PONTIANAK POST - Hubungan cinta seringkali dipersepsikan identik dengan romansa, gairah, dan ketertarikan fisik.
Namun, penelitian psikologi menyatakan bahwa faktor yang paling menentukan kebahagiaan dan ketahanan sebuah hubungan justru bukan semata perasaan cinta, melainkan juga kualitas persahabatan di dalamnya.
Pasangan yang mampu bersikap sebagai teman sekaligus kekasih terbukti lebih bahagia, lebih tahan menghadapi konflik, dan cenderung memiliki hubungan jangka panjang yang sehat.
Berbagai studi, mulai dari riset psikologi hubungan di The Gottman Institute, temuan akademis dari Oxford Research, hingga penelitian terbaru di Colorado State University, konsisten menegaskan bahwa unsur friendship dalam cinta memainkan peran penting bagi keberlangsungan hubungan.
Bahkan penulis dan konsultan hubungan seperti Mark Manson menekankan bahwa pasangan yang menganggap satu sama lain sebagai sahabat lebih mudah melewati tantangan hidup bersama.
Berikut pandangan para ahli yang menyatakan bahwa jalinan yang didasari persahabatan lebih awet dan bahagia:
1. Persahabatan sebagai Fondasi Hubungan
Menurut The Gottman Institute, salah satu lembaga penelitian terkemuka di bidang pernikahan dan ikatan, friendship adalah inti dari sebuah hubungan romantis yang sehat.
Pasangan yang bisa berbicara seperti teman, bercanda bersama, dan menghargai satu sama lain akan lebih mudah melewati konflik.
Gottman menekankan bahwa teman dekat memberi dasar kepercayaan, respek, dan rasa kebersamaan yang membuat cinta bertahan lama.
2. Cinta dan Persahabatan
Penelitian yang dipublikasikan di Oxford Research Encyclopedia of Psychology menunjukkan bahwa persahabatan dan cinta saling terkait erat sepanjang hidup manusia.
Jalinan yang menggabungkan aspek romantis dan persahabatan cenderung meningkatkan kesejahteraan emosional.
Pasangan yang menganggap satu sama lain sebagai teman dekat lebih mampu bertahan dari tekanan eksternal, seperti masalah finansial atau pekerjaan, dibanding ikatan yang hanya berlandaskan ketertarikan fisik.
Baca Juga: Terapkan Slow Living Mulai dari Hal Sederhana Ini, Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna
3. Lebih Bahagia Jika Pasanganmu Sekaligus Sahabat
Penelitian dari Colorado State University (CSU) menemukan bahwa orang yang menganggap pasangan romantisnya juga sebagai best friend merasa lebih bahagia dalam pernikahan maupun pacaran.
Hubungan seperti ini menciptakan rasa nyaman dan aman, sehingga pasangan tidak hanya berbagi momen romantis, tapi juga aktivitas sehari-hari dengan gembira.
Bahkan, rasa “bersahabat” ini disebut menjadi salah satu indikator utama ikatan jangka panjang yang sehat.
4. Pentingnya Dukungan Emosional dalam Hubungan
Menurut MyPeoplePatterns, salah satu bentuk nyata dari jalinan yang menyerupai teman dekat adalah dukungan emosional.
Pasangan yang bersikap seperti teman cenderung lebih terbuka, tidak menghakimi, dan mampu mendengarkan dengan penuh empati.
Hal ini menciptakan ikatan emosional yang kuat, sehingga pasangan lebih mudah membicarakan masalah tanpa takut ditolak.
5. Observasi 1.500 Pasangan
Penulis dan konsultan hubungan Mark Manson pernah mengumpulkan dari lebih dari 1.500 pasangan untuk melakukan observasi.
Salah satu temuan terkuatnya adalah bahwa ikatan terbaik dibangun bukan hanya dengan cinta, tapi juga dengan persahabatan.
Pasangan yang menganggap satu sama lain sebagai teman dekat lebih mudah menerima kekurangan, lebih sering tertawa bersama, dan memiliki tingkat kepuasan yang tinggi dalam jangka panjang.
Jalinan seperti ini bukan berarti kehilangan romantisme, justru sebaliknya, rasa nyaman yang lahir dari persahabatan memperkuat cinta yang ada.
Dengan menjadikan pasangan juga sebagai sahabat, kita tidak hanya berbagi cinta, tetapi juga tawa, dukungan, dan perjalanan hidup bersama. (*)
Editor : Miftahul Khair