PONTIANAK POST - Bekerja dari cafe belakangan menjadi tren di kalangan pekerja remote, freelancer, hingga karyawan hybrid. Suasana yang berbeda dari kantor atau rumah sering dianggap bisa meningkatkan mood dan kreativitas.
Namun, ada juga yang menilai bahwa work from cafe hanya sekadar gaya hidup kekinian tanpa benar-benar meningkatkan produktivitas.
Lalu, benarkah bekerja dari cafe memang bermanfaat, atau hanya ilusi semata?
Suasana Cafe dan Dorongan Kreativitas
Menurut data yang dirujuk dari artikel The Ladders suasana cafe dengan tingkat kebisingan yang ringan justru bisa membantu otak bekerja lebih kreatif.
Penelitian menunjukkan bahwa suara latar yang tidak terlalu bising dapat memicu otak untuk berpikir lebih “out of the box”.
Lingkungan yang berbeda dari kantor formal membuat otak keluar dari rutinitas, sehingga ide-ide segar lebih mudah muncul.
Jadi, bagi pekerja kreatif seperti penulis, desainer, atau content creator, coffee shop bisa menjadi tempat yang tepat untuk mencari inspirasi.
Kelebihan dan Kekurangan Work From Cafe
Namun, bekerja dari cafe tentu tidak hanya soal suasana yang mendukung kreativitas. Terdapat sisi positif dan negatif yang harus dipertimbangkan.
Dari sisi kelebihan, cafe menawarkan suasana baru, fasilitas internet, serta nuansa sosial yang bisa mengurangi rasa sepi saat bekerja sendirian.
Akan tetapi, ada juga kelemahan seperti biaya tambahan untuk membeli makanan atau minuman, keterbatasan privasi, hingga risiko gangguan jika cafe terlalu ramai.
Artinya, produktif atau tidaknya seseorang saat bekerja dari coffee shop sangat bergantung pada bagaimana ia mengatur kondisi dan kebutuhannya.
Faktor Psikologis yang Mendorong Produktivitas
Menurut aspek psikologis mengapa cafe bisa menjadi tempat produktif. Mereka menyebutkan bahwa adanya “tekanan sosial” karena berada di ruang publik membuat orang terdorong untuk tetap fokus pada pekerjaannya.
Saat dikelilingi orang lain yang juga sibuk dengan aktivitasnya, seseorang cenderung ingin terlihat serius bekerja daripada bermalas-malasan.
Selain itu, berpindah tempat dari rumah ke cafe juga memberi sinyal baru bagi otak untuk masuk ke mode kerja, mirip dengan kebiasaan commuting ke kantor.
Meski begitu, efektivitasnya sangat subjektif dan dipengaruhi kondisi masing-masing individu.
Bagi sebagian orang, coffee shop bisa menjadi ruang kerja alternatif yang produktif, sementara bagi yang lain mungkin justru penuh distraksi.
Kuncinya ada pada bagaimana kita menyesuaikan lingkungan kerja dengan kebutuhan pribadi agar benar-benar bisa mendukung produktivitas. (*)
Editor : Miftahul Khair