerjaan tak lagi bermakna, hubungan sosial makin renggang, dan emosi selalu di ujung tanduk, jangan abaikan.
Bisa jadi itu bukan cuma stres biasa, tapi pertanda bahwa Anda perlu berhenti sejenak dan mencari bantuan yang tepat. (mif)
Editor : Miftahul Khair