PONTIANAK POST - Banyak orang mengenal Fear of Missing Out atau FOMO sebagai sesuatu yang buruk.
Istilah ini sering dikaitkan dengan rasa cemas, iri, atau tekanan sosial karena takut ketinggalan momen penting, apalagi di era media sosial.
Anak muda yang melihat teman-temannya berkumpul, berlibur, atau mencoba hal baru sering merasa dirinya tertinggal.
Namun, FOMO tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam konteks aktivitas fisik, rasa takut ketinggalan justru bisa menjadi motivasi positif.
Anak muda yang melihat teman-temannya ikut futsal, nge-gym, atau lari bareng, sering kali terdorong untuk ikut serta.
Penelitian yang dipublikasikan di Holistic Recreation menjelaskan bahwa takut ketinggalan tren memang terkait dengan penggunaan media sosial, tetapi juga dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat lebih aktif dalam aktivitas fisik karena mereka tidak ingin tertinggal dari lingkaran sosialnya.
Dengan kata lain, Fear of Missing Out bisa menjadi energi positif yang membuat anak muda lebih aktif bergerak, lebih sehat, dan lebih terhubung dengan orang lain.
Budaya Olahraga Remaja, Dari Fomo ke Sehat Bersama
Fenomena Fear of Missing Out di kalangan remaja sering terlihat jelas dalam aktivitas olahraga.
Saat ada tren baru, misalnya lari maraton 5K, ikut gym, atau sekadar futsal bareng teman kampus, banyak anak muda terdorong untuk tidak ketinggalan.
Rasa “takut tertinggal” itu tidak selalu buruk, justru bisa berubah menjadi motivasi sosial yang kuat.
1. Olahraga sebagai Tren Media Sosial
Media sosial mempercepat munculnya tren aktivitas fisik baru. Konten lari, workout di gym, atau kelas yoga sering viral dan mendorong remaja ingin ikut serta.
Ketika mereka melihat teman sebaya aktif, muncul dorongan untuk tidak ketinggalan momen tersebut. Hal ini sesuai dengan riset Frontiers in Sports and Active Living yang menunjukkan bahwa FOMO dapat meningkatkan partisipasi anak muda dalam aktivitas fisik.
Baca Juga: Safety Riding FOMO #Cari_aman dari Astra Motor Kalbar Berlangsung Meriah
2. Dari Sekadar Ikut Jadi Kebersamaan
Awalnya, remaja mungkin ikut latihan fisik karena takut tertinggal.
Namun, setelah terlibat, mereka merasakan kebersamaan seperti bercanda saat futsal, saling menyemangati di gym, atau berbagi progres lari.
Budaya aktivitas fisik ini kemudian memperkuat ikatan sosial sekaligus menanamkan gaya hidup sehat.
3. Olahraga sebagai Identitas Generasi Muda
Banyak remaja menggunakan olahraga sebagai bagian dari identitas sosial mereka.
Memakai jersey klub, ikut komunitas lari, atau posting hasil workout di Instagram bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan simbol gaya hidup modern.
FOMO membuat aktivitas fisik semakin relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
4. FOMO yang Berbuah Positif
Tidak semua Fear of Missing Out mengarah ke arah negatif. Dalam konteks aktivitas fisik, FOMO bisa menjadi dorongan untuk mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, dan menjaga kesehatan tubuh.
Bahkan, menurut Psychology Today, ketika FOMO diarahkan pada aktivitas produktif, ia mampu menumbuhkan kebiasaan positif yang konsisten.
FOMO Menjadi Motivasi
Fear of Missing Out memang sering dilihat sebagai sesuatu yang merugikan karena bisa memicu kecemasan dan ketergantungan pada media sosial. Tetapi, dalam aktivitas fisik, Fear of Missing Out bisa menjadi motivasi yang positif.
Penelitian dalam Frontiers in Public Health menemukan bahwa salah satu penyebab remaja berhenti beraktivitas fisik adalah hilangnya motivasi atau merasa tertekan oleh kompetisi berlebihan.
Rasa takut ketinggalan membuat anak muda tetap ingin ikut serta, entah itu main futsal, nge-gym, atau sekadar lari santai di CFD.
Jika diarahkan dengan tepat, Fear of Missing Out olahraga bisa menjadi jalan bagi anak muda untuk:
1. Jaga Kesehatan Fisik Melalui Aktivitas yang Konsisten
Fear of Missing Out olahraga dapat menjadi pintu masuk yang efektif bagi anak muda untuk mulai bergerak. Ketika mereka melihat teman-teman rutin berlari, pergi ke gym, atau mengikuti kelas aktivitas fisik tertentu, muncul dorongan untuk tidak mau ketinggalan.
Awalnya mungkin sekadar ikut-ikutan, tetapi lama-kelamaan aktivitas ini bisa menjadi rutinitas. Ia mampu mengubah rasa takut tertinggal menjadi motivasi untuk membangun kebiasaan sehat, misalnya olahraga rutin tiga kali seminggu atau mencoba pola hidup lebih aktif dalam keseharian.
2. Perkuata Kesehatan Mental dengan Rasa Kebersamaan dan Dukungan Sosial
Olahraga selalu memiliki dimensi kebersamaan. Ketika anak muda bergabung dalam komunitas lari, klub futsal, atau kelas yoga, mereka tidak hanya berolahraga, tetapi juga membangun hubungan sosial baru.
Takut ketinggalan tren mendorong mereka untuk ikut serta, dan begitu berada di dalamnya, ikatan sosial yang terjalin bisa menjadi alasan kuat untuk bertahan.
Rasa memiliki (sense of belonging) ini sangat penting bagi perkembangan remaja, karena mereka merasa diterima, disemangati, dan punya teman yang berbagi tujuan sama. Jadi, Fear of Missing Out aktivitas fisik bisa melahirkan komunitas positif sekaligus memperkuat jaringan pertemanan.
Baca Juga: Tak Perlu Keluar Rumah, Bakar Lemak dengan 5 Olahraga Ini: Mudah dan Efektif!
3. Tidak Hanya sebagai Pengikut Tren, Tetapi Bagian dari Komunitas yang Sehat dan Aktif
Bagi generasi muda, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari identitas diri.
Mengunggah progres aktivitas fisik di media sosial, mengenakan atribut tim favorit, atau menjadi anggota komunitas aktivitas fisik tertentu dapat mencerminkan gaya hidup yang aktif dan sehat.
Takut ketinggalan tren berperan sebagai pendorong awal untuk ikut terlibat, tetapi kemudian berkembang menjadi identitas positif.
Anak muda yang terlibat dalam budaya olahraga bukan hanya “ikut tren,” melainkan juga menjadi bagian dari gerakan kolektif yang menormalisasi gaya hidup sehat.
Identitas ini penting karena bisa memberi pengaruh luas, mendorong teman sebaya dan bahkan adik kelas untuk ikut serta menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik.
Pada akhirnya, FOMO latihan fisik tidak harus dilihat sebagai hal negatif. Sebaliknya, takut ketinggalan tren bisa menjadi awal gaya hidup sehat, solidaritas sosial, dan meningkatkan kualitas hidup anak muda Indonesia. (*)
Editor : Miftahul Khair