PONTIANAK POST - Istilah puber kedua kerap dipakai masyarakat Indonesia untuk menggambarkan perubahan sikap orang dewasa, khususnya di usia paruh baya, yang tiba-tiba kembali berperilaku seperti anak muda.
Dalam psikologi, fase ini dikenal sebagai midlife crisis. Menurut Psychology Today, midlife crisis biasanya muncul di usia 40–50 tahun, ketika seseorang mulai mempertanyakan pencapaian hidupnya, merasa waktu berjalan terlalu cepat, dan khawatir tidak lagi punya kesempatan mengejar hal-hal yang diinginkan.
Fenomena ini bisa memunculkan beragam perilaku baru: mulai dari perubahan gaya hidup, hobi ekstrem, membeli barang-barang mahal, hingga mencari perhatian dari orang lain. Bagi sebagian orang tua, fase ini menjadi tantangan besar karena mereka merasa kehidupannya datar dan penuh rutinitas.
Sayangnya, jika tidak ditangani dengan baik, puber kedua ini bisa memicu perselingkuhan. Menurut penelitian yang dibahas di The Gottman Institute, masalah yang sering muncul di usia paruh baya adalah berkurangnya komunikasi, menurunnya kepuasan emosional, dan perasaan kehilangan kedekatan dengan pasangan.
Kombinasi faktor psikologis dan relasi inilah yang membuat sebagian orang mengambil jalan pintas dengan mencari validasi atau kehangatan dari orang lain di luar rumah tangga.
Dengan kata lain, puber kedua bukan sekadar soal gaya hidup, tapi juga berhubungan langsung dengan stabilitas emosi dan kualitas hubungan pernikahan.
Mengapa Puber Kedua Rentan Picu Perselingkuhan?
1. Kebutuhan Akan Validasi Baru
Individu yang sedang berada di fase midlife crisis sering kali merasa tidak lagi menarik atau kehilangan daya tarik yang dulu mereka miliki.
Hal ini mendorong mereka mencari validasi dari luar pernikahan, termasuk lewat perhatian dari orang lain.
2. Kejenuhan dalam Pernikahan
Hasil penelitian dari The Gottman Institute menunjukkan bahwa rasa monoton dan minimnya komunikasi emosional bisa memperbesar risiko perselingkuhan.
Orang tua yang memasuki puber kedua kadang merasa kehidupannya terlalu rutin, sehingga mencari sensasi baru di luar.
3. Keinginan Mengulang Masa Muda
Puber kedua sering ditandai dengan perilaku seperti membeli barang mahal, berganti gaya hidup, atau mencari pasangan baru.
Tujuannya bukan semata ingin selingkuh, tetapi ingin merasa hidup kembali seperti saat remaja.
Baca Juga: Ingin Rumah Tangga Selalu Rukun? Simak Cara Membangun Keluarga Bahagia Menurut Al-Qur’an
4. Krisis Identitas
Banyak orang tua di usia 40–50 tahun mengalami dilema identitas, apakah hidup mereka sudah sesuai harapan?
Jika jawabannya “tidak”, sebagian mencari pelarian dengan cara yang salah, termasuk berselingkuh.
Cara Menyikapi Pasangan yang Mengalami Puber Kedua
1. Pahami bahwa Puber Kedua adalah Fase Normal
Midlife crisis tidak selalu berarti masalah besar. Menurut Psychology Today, ini adalah fase transisi alami yang membuat seseorang ingin mencari makna baru dalam hidup.
Dengan memahami bahwa ini normal, pasangan tidak perlu langsung panik atau berpikir negatif ketika melihat perubahan perilaku.
2. Bangun Komunikasi yang Sehat dan Terbuka
Perselingkuhan sering kali terjadi karena kebutuhan emosional tidak terpenuhi. The Gottman Institute menekankan pentingnya open communication.
Jika pasangan terlihat berubah, tanyakan dengan lembut apa yang ia rasakan apakah bosan, stres, atau merasa tidak dihargai. Hindari nada menghakimi agar pasangan merasa aman untuk jujur.
3. Berikan Dukungan, Bukan Konfrontasi
Banyak orang yang mengalami puber kedua hanya butuh validasi dan dorongan positif.
Alih-alih melarang atau mengkritik, lebih baik tunjukkan dukungan, misalnya dengan ikut mencoba hobi barunya, memuji penampilannya, atau menghargai upaya mereka untuk berubah.
Dukungan kecil ini bisa membuat pasangan merasa tetap dicintai tanpa perlu mencari validasi di luar.
4. Hidupkan Kembali Kehangatan dalam Hubungan
The Gottman Institute menyoroti bahwa emotional connection adalah kunci mempertahankan pernikahan.
Cobalah mengulang momen indah masa lalu seperti pergi kencan berdua, liburan singkat, atau sekadar makan malam romantis di rumah.
Hal-hal sederhana ini bisa mengingatkan kembali bahwa kehangatan rumah tangga masih ada.
5. Tetapkan Batasan yang Jelas
Memahami puber kedua bukan berarti membiarkan perilaku yang menyakiti pasangan.
Jika ada tanda-tanda perselingkuhan, penting untuk menetapkan batasan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Batasan ini menjaga agar krisis tidak berubah menjadi pengkhianatan.
6. Pertimbangkan Konseling Pernikahan
Jika konflik sulit diselesaikan berdua, konseling bisa menjadi jalan keluar.
Konselor pernikahan atau psikolog dapat membantu pasangan menggali akar masalah, memahami kebutuhan emosional masing-masing, dan merancang strategi untuk memperkuat hubungan.
7. Rawat Diri Sendiri
Jangan lupa, menghadapi pasangan yang sedang puber kedua bisa melelahkan. Maka penting juga untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri.
Caranya dengan tetap memiliki aktivitas positif, bergaul dengan lingkungan yang suportif, atau mengikuti kegiatan yang membuat bahagia. Dengan begitu, pasangan tetap kuat menghadapi dinamika rumah tangga. (*)
Editor : Miftahul Khair